UNAIR NEWS – Keterbatasan fasilitas pengelolaan sampah masih menjadi permasalahan utama di berbagai wilayah pedesaan di Lamongan. Salah satu permasalahan yang dihadapi masyarakat desa Patihan adalah tidak tersedianya Tempat Pembuangan Akhir (TPA), sehingga sebagian besar warga memilih membakar sampah rumah tangga sebagai cara paling mudah untuk mengurangi penumpukan sampah. Kebiasaan tersebut berpotensi menimbulkan pencemaran udara, gangguan kesehatan, serta berdampak buruk bagi lingkungan.
Menanggapi permasalahan tersebut, Mahasiswa BBK 7 Unair desa Patihan melaksanakan program kerja GOSIP (Gerakan Olah Sampah Isi Pori) sebagai bentuk edukasi dalam pengelolaan sampah rumah tangga. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai bahaya pengolahan sampah yang tidak tepat, khususnya pembakaran sampah, sekaligus memperkenalkan biopori sebagai salah satu solusi sederhana dan ramah lingkungan. Program ini mendukung pengelolaan sampah berkelanjutan, yang juga sejalan dengan prinsip Sustainable Development Goals (SDGs) 11 Sustainable Cities and Communities dan SDGs 12 Responsible Consumption and Production .
Kegiatan penyuluhan diadakan pada hari Rabu (21/1/2026) kemarin di Balai Desa Patihan, yang dihadiri oleh sekitar 40 warga desa. Kegiatan ini diawali dengan penyuluhan kepada masyarakat desa mengenai dampak negatif pembakaran sampah terhadap kesehatan dan lingkungan. Dalam penyuluhan ini, masyarakat diberikan pemahaman tentang pentingnya pemilahan sampah, terutama sampah organik, serta potensi pengelolaan sampah yang lebih bermanfaat apabila dilakukan dengan cara yang benar.
Selanjutnya, mahasiswa BBK 7 Unair Desa Patihan memberikan edukasi mengenai konsep lubang resapan biopori sebagai metode pengelolaan sampah organik yang mudah diterapkan di lingkungan rumah tangga. Biopori tidak hanya berfungsi untuk meningkatkan daya resap air tanah, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai media pengolahan sampah organik yang pada akhirnya menghasilkan kompos.
Sebagai bentuk penerapan langsung, kegiatan dilanjutkan dengan praktik pembuatan lubang resapan biopori bersama masyarakat. Warga dilibatkan secara aktif dalam proses pembuatan biopori, mulai dari penentuan lokasi hingga pengisian sampah organik. Kegiatan ini bertujuan agar masyarakat tidak hanya memahami secara teori, tetapi juga mampu menerapkan secara mandiri di lingkungan tempat tinggal masing-masing.
Melalui pelaksanaan program GOSIP, masyarakat memperoleh pengetahuan dan keterampilan praktis dalam mengelola sampah organik rumah tangga. Program ini membantu mengurangi kebiasaan pembakaran sampah, memanfaatkan sampah organik menjadi kompos yang bernilai guna, serta mendorong terciptanya lingkungan desa yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan. Kehadiran Mahasiswa BBK 7 melalui program GOSIP diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam membangun kesadaran masyarakat untuk mengelola sampah secara lebih bertanggung jawab.
Penulis: Tim BBK Patihan





