Monosodium glutamat (MSG) merupakan salah satu makanan adiktif yang memberikan rasa lezat pada makanan. MSG merupakan garam natrium dengan kandungan utama asam glutamat dan berbentuk bubuk kristal murni. American Food and Drug Administration (FDA) 1995 menyatakan bahwa MSG merupakan penambah rasa pada makanan yang aman dikonsumsi dengan tingkat keamanan 6 mg/kgBB. Konsumsi MSG yang berlebihan dalam jangka panjang pada manusia dan hewan coba dapat menimbulkan masalah yang serius, seperti gangguan reproduksi pria yang berakhir pada infertilitas.
Salah satu efek toksik MSG berkaitan dengan fungsi fisiologis reproduksi pria sehingga menyebabkan gangguan infertilitas dan spermatogenesis. Gangguan spermatogenesis dapat terjadi melalui mekanisme pre-testis, testis, dan post-testis. Mekanisme pre-testis menghambat spermatogenesis melalui regulasi aksis hipotalamus-hipofisis-gonad anterior, menurunkan sekresi Interstitial Cell Stimulate Hormone (ICSH) dan Follicle Stimulate Hormone (FSH) sehingga menurunkan efisiensi spermatogenesis. Di sisi lain, MSG meningkatkan produksi Reactive Oxygen Species (ROS) melalui oksidasi sel membran spermatogenik. Peningkatan ROS dan peroksidasi lipid secara tiba-tiba menyebabkan gangguan permeabilitas membran sel dan stres oksidatif sehingga menyebabkan hilangnya fungsi seluler dan kerusakan sel spermatogenik.
Antioksidan berperan penting dalam menghambat stres oksidatif dengan berperan sebagai garis pertahanan pertama untuk menetralisir ROS sehingga mengurangi kerusakan sel spermatogenik. Madu Apis dorsata (AH) merupakan madu yang dihasilkan oleh lebah Apis dorsata. Madu Apis dorsata memiliki kadar dan aktivitas antioksidan yang lebih tinggi dibandingkan madu Apis cerana dan madu Apis mellifera. Hal ini dikarenakan madu AH merupakan madu multifloral yang berasal dari banyak bunga dan nektar berbeda dengan Apis cerana dan Apis mellifera yang hanya satu jenis bunga.
Antioksidan utama AH adalah fenolik dan flavonoid. Fenolik dan flavonoid bekerja dengan cara memutus reaksi berantai radikal bebas pada sel spermatogenik dan membran sel sertoli sehingga mencegah kerusakan sel serta menjaga jumlah sel spermatogenik dan sertoli mencit (Mus musculus) yang terpapar MSG. Karena kaya akan kandungan antioksidan termasuk fenolik dan flavonoid, madu AH memiliki sifat perbaikan dan dapat memperbaiki kerusakan akibat stres oksidatif. Di sisi lain, senyawa bioaktif antrakuinon pada madu AH merupakan pemulung ROS yang kuat dan mencegahnya berikatan dengan asam lemak tak jenuh ganda (PUFA) sehingga menghambat auto-oksidasi.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efek preventif madu Apis dorsata (AH) terhadap jumlah spermatogenik dan jumlah sel Sertoli mencit (Mus musculus) yang dipapar monosodium glutamat (MSG). Penelitian ini menggunakan 25 ekor mencit BALB/c jantan yang dibagi dalam 5 perlakuan. Kontrol negatif (C-) mendapat aquadest, kontrol positif (C+) mendapat MSG 4 mg/gBB, T1 mendapat madu AH 2,7 mg/gBB + MSG 4 mg/gBB, T2 mendapat madu AH 5,4 mg/gBB + MSG 4 mg/gBB , dan T3 mendapat madu AH 8,1 mg/gBB dan MSG 4 mg/gBB. Semua kelompok diberi perlakuan selama 52 hari. Testis kemudian dipreparasi sebagai slide histopatologi dan diperiksa di bawah mikroskop. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan bermakna jumlah sel spermatogenik dan sel Sertoli antara C-, C+, T1, dan T2 (p<0,05) serta tidak terdapat perbedaan bermakna (p>0,05) jumlah spermatid dan sel Sertoli antara C- (90,28 卤 1,361 dan 13,60 卤 0,374) dan kelompok perlakuan T3 (88,04 卤 1,212 dan 13,04 卤 0,434). Dosis pencegahan AH terbaik adalah T3 sebesar 8,1 mg/gBB. Dapat disimpulkan bahwa pemberian AH dapat mempertahankan jumlah sel spermatogenik dan sel Sertoli pada mencit yang dipapar MSG.
Penulis: Epy Muhammad Luqman
Publikasi di jurnal: Philippine Journal of Veterinary Medicine
Link jurnal:





