51

51 Official Website

Mahasiswa BBK 7 UNAIR Ajak Warga Kalisari Sulap Limbah Jelantah Jadi Rupiah Lewat SIP-JELITA

mahasiswa 51 (UNAIR) Kelompok 2 Belajar Bersama Komunitas (BBK) 7 dengan kolaborasi bersama Kelompok 1 Kelurahan Kalisari di Kelurahan Kalisari menghadirkan solusi konkret melalui program SIP-JELITA
mahasiswa 51 (UNAIR) Kelompok 2 Belajar Bersama Komunitas (BBK) 7 dengan kolaborasi bersama Kelompok 1 Kelurahan Kalisari di Kelurahan Kalisari menghadirkan solusi konkret melalui program SIP-JELITA

UNAIR NEWS Limbah minyak jelantah atau sisa penggorengan sering kali menjadi persoalan pelik di kawasan pemukiman padat penduduk. Kebiasaan membuang jelantah ke saluran air tidak hanya mencemari lingkungan, tetapi juga memicu penyumbatan drainase yang kronis. Menyadari hal tersebut, mahasiswa 51 (UNAIR) Kelompok 2 Belajar Bersama Komunitas (BBK) 7 dengan kolaborasi bersama Kelompok 1 Kelurahan Kalisari di Kelurahan Kalisari menghadirkan solusi konkret melalui program SIP-JELITA (Sistem Pengelolaan Jelantah untuk Lingkungan dan Kesejahteraan).

Kegiatan sosialisasi yang dilaksanakan pada Senin (19/1/2026) ini berlangsung di Balai RW 03 Kalisari, bertepatan dengan kegiatan PAUD setempat. Acara ini menghadirkan langsung Bryan, CEO Beaenergi, sebuah perusahaan rintisan yang bergerak di bidang pengolahan limbah minyak. Sebanyak 17 peserta yang terdiri dari ibu-ibu warga setempat serta kader masyarakat, termasuk Ibu Nurul, tampak antusias mengikuti pemaparan materi.

Potensi Ekonomi: Rp6.000 per Liter Dalam paparannya, Bryan membuka wawasan warga bahwa jelantah bukanlah sampah, melainkan komoditas bernilai tinggi jika dikelola dengan benar. Ia menjelaskan bahwa jelantah yang dikumpulkan warga akan dihargai sebesar Rp6.000 per liter. Angka ini dinilai cukup menarik sebagai insentif tambahan bagi kas rumah tangga maupun kas komunitas.

“Kami ingin mengubah mindset bahwa membuang jelantah itu rugi dua kali; rugi merusak lingkungan dan rugi membuang uang. Dengan sistem ini, lingkungan bersih, kantong pun terisi,” ujar Bryan di hadapan para peserta.

Sistem Pengumpulan Berkelanjutan Penanggung Jawab Program dari kelompok 1, Rosa Lolyta Handini, menjelaskan teknis pelaksanaan SIP-JELITA yang dirancang untuk jangka panjang. Sebagai langkah awal, pengumpulan perdana dijadwalkan serentak pada 24 Januari 2026.

“Kami tidak ingin program ini berhenti saat mahasiswa selesai KKN. Oleh karena itu, kami merancang sistem agar pengumpulan selanjutnya dapat dilakukan secara mandiri oleh RW 03 dan dikoordinasikan langsung oleh kader masyarakat setempat,” jelas Rosa.

Ia menambahkan harapan besarnya terhadap inisiatif ini. “Harapan kami, SIP-JELITA bisa menjadi budaya baru di Kalisari. Ketika ibu-ibu melihat jelantah di dapur, mereka tidak lagi melihatnya sebagai limbah yang harus dibuang ke wastafel, tapi sebagai tabungan yang bisa dikumpulkan,” imbuhnya.

Dukungan Penuh Warga Respons positif terlihat dari interaksi dua arah yang cair selama sesi sosialisasi. Kehadiran tokoh masyarakat seperti Ibu Nurul menjadi katalisator semangat bagi ibu-ibu lain untuk berpartisipasi. Program ini dinilai sangat solutif karena memanfaatkan momen berkumpulnya warga di Balai RW, sehingga memudahkan koordinasi penyetoran limbah di masa mendatang.

Melalui sinergi antara mahasiswa, mitra swasta, dan warga lokal, SIP-JELITA diharapkan mampu mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Poin 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab serta Poin 6 tentang Sanitasi Air Bersih.

Penulis: Yusuf Mulia

AKSES CEPAT