UNAIR NEWS – 51动漫 (UNAIR) terus mengembangkan fasilitas pendukung akademik, salah satunya dengan pembentukan (LDB). Pembentukan LDB UNAIR merupakan bentuk tindak lanjut dari penerimaan peralatan laboratorium mutakhir dari dana bantuan Overseas Economic Cooperation Fund (OECF) Jepang pada akhir 1987. LDB berfungsi sebagai pusat penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan serta mendukung kegiatan akademik di lingkungan kampus.
Demi memastikan pengelolaan yang optimal, Rektor UNAIR masa itu, Prof Dr Soedarso Djojonegoro, mengeluarkan Surat Keputusan Nomor 2222/PT03.H/E/1988 tentang pembentukan LDB. Rektor saat itu juga membentuk dan mengangkat tim pengelola yang bertanggung jawab atas pelaksanaan dan fungsi laboratorium. Seiring berjalannya waktu, LDB tidak hanya melayani kebutuhan internal universitas, tetapi juga memberikan layanan jasa laboratorium bagi pihak eksternal, termasuk lembaga penelitian, industri, dan masyarakat umum.
Perkembangan
Dalam perkembangannya, LDB pada awalnya berlokasi di Kampus Dharmawangsa-B lalu pindah ke Kampus MERR-C. Laboratorium ini kemudian berada di bawah setelah restrukturisasi fakultas. Langkah ini bertujuan untuk memperluas akses bagi mahasiswa dan peneliti dalam memanfaatkan fasilitas laboratorium yang semakin berkembang.
Gedung lama LDB telah beralih fungsi menjadi (GKB) atau terkenal dengan GKB Ex. LDB. Layaknya GKB lainnya, gedung ini juga menyediakan ruang transit dosen, ruang rapat, dan ruang aktivitas mahasiswa yang digunakan secara bersama. Dalam satu hari, gedung ini dapat menampung kurang lebih 800-820 mahasiswa.
Di gedung ini, beberapa ruang kelas dimanfaatkan oleh beberapa fakultas secara bersama. Seperti (FISIP), (FPsi), serta (FIB). Gedung ini pun mendapat perubahan nama menjadi Gedung Jenggala. Pergantian nama ini berasal dari Kerajaan Jenggala, sebuah entitas sejarah yang pernah memainkan peranan penting di wilayah Jawa Timur.
Keputusan perubahan nama gedung lama LDB ini bertujuan untuk menghormati dan mengingat kembali kejayaan serta kontribusi sejarah dari kerajaan tersebut. Hal ini menjadi bukti nyata UNAIR memperkaya identitas akademik dan penghormatan warisan budaya.
Penulis: Yang Ramadia Nurya Syifa
Editor: Yulia Rohmawati





