Hipogonadisme hipogonadotropik kongenital (CHH) adalah kelainan bawaan langka yang disebabkan oleh kekurangan produksi atau sekresi Gonadotropin-Releasing Hormone (GnRH) yang merupakan hormon utama yang mengatur sistem reproduksi. Hipogonadisme pada pria merupakan sindrom klinis darikegagalan untuk menghasilkan konsentrasi fisiologis testosteron, jumlah normalsperma, atau keduanya. Hipogonadisme dapat terjadi dari disfungsi testis(hipogonadisme primer) atau disfungsi hipotalamik-hipofisis (hipogonadismesekunder).
Kelainan ini memiliki manifestasi klinis yang bervariasi tergantung pada waktu timbulnya defisiensihormone androgen tersebut, apakah adanya defek pada produksi testosteron atau pembentukan sperma, faktorgenetik terkait, atau adanya riwayat terapi androgen. Secara klinis, kelainan iniditandai dengan tidak adanya pubertas dan gangguan fertilitas. Diagnosis klinis hipogonadismedibuat atas dasar tanda-tanda dan gejala yang konsisten dengan defisiensi androgendan konsentrasi testosteron pagi yang rendah pada serum pasien.
Hubungan CHH dengan indera penciuman yang rusak (anosmia atau hiposmia),
dapat ditemukan pada ~ 50% pasien CHH disebut sindrom Kallmann. Kelainan ini menjadi tantangan untuk menegakkan diagnosis, terutama ketika membedakannya dari pubertas konstitusional yang tertunda. Diagnosis dan pengobatan yang tepat waktu untuk mendorong pubertas dapat bermanfaat bagi fungsi seksual, tulang, dan metabolisme, dan mungkin membantu meminimalkan beberapa efek psikologis CHH.
Pada kasus yang diangkat disini adalah seorang laki-laki muda yang datang berobat karena ukuran alat kelamin yang tidak sesuai untuk usianya dan libido yang tidak sesuai usianya. Pasien juga memiliki testis lengkap kanan dan kiri namun ukurannya kecil. Pasien menyadari tidak tumbuhnya kumis dan jenggot sejak remaja, didapatkan libido juga berkurang. Pasien menyukai olahraga namun jika pasien olahraga pasien merasa mudah kelelahan. Keluhan ketidakmampuan mencium aroma bau-bauan juga dirasakan sejak kecil. Tidak adanya keluhan penurunan pendengaran maupun keluhan bibir sumbing. Pada saat pasien berusia 15 tahun, pasien sudah pernah memeriksakan diri dan didapatkan nilai kadar hormone testoteron dalam darah yang rendah. Kemudian pasien mendapatkan injeksi testosteron satu kali dengan respon setelah injeksi testosterone tersebut didapatkan tanda pertumbuhan seksual hingga umur 18 tahun, namun pasien tidak mendapatkan injeksi testosteron lagi, sehingga tanda-tanda seks laki-laki tidak berkembang kembali. Suara pasien seperti anak kecil dan rambut tubuh tidak tumbuh kembali. Pada pemeriksaan fisik didapatkan mikropenis dan mikrotestis (ukuran penis dan testis yang kecil), serta tidak tumbuhnya rambut pada tubuh.
Hipogonadisme hipogonadotropik kongenital (CHH) akan ditandai dengan pubertas yang tidak lengkap, libido yang rendah, atau adanya infertilitas. CHH dapat muncul hanya sebagai defisiensi GnRH bawaan atau terkait dengan kelainan perkembangan lainnya seperti celah bibir atau palatum, agenesis gigi,kelainan telinga, gangguan pendengaran kongenital, agenesis ginjal, sinkinesis bimanual atau anomali skeletal.
Tes skrining terbaik untuk diagnosis hipogonadisme adalah pengukuran total testosteron serum sampel pagi. Setelah diagnosis awal, apakah pasien menderita hipogonadisme primer atau sekunder harus ditentukan dengan pengukuran kadar hormone gonadotropin. Konsentrasi gonadotropin yang meningkat menunjukkan kegagalan testis primer. Pemeriksaan kromosom dengan karyotyping harus digunakan untuk mengeksklusi Sindrom Klinefelter. Hipogonadotropik hipogonadisme terisolasi ditandai dengan rendahnya kadar serum testosteron pada individu laki-laki (biasanya <2 nmol/l) , dan kadar serum gonadotropin rendah atau normal dengan fungsi hipofisis normal. Pada masa remaja awal (13-16 tahun), diagnosis CHH sulit ditegakkan karena hipogonadisme hipogonadotropik terisolasi umum terjadi pada CHH dan CDGP (Constitutional Delay of Growth and Puberty). Pada CHH, tes stimulasi GnRH memiliki nilai diagnostik yang buruk, dengan tidak adanya respon gonadotropin, tes ini dapat membantu untuk mengkonfirmasi defisiensi GnRH yang parah. Sejumlah pengujian lain telah diajukan untuk membedakan kedua CHH dan CDGP namun hingga saat ini, tidak ada uji diagnostik standar emas untuk sepenuhnya membedakan CHH dari CDGP.
Pengukuran konsentrasi hormone LH dan FSH dapat membantu membedakan antara hipogonadisme primer dan sekunder. Pada hipogonadisme sekunder, LH normal atau rendah-normal tidak sesuai dengan tingkat testosteron rendah. Jika hipogonadisme sekunder terdeteksi, kadar prolaktin tingkat harus diketahui untuk menyingkirkan hiperprolaktinemia, zat besi pada serum diukur untuk menyingkirkan hemokromatosis, dan dilakukan pencitraan hipofisis dengan MRI untuk menyingkirkan adanya tumor.
Penggantian hormon dengan testosteron adalah pengobatan klasik untuk hipogonadisme. Setelah injeksi 200 mg testosteron intramuskular, konsentrasi testosteron dalam serum meningkat menjadi kisaran suprafisiologis dalam 24-48 jam dan secara bertahap menurun ke kisaran normal rendah selama 2 minggu. Variabilitas farmakokinetik ini dapat menyebabkan fluktuasi pada suasana hati, libido, dan tingkat energi pasien. Sedangkan pemberian 100 mg mingguan menghasilkan konsentrasi fisiologis, tetapi membutuhkan empat suntikan setiap bulan. Terapi testosteron tidak menginduksi pertumbuhan testis atau spermatogenesis pada kasus ini, karena tergantung pada konsentrasi testosteron intra-testis yang tinggi yang diproduksi oleh sel Leydig yang distimulasi LH, dalam hubungannya dengan FSH yang bekerja pada sel Sertoli. Oleh karena itu, diperlukan terapi induksi kesuburan dengan gonadotropin eksogen.
Penulis: Hermina Novida, dr., Sp.PD.
Link Jurnal:





