Gaya hidup sedenter yang ditandai dengan kurangnya aktivitas fisik semakin banyak terjadi di masyarakat modern. Hal ini dapat mengurangi aktivitas fisik dan meningkatkan risiko kelebihan berat badan dan obesitas. Kelebihan berat badan merupakan suatu kondisi yang diakibatkan oleh ketidakseimbangan antara asupan energi dan pengeluaran energi sehingga menyebabkan penumpukan lemak berlebih di dalam tubuh. Jika tidak ditangani, kelebihan berat badan dapat berkembang menjadi obesitas.
Di Indonesia, angka kelebihan berat badan terus meningkat setiap tahunnya. Pada tahun 2007, angka ini sebesar 8,6%, meningkat menjadi 11,5% pada tahun 2013 dan berlanjut menjadi 13,6% pada tahun 2018. Orang yang kelebihan berat badan rentan terhadap stres oksidatif dan gangguan produksi adipokin. Leptin, salah satu adipokin, berperan penting dalam menjaga metabolisme energi dan homeostatis keseluruhan dalam tubuh. Leptin disintesis terutama oleh jaringan adiposa. Pada masyarakat yang kelebihan berat badan saat ini, kadar leptin semakin meningkat. Namun peningkatan tersebut tidak dibarengi dengan efek normal yang diharapkan karena terjadi resistensi leptin. Pada kondisi normal, leptin ini dapat mengontrol agar kita tidak banyak makan. Namun yang terjadi pada beberapa individu seperti individu dengan konsidi kelebihan berat badan dan obesitas, didapatkan kadar leptin yang tinggi, namun tidak menunjukkan efek yang normal. Hal tersebut akibat adanya penurunan kepekaan dari leptin atau terjadi resistensi leptin.
Olahraga, sebagai bagian dari gaya hidup sehat, dapat memberikan metode bebas obat untuk mengurangi masalah kesehatan terkait kelebihan berat badan. Dari penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa latihan interval intensitas tinggi atau high-intensity interval exercise (HIIE) mengakibatkan penurunan kadar leptin pada pria dewasa obesitas terkait dengan penggunaan treadmill. Namun, efek HIIE pada kadar serum leptin pada wanita kelebihan berat badan masih belum diketahui.
HIIE dalam penelitian ini menggunakan sepeda stasioner dan memilih 24 wanita dewasa dengan BMI pada kelompok overweight (23-24,9 kg/m2). Mereka secara acak dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok kontrol (tidak melakukan HIIE) dan kelompok HIIE. Kelompok HIIE menjalani olahraga dengan bersepeda statis dan sesi berlangsung total 25 menit, meliputi 3 menit pemanasan, 20 menit latihan inti, dan 2 menit relaksasi. Latihan dasar protokol HIIE ini mengikuti rasio 1:1, terdiri dari 10 set siklus intensitas tinggi (80-90% HRmax) selama 60 detik, diselingi siklus intensitas rendah pada kecepatan kurang dari 40 rpm tanpa beban. Sampel darah untuk pengukuran serum leptin dikumpulkan sebelum olahraga (bagi yang berolahraga) dan 1 jam setelah akhir sesi HIIE (setelah olahraga bagi yang berolahraga). Kelompok control juga diambil darah 2 kali dengan waktu yang sama.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa HIIE menurunkan rerata konsentrasi leptin, meskipun penurunannya tidak signifikan secara statistik. Selain itu, implikasi terhadap status kesehatan belum dapat dijelaskan lebih lengkap, mengingat perlu dilakukan pemeriksaan lanjut terkait perubahan sensitivitas leptin, yang berkaitan dengan resistensi leptin.
Penulis: Siti Badriyah Zahrotul Ilmi, M.Kes.; Dr. Lilik Herawati, dr., M.Kes.
Informasi detail bisa didapatkan pada hasil riset kami di link:
Ilmi, S.B.Z.,Wibowo N.F , Karimullah, A., Devi,A.I., Yosnengsih, Y., Syamsudin.F., , Rejeki, P.S, Zulhabri Othman. Z., *Herawati, L., 2023. The Impact of High Intensity Intermittent Exercise (HIIE) on Serum Leptin Levels in Sedentary Overweight Adult Women. Journal of Medicinal and Chemical Sciences 6 (2023) 2549-2557.





