UNAIR NEWS Setelah memenangkan ajang duta bahasa tingkat provinsi, Alfyan Wahyu Ramadhan berkesempatan mengikuti ajang yang sama di tingkat nasional. Mahasiswa Fakutas Hukum (FH) Univeritas Airlangga tersebut berhasil menjadi yang terbaik VI dalam pemilihan Duta Bahasa Nasional 2018 pada Senin揔amis (1318/8) di Jakarta.
Raihan tersebut berhasil dicapai Alfyan di antara peserta lainnya dari 30 provinsi. Selama di Jakarta, Alfyan mengaku banyak memperoleh pengalaman yang baru. Mulai berkunjung ke Istana Kepresidenan, mengikuti upacara HUT Kemerdekaan di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, berdiskusi dengan Menteri Pendidikan Kebudayaan, Prof. Dr. Muhajir Effendy, M.A.P., sampai menghadiri rapat paripurna MPR-DPR.
漇aya merasa sangat beruntung karena dapat bertemu dengan orang-orang hebat dari 30 provinsi yang lain di Indonesia. Saya benar-benar merasakan keberagaman. Saya sudah tidak dapat menggunakan bahasa Jawa lagi kecuali dengan rekan-rekan dari DIY dan Jawa Tengah. Serta, beberapa rekan yang kebetulan orang Jawa atau pernah tinggal di Jawa. Saya benar-benar percaya bahwa bahasa Indonesa adalah bahasa pemersatu bangsa yang harus dijaga, jelasnya.
滾agi-lagi saya merasa melihat Indonesia ketika kami semua menggunakan pakaian adat dari provinsi masing-masing. Senang sekali saya bisa mengenal mereka, imbuh mahasiswa semester V tersebut.
Meski demikian, Alfyan sempat mengalami kendala ketika sampai di Jakarta. Namun, kendala tersebut seolah tidak dirasakan karena banyak hal yang lebih menyenangkan.
漈iba di Jakarta tanggal 12 Agustus. Kami masih punya cukup waktu untuk mempersiapkan diri. Dari latihan presentasi, pengecekan berkas, hingga latihan bakat yang belum pernah saya dan pasangan saya lakukan. Banyak drama dan kegelisahan, tapi lebih banyak keseruan dan pengalaman yang berharga, tuturnya.
Krida (program) kebahasaan yang telah dilakukan Alfyan beserta pasangannya adalah 滲ulan Sabit. Yakni, membudayakan literasi pada anak melalui pembiasaan baca, bicara, dan tulis. Hal itu dianggap sebagai upaya untuk menumbuhkan budaya literasi pada anak-anak jalanan yang tergabung dalam komunitas Save Streer Child (SSC) Sidoarjo.
滱da dua kegiatan utama, yaitu menulis tentang topik-topik tertentu atau materi dan kemampuan menjadi seorang pembicara atau kejora. Topik-topik yang diberikan kepada mereka cukup sederhana. Misalnya, mengenai cita-cita, kegemaran, dan kegiatan mereka sehari-hari, pungkasnya. (*)
Penulis: Pradita Desyanti
Editor: Feri Fenoria Rifa檌





