UNAIR NEWS – Corporate Social Responsibility atau CSR merupakan istilah yang merujuk pada tanggung jawab sosial perusahaan terhadap semua pemangku kepentingan, termasuk masyarakat lokal dan lingkungan. Tanggung jawab ini berisi komitmen-komitmen perusahaan dalam menyelesaikan segala permasalahan maupun dampak sosial dan lingkungan di sekitar area operasional perusahaan.
Sayangnya, tidak semua warga yang tinggal di sekitar wilayah area operasional perusahaan benar-benar paham mengenai CSR. Hal inilah yang terjadi di Desa Sidomukti, Kabupaten Gresik. Di desa ini, terdapat Bendung Gerak Sembayat (BGS), sebuah infrastruktur nasional yang dibangun untuk mengatur aliran sungai Bengawan Solo, mengairi lahan pertanian di desa, dan menyediakan kebutuhan air domestik.
Namun, melansir dari , aliran air Bengawan Solo justru diprioritaskan untuk kawasan industri Java Integrated Industry and Port Estate (JIIPE) yang berlokasi di Kecamatan Manyar. Ironisnya, masih ada dusun di Desa Sidomukti yang kebutuhan airnya justru disuplai dari desa sebelah. PT Jasa Tirta sebagai pengelola BGS dan PT PP sebagai penanggung jawab pipanisasi BGS mengklaim telah memberikan kompensasi melalui CSR berupa paket sembako kepada warga Desa Sidomukti.

CSR yang dilakukan oleh dua perusahaan tersebut tentu tidak menjawab akar permasalahan dan hanya bersifat semu. Hal inilah yang mendorong kelompok BBK 6 Sidomukti untuk menggelar sosialisasi CSR sebagai salah satu program kerja mereka. Kegiatan yang bertajuk 淐SR untuk Siapa? ini telah berlangsung di balai desa pada Rabu (23/7/2025). Sebanyak 15 perangkat desa dan kepala dusun turut hadir sebagai partisipan.
Sesi Pemaparan dan Diskusi yang Interaktif
Kegiatan sosialisasi dimulai dengan pemaparan materi oleh Savira Ismining dan Adil Salvino selama 15 menit. Materi yang disampaikan mencakup definisi, prinsip, tujuan, jenis, dan peran CSR. Selain itu, keduanya juga menyampaikan Community Development sebagai salah satu pilar CSR serta tantangan dari implementasi CSR di lapangan.
淐SR tidak bisa hanya dilihat saat pelaksanaannya saja, tetapi juga perlu diawasi mulai dari perencanaan, eksekusi, pengawasan, dan evaluasi. Tujuannya supaya CSR yang diinisiasi oleh perusahaan benar-benar menyasar warga lokal. Mulai dari perencanaan hingga evaluasi, CSR harus berpegang pada lima prinsip: akuntabilitas, etika, transparansi, berkelanjutan, dan hak asasi manusia, terang Savira.
Di sisi lain, Vino lebih menyoroti peran aktif warga lokal dalam kegiatan CSR. Warga lokal tidak hanya diposisikan sebagai penerima manfaat, tetapi juga perlu dilibatkan secara aktif dalam kegiatan CSR, mulai dari perencanaan, eksekusi, pengawasan, dan evaluasi.
淪alah satu tantangan yang dihadapi dalam implementasi CSR adalah kurangnya literasi di kalangan warga. Bagaimana mungkin warga mengawasi CSR kalau mereka sendiri tidak tau, tidak mengerti, dan tidak paham atas hak-hak mereka. Oleh karena itu, sosialisasi CSR bagi warga menjadi penting untuk meningkatkan awareness mereka. Jangan sampai ketidaktahuan warga ini justru dimanfaatkan oleh perusahaan untuk lari dari tanggung jawab sosialnya, tuturnya.
Kegiatan sosialisasi kemudian dilanjut dengan sesi diskusi dengan perangkat desa dan kepala dusun. Selama sesi diskusi, sebagian besar dari mereka mengungkapkan bahwa perusahaan pengelola BGS belum benar-benar menyelenggarakan CSR. Mereka juga mengonfirmasi bahwa bantuan paket sembako tidak pernah sampai ke masyarakat Sidomukti. Usaha untuk mengajukan CSR pun terhambat oleh kurangnya pemahaman dari warga desa.
淪ebetulnnya kami sempat melakukan approach untuk meminta CSR kepada perusahaan pengelola BSG, tetapi sampai sekarang belum ada hasil. Salah satu hambatannya adalah kurangnya pemahaman dari para warga di sini, termasuk tidak semua kepala dusun paham apa itu CSR, ungkap Miftahul Amin, kepala Dusun Prubungan.
Kesan dan Harapan
Sosialisasi CSR oleh BBK 6 diharapkan dapat menjadi pemantik untuk penyelenggaraan diskusi CSR oleh pemerintah desa di masa depan. Savira selaku ketua program kerja berharap informasi CSR tidak hanya berhenti di kalangan perangkat desa saja, tetapi dapat diteruskan ke warganya masing-masing.
淜ami harap setelah diselenggarakannya kegiatan ini, perangkat desa dan kepala dusun dapat tergerak untuk menyampaikan informasi CSR kepada warganya masing-masing. Lebih bagus lagi kalau dari perangkat desa menyelenggarakan diskusi lanjutan, dirembukkan bersama warga Desa Sidomukti, harapnya.
Penyelenggaraan sosialisasi CSR oleh BBK 6 mendapat apresiasi dari Suprianto, kepala Dusun Mulyosari. Menurutnya, program kerja ini penting supaya perangkat desa maupun kepala dusun lebih melek terkait CSR.
淪aya mengapresiasi kegiatan sosialisasi tentang CSR yang diadakan oleh adik-adik mahasiswa. Saya pribadi berharap diskusi tadi dapat menjadi pemantik supaya perangkat desa, kepala dusun, maupun warga sini lebih paham tentang CSR. Biar bagaimanapun, CSR sudah menjadi hak dari warga Desa Sidomukti yang harus diusahakan, ujarnya.
Penulis: Tim BBK 6 UNAIRDesa Sidomukti, Bungah





