Laparoskopi banyak digunakan dalam intervensi bedah karena keuntungannya, seperti teknik yang minimal invasif, hasil estetika yang lebih baik, dan durasi rawat inap yang lebih singkat. Namun, laparoskopi dapat menyebabkan atelektasis, terutama di bagian bawah paru-paru, akibat pneumoperitoneum dan posisi Trendelenburg. Hal ini juga dapat meningkatkan tekanan mekanis pada jaringan paru-paru, yang berpotensi menyebabkan disfungsi paru yang cukup besar selama periode pascaoperasi. Parameter ventilasi mekanik yang tidak memadai selama anestesi umum dapat memperburuk, bahkan memicu, kerusakan paru-paru pada individu dengan paru-paru sehat, sehingga terjadi ventilator-induced lung injury (VILI).
Insuflasi COâ‚‚ dalam rongga perut menyebabkan diafragma menekan paru-paru. Kondisi ini meningkatkan tekanan intratoraks dan menurunkan compliance sistem pernapasan, yang terkait dengan hipoksemia, atelektasis, edema, dan barotrauma. Maneuver rekrutmen untuk mengurangi tingkat atelektasis dapat meningkatkan tekanan paru-paru, yang dapat menyebabkan disfungsi paru pascaoperasi. Tekanan intra-abdomen yang tinggi meningkatkan risiko kerusakan paru-paru, menghasilkan pelepasan sitokin inflamasi dan reactive oxygen species (ROS).
Peneliti telah mengidentifikasi protein surfaktan-D (SP-D) serum sebagai biomarker spesifik paru untuk penyakit paru akut. SP-D yang bersirkulasi dalam darah merupakan biomarker potensial untuk inflamasi paru, yang menyebabkan kerusakan epitel alveolus dan meningkatkan permeabilitas penghalang epitel alveolar.Hingga saat ini, belum ada penelitian yang menyelidiki dampak laparoskopi, khususnya pneumoperitoneum dan laparotomi, terhadap biomarker paru. Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis bermaksud untuk menyelidiki variasi kadar SP-D serum sebagai biomarker potensial untuk kerusakan paru pada operasi laparoskopi dan laparotomi ginekologi.
Penelitian ini merupakan studi observasional analitik yang bertujuan untuk menilai perubahan kadar serum surfaktan protein-D (SP-D) pada pasien yang menjalani operasi laparoskopi dan laparotomi ginekologi. Sampel penelitian terdiri dari pasien berusia 18 hingga 64 tahun dengan kategori American Society of Anesthesiologists (ASA) I-II yang tidak memiliki riwayat penyakit paru-paru, gangguan signifikan pada jantung, hati, atau ginjal, serta tidak menderita diabetes mellitus atau memiliki kebiasaan merokok. Seluruh pasien atau anggota keluarganya menyetujui untuk berpartisipasi dalam penelitian dengan menandatangani formulir persetujuan tertulis. Pasien dengan kondisi hemodinamik yang tidak stabil selama periode perioperatif, perubahan rencana operasi intraoperatif, atau durasi operasi kurang dari dua jam dikecualikan dari penelitian ini. Sampel yang memenuhi kriteria dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok laparoskopi dan kelompok laparotomi, yang keduanya menerima anestesi umum. Kadar serum SP-D diukur pada kedua kelompok setelah induksi dan dua jam setelah operasi untuk kemudian dianalisis secara statistik.
Analisis kadar surfaktan protein-D sebelum dan setelah operasi laparoskopi menggunakan uji T berpasangan ditunjukkan pada Tabel 2. Kadar surfaktan protein-D meningkat dari 133,27 ± 34,93 ng/mL sebelum operasi menjadi 154,80 ± 37,27 ng/mL setelah operasi, dengan perbedaan rata-rata sebesar 21,53 ng/mL. Secara statistik, perbedaan ini signifikan dengan nilai p = 0,021. Hasil analisis kadar surfaktan protein-D sebelum dan setelah operasi laparotomi disajikan dalam Tabel 3. Kadar surfaktan protein-D menurun dari 156,84 ± 34,93 ng/mL sebelum operasi menjadi 143,28 ± 37,27 ng/mL setelah operasi, dengan perbedaan rata-rata sebesar -13,56 ng/mL. Namun, secara statistik, perbedaan ini tidak signifikan dengan nilai p = 0,287. Perbedaan tingkat perubahan kadar surfaktan protein-D antara operasi laparoskopi dan laparotomi menggunakan uji T independen. Pada operasi laparoskopi, kadar surfaktan protein-D meningkat sebesar 21,53 ± 35,79 ng/mL, sedangkan pada laparotomi, terjadi penurunan sebesar -13,56 ± 52,29 ng/mL. Secara statistik, perbedaan antara kedua kelompok signifikan dengan nilai p = 0,026.
Operasi laparoskopi memengaruhi fungsi pernapasan pasien pascaoperasi, menunjukkan perubahan signifikan pada mekanisme pernapasan seperti peningkatan tekanan pernapasan dan penurunan compliance paru-paru. Studi ini menunjukkan bahwa kadar surfaktan protein-D meningkat secara signifikan pada pasien setelah operasi laparoskopi, yang mengindikasikan adanya cedera paru-paru. Sebaliknya, pada operasi laparotomi, kadar surfaktan protein-D menurun, meskipun perubahannya tidak signifikan. Faktor seperti pneumoperitoneum dan posisi Trendelenburg selama laparoskopi berkontribusi pada atelektasis, yang menyebabkan ketidakstabilan alveolus dan potensi cedera paru. Meskipun PEEP dapat digunakan untuk mempertahankan alveolus tetap terbuka, penggunaannya yang berlebihan dapat meningkatkan risiko barotrauma. Penelitian ini menegaskan bahwa kadar SP-D dapat digunakan sebagai biomarker untuk mendeteksi cedera paru lebih awal dan membantu dalam pemantauan klinis pascaoperasi.
Kesimpulannya yaitu setelah dua jam pneumoperitoneum, kadar surfaktan protein-D (SP-D) meningkat dibandingkan kadar awalnya. Namun, penelitian ini menemukan bahwa tidak ada perbedaan signifikan kadar SP-D sebelum dan setelah operasi laparotomi ginekologi. Kadar SP-D meningkat selama laparoskopi, tetapi menurun setelah laparotomi. Hal ini menunjukkan bahwa laparoskopi cenderung menyebabkan cedera paru lebih signifikan dibandingkan laparotomi, yang dapat dipantau melalui kadar SP-D sebagai biomarker spesifik untuk cedera paru.
Penulis: Dr. Christrijogo Soemartono W., dr., SpAn-TI., Subsp. An.R(K)., Subsp. TI(K)
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Fadillah MA, Sumartono C, Maulydia, Kriswidyatomo P, Santoso KH, Mahmudah. Difference of Surfactant Protein-D in Laparoscopy and Laparotomy Gynecology Surgery. Pak J Life Soc Sci. 2024;22(2):5606“12.





