UNAIR NEWS – Lembaga Pers Mahasiswa FKH 51 mengadakan Seminar Jurnalistik pada Minggu (1/10/2023). Seminar ini bertajuk Mengasah Kemahiran Peliputan dan Kepenulisan Jurnalistik yang Berkualitas yang berlangsung secara hybrid di Ruang Tandjung Adiwinata FKH UNAIR dan secara daring via Zoom Meeting.
Seminar kali ini mengundang dua pembicara yang berpengalaman pada bidang jurnalistik. Mochammad Syarrafah M Ikom sudah berkecimpung dalam dunia media selama 10 tahun. Seorang eks wartawan TEMPO dan saat ini menjabat sebagai Koordinator Tim Rilis Pemkot Surabaya merupakan salah satu pembicara dalam seminar ini.
Pada pembukaannya, Syarrafah menyampaikan bahwa jurnalis,wawancara dan kepenulisan sangat besar manfaatnya bagi kita sebagai mahasiswa. Karena kedepannya, sejak semester satu sampai lulus akan berkecimpung dengan itu, tuturnya.
Seni Wawancara
Syarrafah menyampaikan terkait wawancara sebagai bagian dari jurnalistik. Menurutnya, wawancara merupakan seni bagaimana berbicara, berdiskusi, berkomunikasi dan mencoba untuk melobi seseorang.
Selanjutnya, dalam pemaparan materinya Syarrafah mengatakan bahwa tidak ada patokan yang baku terkait bagaimana sebagai jurnalistik melakukan wawancara. Jadi, bisa kita katakan seni wawancara yang menarik, imbuhnya.
Wawancara Eksklusif
Pada materi berikutnya, Syarrafah memaparkan bagaimana mendapatkan wawancara yang eksklusif. Dari hasil pemaparan materi, ia menyampaikan bahwa penting untuk melakukan pencarian data sebelum menulis berita. Metode penggalian data sangat banyak, terutama dalam bidang jurnalistik.
Kalau dalam jurnalistik kita ada pengamatan atau observasi, lalu wawancara, jelasnya.
Menurut Syarrafah, wawancara adalah aktivitas mencari data ketika terjun ke lapangan. Ia menerangkan bahwa jika seorang jurnalis tidak melakukan wawancara akan kesulitan dalam menuliskan sebuah berita.
Selanjutnya, ia juga menyampaikan bahwa wawancara bagi seorang jurnalistik memiliki tujuan untuk melakukan verifikasi data bukan hanya sekedar ingin tahu. Jangan datang dengan kepala kosong saat wawancara. Karena wawancara itu membangun ulang ingatan narasumber, katanya.
Teknik Wawancara
Syarrafah juga menjelaskan teknik wawancara. Menurutnya, teknik wawancara merupakan dari tiga tahapan, yaitu persiapan, pelaksanaan, dan usai wawancara. Seorang jurnalis itu harus pintar dalam melakukan trik wawancara, jelasnya.
Syarrafah membeberkan, teknik persiapan sebelum wawancara adalah dengan melakukan riset data sebanyak mungkin. Seorang jurnalis harus tahu tentang topik berita, latar belakang narasumber, dan statement narasumber sebelumnya.
“Wajib untuk membuat outline berita untuk membantu proses menyusun berita,” tandasnya.
Saat proses wawancara, Syarrafah menjelaskan penting untuk membangun interaksi yang nyaman dengan narasumber. Jangan lupa untuk merekam dan mencatat saat sesi wawancara. Ia juga mengingatkan untuk tidak terkesan menggurui atau mendebat saat melakukan sesi wawancara.
Pada akhir, dari sesi pemaparannya ia mengingatkan pasca wawancara adalah melakukan transkrip hasil wawancara dan menyusun berita. Syarrafah menutup pemaparan materinya dengan menegaskan bahwa ketika ingin belajar menulis maka segeralah.
Kalau mau belajar menulis, kuncinya nuliso, tutupnya.
Penulis: Tsaqifa Farhana Walidaini
Editor: Nuri Hermawan





