UNAIR NEWS – Tuberkulosis (TBC) masih menjadi salah satu tantangan kesehatan terbesar di dunia, termasuk di Indonesia. Penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis ini tidak hanya menyerang kelompok usia produktif, tetapi juga kelompok rentan seperti lansia. Hingga saat ini, Indonesia menempati peringkat kedua di dunia dengan jumlah kasus TBC tertinggi setelah India, dengan estimasi sekitar 1,09 juta kasus setiap tahunnya.
Melihat kondisi tersebut, sekelompok mahasiswa Fakultas Kedokteran 51动漫 ( UNAIR) menggagas kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk 淪ehat Bersama, Bahagia Selamanya: Edukasi Lansia Bebas Tuberkulosis di Surabaya dan Malaysia. Program ini merupakan bagian dari kegiatan KKN Penyetaraan yang tidak hanya berfokus pada edukasi kesehatan, tetapi juga pada kolaborasi lintas institusi dan lintas negara.
Salah satu lokasi utama kegiatan ini adalah Panti Wredha Jambangan Surabaya, yang menjadi tempat tinggal bagi sekitar 185 lansia. Pada kelompok usia ini, terjadi penurunan fungsi sistem imun secara fisiologis sehingga meningkatkan kerentanan terhadap berbagai penyakit infeksi, termasuk TBC. Melalui kegiatan edukatif dan interaktif, mahasiswa memberikan penyuluhan mengenai pentingnya menjaga kebugaran fisik, mengenali gejala TBC, serta menerapkan perilaku hidup sehat.
Edukasi dilakukan menggunakan media poster 淪ehat Bersama, Bahagia Selamanya yang dirancang dengan bahasa sederhana agar mudah dipahami oleh para lansia. Tidak hanya penyuluhan, kegiatan juga dilengkapi dengan senam lansia dan permainan edukatif yang bertujuan meningkatkan aktivitas fisik sekaligus membangun suasana yang menyenangkan. Aktivitas fisik rutin diketahui dapat membantu meningkatkan daya tahan tubuh serta menjaga kualitas hidup lansia.

Selain edukasi, program ini juga mencakup kegiatan Active Case Finding (ACF) atau skrining TBC di masyarakat. Bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kota Surabaya dan puskesmas setempat, mahasiswa turut serta dalam proses skrining di wilayah Kecamatan Mulyorejo dan Kecamatan Dupak. Dalam kegiatan ini, masyarakat mengikuti beberapa tahapan pemeriksaan, mulai dari wawancara terkait gejala TBC, pengukuran tinggi dan berat badan, hingga pemeriksaan radiologi menggunakan portable X-ray thorax. Hasil skrining kemudian dianalisis untuk menentukan tindak lanjut bagi peserta yang memiliki risiko atau indikasi TBC. Kegiatan skrining ini menjadi sangat penting mengingat Surabaya merupakan salah satu kota dengan jumlah temuan kasus TBC cukup tinggi di Jawa Timur. Melalui deteksi dini, pasien dapat segera mendapatkan pengobatan sehingga penularan penyakit dapat ditekan.
Kegiatan pengabdian masyarakat ini tidak hanya dilaksanakan di Indonesia, tetapi juga berkolaborasi internasional dengan Management and Science University (MSU), Selangor, Malaysia. Di kampus tersebut, mahasiswa UNAIR memberikan penyuluhan mengenai TBC kepada mahasiswa setempat melalui leaflet edukatif berjudul 淕et to Know TBC. Penyuluhan ini bertujuan meningkatkan literasi kesehatan generasi muda sekaligus mendorong mereka untuk berperan sebagai agen perubahan dalam mendukung pencegahan TBC di komunitas masing-masing. Kolaborasi lintas negara ini juga menjadi wadah pertukaran pengetahuan mengenai sistem kesehatan, termasuk layanan kesehatan komunitas dan manajemen penyakit tidak menular di Malaysia.
Kegiatan 淪ehat Bersama, Bahagia Selamanya tidak hanya memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, tetapi juga berkontribusi pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Program ini mendukung SDGs poin 3 (Good Health and Well-Being) melalui upaya promotif dan preventif untuk meningkatkan kesehatan masyarakat serta mencegah penyebaran TBC. Selain itu, kerja sama antara mahasiswa, pemerintah daerah, alumni, dan institusi pendidikan internasional mencerminkan implementasi SDGs poin 17 (Partnerships for the Goals) yang menekankan pentingnya kolaborasi dalam menyelesaikan permasalahan global.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya belajar tentang ilmu kedokteran di ruang kelas, tetapi juga terjun langsung ke masyarakat untuk memahami permasalahan kesehatan yang nyata. Pengalaman ini memperkuat keterampilan komunikasi, kerja sama tim, serta kemampuan edukasi kesehatan kepada berbagai kelompok masyarakat. Selanjutnya diharapkan program serupa dapat terus dikembangkan dan diperluas sehingga semakin banyak masyarakat yang memperoleh manfaat, terutama dalam upaya eliminasi TBC di Indonesia pada tahun 2030. Dengan semangat kolaborasi dan kepedulian sosial, mahasiswa FK UNAIR membuktikan bahwa langkah kecil melalui edukasi dan skrining kesehatan dapat memberikan dampak besar bagi terciptanya masyarakat yang lebih sehat.
Penulis: Nabila Aurellia Talitha dan Annora Athalia Salienka





