Kesehatan adalah harta yang sangat berharga. Karenanya, kesehatan harus dijaga tanpa harus menunggu sakit. Selain asupan yang bergizi, suplementasi dengan multivitamin mineral juga dianjurkan sebagai upaya untuk menjaga kesehatan. Di antara suplemen kesehatan yang terus berkembang di masyarakat, karnosin merupakan suplemen berupa isolat yang dikenal oleh kalangan masyarakat tertentu. Bagi kalangan atlet dan penggiat olah raga, nama karnosin atau L-karnosin tentu tidak asing. Klaim L-karnosin sebagai suplemen dalam mendukung metabolisme dan pembentukan otot sudah dikenal luas.
Jika dijelaskan secara sederhana, L-karnosin merupakan protein atau peptida yang memang sudah ada dan dihasilkan oleh tubuh kita. Meskipun dapat disuplementasikan ke dalam tubuh kita, L-karnosin sebenarnya terdeposit secara alami dalam jumlah besar pada organ vital seperti otak maupun otot, termasuk otot jantung. Banyak penelitian menunjukkan fungsi penting L-karnosin dalam kinerja otot dan jantung. Sebagai contoh hal ini ditunjukkan dengan ditemukannya perubahan jumlah L-karnosin dalam sel-sel miokardium pada kondisi gangguan kardiovaskuler. Dalam penelitian di bidang biomedik, L-karnosin telah banyak dilaporkan memiliki efek positif pada perbaikan metabolisme dan perlindungan dari kerusakan sel tubuh. Penelitian terkait L-karnosin telah lama dikembangkan pada berbagai kondisi penyakit. Mulai body building, penyakit metabolik, gangguan neurologis hingga beberapa dekade terakhir dihubungkan dengan efek positifnya pada kondisi kanker.
Tidak terkecuali pada penyakit yang berhubungan dengan penuaan atau penyakit degeneratif, L-karnosin dalam publikasi oleh Sureshkumar dkk, (2023) menunjukkan bahwa telah ada 9 studi klinik dengan metode RCT yang dapat dianalisa lebih lanjut untuk mengetahui kebermaknaan suplementasi L-karnosin pada beberapa jenis penyakit yang berhubungan dengan penuaan. Mayoritas studi klinik yang dianalisa dalam studi ini menggunakan kombinasi L-karnosin dan anserin. Anserin merupakan derivat karnosin yang umumnya digunakan untuk kombinasi dikarenakan derivat ini lebih tahan terhadap enzim pemecah karnosin. Beberapa studi lainnya menggunakan kombinasi karnosin dan Zinc, kombinasi yang dilaporkan memiliki sifat proteksi pada kesehatan saluran cerna.
Analisa dengan menggunakan data-data klinik terhadap penggunaan karnosin, baik penggunaan tunggal maupun kombinasi dengan suplemen lain, pada kondisi diabetes menunjukkan bahwa karnosin meningkatkan outcome terapi untuk pasien diabetes diukur dari tingkat gula darah puasa dan juga HbA1c, parameter laboratorik yang biasa digunakan untuk mengukur keberhasilan terapi dan kepatuhan pasien diabetes dalam jangka waktu 3 bulanan. Penelitian ini menunjukkan bahwa karnosin tidak hanya mampu meningkatkan outcome terapi diabetes namun juga mencegah kompliasi nefropati. Efek pencegahan pembentukan radikal bebas dan penghambatan respon inflamasi dari L-karnosin lah yang mungkin mendasari sifat protektifnya dari kondisi diabetes dan komplikasinya.
Bukti-bukti penelitian preklinik menunjukan tingginya potensi keterlibatan suplementasi L-karnosin pada perbaikan penyakit jantung. Di dalam sel miokardium di jantung misalnya, jalur metabolisme karnosin diatur oleh enzim karnosin sintase dan karnosinase. Karnosin sitase bertugas mengkatalisis beta-alanin dan l-histidin menjadi karnosin. Kinerja enzim ini pada sel-sel otot jantung atau miokardium didukung oleh ketersediaan beta alanin baik yang diproduksi oleh tubuh sendiri maupun yang diasup dalam bentuk suplemen. Beta-alanin sendiri telah lama dilaporkan memiliki efek proteksi pada jantung, sehingga asupan carnosin juga diduga mampu memberikan dampak yang serupa. Di sisi lain, pada studi Sureshkumar dkk, (2023) juga secara terbatas menunjukkan bahwa hasil studi klinik dengan metode randomized controlled trial tidak menunjukkan bahwa intervensi penggunakan suplementasi L-karnosin pada kondisi gangguan kardiovaskuler mampu memberi dampak positif pada pasien. Hal ini menambah khasanah diskusi mengenai potensi L-karsonin sebagai suplemen yang potensial bagi kondisi gangguan kardiovaskuler. Terlebih bahwa studi ini juga menunjukkan bahwa suplementasi L-karnosin mampu meningkatkan exercise capacity dari pasien-pasien gangguan kardiovaskuler.
Fakta lain yang muncul dalam penelitian ini adalah adanya efek perbaikan yang ditimbulkan oleh suplemen L-karnosin pada kondisi neuropati yang dialami pasien kanker yang diterapi dengan obat kemoterapi. Neuropati adalah salah satu efek samping yang mungkin timbul pasca pasien kanker menerima kemoterapi. Meskipun dalam penelitian tersebut belum ditemukan fakta bahwa L-karnosin mampu mendukung keberhasilan kemoterapi pada kondisi kanker, namun efek neuroproteksi dari L-karnosin telah dibuktikan dalam ranah studi klinik, mendukung temuan-temuan studi praklinik yang dipublikasikan sebelumnya. Fakta-fakta tersebut di atas menunjukkan bahwa potensi karnosin masih sangat luas dan menarik untuk dikaji dan digali melalui berbagai penelitian.
Ditulis oleh Chrismawan Ardianto, PhD., Apt
Berdasarkan publikasi Sureshkumar K., et al, Front. Biosci. (Landmark Ed) 2023, 28(1), 18;





