51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Derajat Keparahan Apendicitis Akut pada masa Pandemi Covid 19

IL by Top Doctors

Apendisitis akut atau yang dikenal sebagai radang usus buntu atau peradangan pada umbai cacing adalah   suatu kegawatdaruratan medis pada rongga perut yang paling sering terjadi. Penyakit ini juga merupakan penyebab tersering pembedahan rongga perut pada dewasa maupun anak. Lokasi umbai cacing berada peralihan usus halus dan usus besar, pada pertemuan 3 taenia usus besar, sehingga pada pemeriksaan fisik dengan cara menekan pada posisi umbai cacing yang meradang akan terasa nyeri. Gejala klinis cukup bervariasi, diawali dengan nyeri uluhati, mual, muntah selanjutnya nyeri pada kanan bawah perut, disertai juga keadaan demam.

Pada radang usus buntu ini  dimana penyakit berjalan progresif, dimulai dengan adanya penyumbatan pada saluran usus buntu, diikuti oleh pertumbuhan dan penyebaran bakteri yang berlebihan, yang menyebabkan peradangan, kerusakan jaringan dan pembusukan pada dinding usus buntu yang pada akhirnya terjadi  pecahnya dinding usus buntu dan infeksi menyebar ke seluruh rongga perut. Peradangan ditandai oleh vasodilatasi / pelebaran  pembuluh darah setempat yang mengakibatkan terjadinya aliran darah setempat berlebihan, peningkatan permeabilitas kapiler, memungkinkan kebocoran cairan ke dalam ruang interstisium, pergerakan sejumlah besar granulosit dan monosit ke dalam jaringan, akan terjadi pelepasan faktor “ factor peradangan dan pembengkakan sel jaringan. Selama proses ini terjadi pembesaran kelenjar getah bening, pembengkakan sel jaringan sehingga akan mengecilkan lumen dari usus buntu. Lumen yang mengecil, dapat menyebabkan terjadinya pembuntuan  pada usus buntu. Peningkatan pembuntuan  akan bertambah sesuai dengan beratnya proses peradangan. Fekolit ditemukan pada 40% kasus usus buntu  sederhana dan 65% kasus usus buntu dengan pembusukan tanpa kebocoran dan 90% pada kasus usus buntu dengan pembusukan dengan kebocoran usus.

Ada beberapa penilaian yang digunakan untuk menegakkan diagnosis suatu radang usus buntu  seperti Alvarado score, Raja Isteri Pengiran Anak Saleha (RIPASA) score, dan parameter-parameter biokimia seperti jumlah leukosit, C Reaktif  Protein (CRP), interleukin-6 (IL-6) dan procalsitonin (PCT). Parameter dari pencitraan seperti ultrasonografi (USG), computed tomography scan (CTScan), scintigrafi magnetic resonance imaging (MRI) dan laparoskopi. Metode yang disebutkan di atas dapat saling mendukung untuk memprediksi radang usus buntu pada penderita dengan gejala nyeri perut kanan bawah. Terapi pembedahan pada radang usus buntu tanpa komplikasi kebocoran usus, melalui irisan Gridiron. Komplikasi yang dapat terjadi adalah radang pada seluruh isi perut (peritonitis), yang meningkatkan angka morbiditas dan mortalitas. Penilaian derajat keparahan radang usus buntu dengan modified Delphi method. Metode ini membagi tingkat keparahan radang usus buntu  menjadi 5, yaitu: Derajat 0, bentuk umbai cacing normal; Derajat 1, adanya inflamasi tanpa perforasi  usus ; Derajat 2, gangrene pada usus buntu tanpa perforasi; Derajat 3, radang usus buntu  terjadi perforasi dengan cairan terlokalisir (cairan berada 20 dalam radius 10 cm); Derajat 4, perforasi disertai abses (terdapat pus lebih dari 5 cm dari usus buntu); dan Derajat 5, perforasi dengan peritonitis generalisata.

COVID-19 disebabkan oleh Virus SARS-CoV-2, virus ini memanfaatkan Angiotensin Converting Enzim 2 (ACE2) yang diekspresikan pada membran sel paru-paru, usus, arteri, jantung, dan sel ginjal sebagai titik awal untuk masuk ke sel tubuh sebelum melakukan replikasi. Ini menjelaskan mengapa virus ini dapat menginfeksi usus dan muncul dengan gejala pencernaan.

Pandemi COVID-19 berdampak pada penurunan jumlah pasien yang menjalani operasi gawat darurat/ emergency, namun terjadi peningkatan kasus gawat darurat dengan infeksi virus penyerta, serta lebih banyak pasien yang datang dengan gejala berat akibat keterlambatan diagnosis. Gejala COVID-19 yang sangat bervariasi, termasuk gejala gangguan saluran cerna  dapat menyamarkan penyebab penyakit yang sesungguhnya, dan terjadi penundaan terapi  .

Pandemi COVID 19 menyebabkan pasien dengan radang usus buntu pada penanganan pasien,  waktu tunggu operasi menjadi lebih lama dengan durasi operasi memanjang, sedangkan pasien datang dengan derajat 4 perforasi disertai abses lebih banyak, dan lama perawatan menjadi memanjang  sehingga biaya perawatan di rumah sakit meningkat.

Penulis: Dr. Marjono Dwi Wibowo SpB (K)

Judul jurnal : Comparison of acute appendicitis severity in pandemic and non-pandemic periods of COVID-19: a comparative study

 Link artikel :

AKSES CEPAT