UNAIR NEWS “ Ada banyak hal yang bisa dilakukan sembari menunggu waktu berbuka puasa. Mulai dari jalan-jalan hingga berburu takjil di berbagai lokasi. Namun, Mahasiswa Masjid Ulul Azmi 51¶¯Âþ (UNAIR) justru memilih cara unik dan produktif lewat acara bertajuk Muslim Adventure Talk 2026. Berkolaborasi dengan Pramuka dan UKM Wanala, acara tersebut berlangsung di Masjid Ulul Azmi Kampus MERR-C UNAIR, Minggu (1/3/2026) sore.
Mengusung tema Bertebaran di Bumi, Tetap Taat pada Ilahi, kegiatan tersebut menyoroti fenomena bencana alam dan tren anak muda yang gemar mendaki gunung serta wisata alam bebas. Di sisi lain, fenomena tersebut masih menyisakan tanda dan kebingungan bagi umat muslim. Terutama mengenai mitigasi keselamatan dan tata cara ibadah saat kondisi darurat.
Manajemen Bencana dan Ketenangan Mental
Perwakilan UKM Pramuka, Muhammad Hamid, yang menjelaskan cara mitigasi bencana. Ia menegaskan bahwa mitigasi itu dimulai dari edukasi proaktif dan persiapan survival kit (P3K) yang memadai. “Langkah antisipatif seperti menyiapkan perlengkapan P3K, mengetahui rute evakuasi, hingga menyimpan kontak darurat 112 adalah hal krusial yang sewaktu-waktu bisa menyelamatkan nyawa,” jelas Hamid.

Selanjutnya, delegasi UKM Wanala, Farel Ihsan Rafsanjani dan Pramudya Airen May’Anurillah Ariesta menjelaskan tantangan bertahan hidup (survival). Farel menyebut Positive Mental Attitude (PMA) sangat penting sebagai tameng utama untuk melawan kepanikan akibat rasa lelah dan kesepian di tengah hutan.
Melanjutkan hal itu, Pramudya membagikan trik taktis mendirikan bivouac (tempat berlindung sementara) yang aman dari terpaan angin dan hujan. Ia juga menekankan pentingnya pemahaman botani serta zoologi dasar agar survivor mampu membedakan sumber air dan makanan yang aman dikonsumsi.
Keringanan Ibadah Musafir
Kajian fikih oleh Ustadz Muwafiq yang penuh hikmah menjadi penutup kegiatan. Ia menjawab tuntas persoalan umum ibadah dengan menjelaskan syarat salat jamak dan qasar, yakni berlaku jika perjalanan menempuh minimal 80,64 kilometer dan tidak menetap lebih dari empat hari.
“Islam itu agama yang solutif. Jika di gunung air sangat minim, wudu menggunakan air kemasan tetap sah asalkan memenuhi syarat-syaratnya. Kalau air benar-benar nihil, maka tayamum (bersuci menggunakan debu, red) bisa menjadi jalan keluar,” tuturnya. Ia berpesan agar sekeras apa pun kondisi alam yang dihadapi, ketaatan kepada Allah harus tetap menjadi prioritas.
Rangkaian talkshow tersebut kemudian ditutup dengan kehangatan buka puasa bersama. Harapannya, talkshow tersebut dapat menjadi bekal berharga bagi para mahasiswa bahwa kemampuan mitigasi dan tantangan bertahan hidup bisa berjalan beiringan dengan iman yang tangguh.
Penulis: Muhammad Yasir Dharmawan Diniy
Editor: Yulia Rohmawati





