51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Peran Anestesiologi dalam Penanganan Sindrom Trephined: Pemulihan Neurologis Pasien Pascakraniektomi

Peran Anestesiologi dalam Penanganan Sindrom Trephined: Pemulihan Neurologis Pasien Pascakraniektomi
Sumber: HealthTrip

Sindrom Trephined adalah kondisi neurologis yang sering terjadi sebagai komplikasi kraniektomi. Istilah ini pertama kali digunakan oleh Grant pada tahun 1939 untuk menggambarkan gejala-gejala seperti kejang, sakit kepala, depresi, dan ketidaknyamanan di lokasi cacat tengkorak. Gejala-gejala ini biasanya hilang setelah pasien menjalani operasi kranioplasti. Yamaura dan Makino kemudian memperkenalkan istilah “Sinking Skin Flap Syndrome” untuk menggambarkan kondisi serupa pada pasien dengan cacat tulang tengkorak akibat kraniektomi. Studi lebih lanjut menunjukkan bahwa Sindrom Trephined disebabkan oleh tekanan atmosfer langsung pada jaringan otak di bawah cacat tengkorak. Gejala yang paling umum adalah kelemahan motorik, diikuti oleh gangguan kognitif, gangguan bahasa, sakit kepala, kejang, gangguan saraf kranial, vertigo, serta gangguan suasana hati.

Pasien pria berusia 58 tahun pertama kali dirawat akibat kehilangan kesadaran mendadak yang disertai muntah dan kejang. CT scan menunjukkan adanya perdarahan intraventrikular (IVH) dan hidrosefalus. Pasien menjalani pemasangan EVD (External Ventricular Drain), yang kemudian diganti menjadi VP shunt. Setelah operasi ini, pasien dipulangkan dalam kondisi dapat berjalan. Satu bulan kemudian, pasien kembali dengan keluhan sakit kepala berat, muntah, dan penurunan kesadaran selama 7 jam sebelum masuk rumah sakit. Pemeriksaan CT scan menunjukkan hematoma subdural dengan pergeseran garis tengah sebesar 1,3 cm ke kiri. Pasien menjalani operasi kraniotomi untuk evakuasi hematoma, osteoplasti, dan ligasi VP shunt. Namun, kondisinya memburuk dua hari pascaoperasi karena perdarahan ulang, sehingga dilakukan kraniektomi dekompresi.

Lima bulan setelahnya, pasien kembali dengan keluhan kelemahan umum, cacat cekung pada tulang tengkorak sisi kiri, dan afasia. Pemeriksaan fisik menunjukkan kelemahan pada ekstremitas kanan, tetapi fungsi hemodinamik dan respirasi dalam batas normal. MRI kepala menunjukkan edema di area sekitar cacat tulang, tekanan pada ventrikel lateral kiri, dan pergeseran garis tengah sebesar 1,5 cm ke kanan. Pasien menjalani operasi kranioplasti autograft di bawah anestesi umum yang dikombinasikan dengan blok kulit kepala menggunakan Ropivacaine 0,5%. Selama operasi, anestesi inhalasi Sevoflurane digunakan untuk mempertahankan stabilitas hemodinamik. Prosedur berjalan selama 4 jam tanpa komplikasi. Setelah operasi, hasil MRI menunjukkan penurunan pergeseran garis tengah, pemulihan kesadaran, serta pengurangan kelemahan pada ekstremitas kanan. Pasien dipulangkan tiga hari setelah operasi untuk melanjutkan rehabilitasi.

Sindrom Trephined melibatkan beberapa mekanisme patofisiologi yang mendasari gejala neurologisnya. Salah satu teori utama adalah kompresi korteks akibat tekanan atmosfer pada jaringan otak yang terekspos melalui cacat tulang tengkorak. Tekanan ini dapat menyebabkan deformasi otak, mengganggu fungsi neurologis, dan meningkatkan risiko edema otak. Selain itu, gangguan aliran cairan serebrospinal juga dapat terjadi akibat perubahan tekanan di rongga intrakranial, yang berkontribusi pada gangguan metabolisme otak dan peningkatan tekanan intrakranial. Penurunan aliran darah otak, metabolisme glukosa yang tidak efisien, dan pengurangan kapasitas cadangan serebrovaskular juga memainkan peran dalam memperburuk gejala klinis. Terapi definitif untuk Sindrom Trephined adalah kranioplasti, yang telah terbukti memperbaiki aliran cairan serebrospinal, menormalkan tekanan intrakranial, dan meningkatkan metabolisme otak. Prosedur ini tidak hanya mengurangi gejala neurologis tetapi juga membantu pemulihan hemodinamik otak, menghasilkan perbaikan yang signifikan dalam waktu singkat pascaoperasi.

Dokter anestesi memainkan peran sentral dalam manajemen pasien dengan Sindrom Trephined, terutama selama prosedur kranioplasti. Dalam fase praoperasi, anestesiolog bertanggung jawab untuk menilai kondisi umum pasien, memastikan stabilitas hemodinamik, dan mempersiapkan strategi anestesi yang sesuai. Selama induksi, penggunaan Propofol membantu memberikan sedasi yang halus sekaligus mengurangi risiko peningkatan tekanan intrakranial. Kombinasi dengan Lidokain sebelum intubasi bertujuan meminimalkan respon simpatik. Selama operasi, Sevoflurane dipilih sebagai agen anestesi utama karena kemampuannya untuk mempertahankan stabilitas kardiovaskular, mendukung autoregulasi otak, dan memungkinkan kontrol kedalaman anestesi yang fleksibel. Blok kulit kepala dengan Ropivacaine 0,5% juga diterapkan untuk mengurangi kebutuhan opioid pascaoperasi dan memberikan analgesia yang efektif hingga 12 jam setelah operasi. Pada fase pascaoperasi, anestesiolog memastikan proses ekstubasi dilakukan dengan hati-hati untuk mencegah peningkatan tekanan intrakranial akibat batuk atau agitasi, menggunakan obat-obatan seperti Propofol atau Remifentanil jika diperlukan. Pendekatan multidisiplin ini memungkinkan stabilitas intraoperatif, pemulihan yang lebih cepat, serta hasil klinis yang optimal bagi pasien.

Kesimpulannya yaitu Sindrom Trephined adalah komplikasi serius yang membutuhkan manajemen multidisiplin. Kranioplasti, sebagai terapi definitif, menawarkan perbaikan signifikan pada gejala neurologis. Peran anestesiolog sangat penting dalam memastikan stabilitas selama operasi dan mempercepat pemulihan pasien. Pendekatan terpadu ini memberikan hasil yang optimal bagi pasien pascakraniektomi.

Penulis: Dr. Christrijogo Soemartono W., dr., SpAn-TI., Subsp. An.R(K)., Subsp. TI(K)

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

Wahyudi W, Santosa DA, Semedi BP, Waloejo CS, Santoso KH. The Syndrome of Trephined: Role of the Anesthesiologists in Overcoming the Physiological Changes. Pak J Life Soc Sci. 2024;22(2):2073“8.

AKSES CEPAT