51动漫

51动漫 Official Website

Mahasiswa KKN-BBK 4 UNAIR Atasi Pengelolaan Sampah dengan TPS3R

Pelaksanaan Program Kerja OPOS-KL 淥ptimalisasi Potensi Kompos untuk Keberlanjutan Lingkungan (Foto: Istimewa)
Pelaksanaan Program Kerja OPOS-KL 淥ptimalisasi Potensi Kompos untuk Keberlanjutan Lingkungan (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Pengelolaan sampah hingga kini masih menjadi masalah utama di lingkungan masyarakat. Tidak terkecuali di Desa Kebontunggul, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto. Kondisi itu memantik mahasiswa Belajar Bersama Komunitas (BBK) 4 51动漫 (UNAIR) untuk mengatasi masalah tersebut.

Untuk mengetahui masalah sampah di desa tersebut, mahasiswa BBK 4 melakukan survei terlebih dulu. Mereka menemukan bahwa tidak ada Tempat Pembuangan Akhir (TPA), sehingga warga setempat membuang sampah di lahan-lahan kosong, seperti kebun, sawah, maupun pinggiran sungai. 

Hasil pengamatan tersebut menggugah para mahasiswa KKN-BBK 4 UNAIR untuk menciptakan suatu inovasi. Kemudian, mereka mengadakan program bertajuk 淥ptimalisasi Potensi Kompos untuk Keberlanjutan Lingkungan (OPOS-KL). Program ini berisi pemanfaatan sampah organik yang diubah menjadi kompos serta pakan ternak, sedangkan sampah anorganik dipisahkan dan dikelola di bank sampah setempat. 

Sistematika yang diterapkan dalam program tersebut menggunakan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R). Program tersebut berhasil direalisasikan pada Kamis (25/7/2024) di Dusun Penunggulan, Desa Kebontunggul.

Dokumentasi edukasi OPOS-KL 淥ptimalisasi Potensi Kompos untuk Keberlanjutan Lingkungan (Foto: Istimewa)
Dokumentasi edukasi OPOS-KL 淥ptimalisasi Potensi Kompos untuk Keberlanjutan Lingkungan (Foto: Istimewa)

Gagasan yang dipilih Rheizal, selaku ketua pelaksana beserta kelompoknya, terkait pemanfaatan sampah organik ini juga berdasarkan faktor lingkungan desa. Di mana sebagian besar lahannya dimanfaatkan untuk lahan pertanian.

淟ahan pertanian ini memiliki luas sekitar 142.220 Ha atau nyaris sekitar lima puluh persen wilayah Desa Kebontunggul yang dimanfaatkan sebagai lahan pertanian. Melihat peluang tersebut, program dengan memanfaatkan sampah organik menjadi kompos merupakan potensi bagi Desa Kebontunggul untuk lahan pertaniannya agar tanahnya menjadi subur, sehingga hasil pertaniannya juga dapat meningkatkan kualitas, terangnya. 

Pada kesempatan kali ini kelompok KKN-BBK 4 UNAIR juga menggandeng salah satu komunitas yang bergerak di bidang lingkungan. Khususnya pengelolaan sampah, yaitu WEHASTA (Wahana Edukasi Harapan Alam Semesta).

Program ini direalisasikan dengan menciptakan tempat sampah organik, yang diletakkan pada beberapa titik di Dusun Penunggulan dan Desa Kebontunggul. Di sisi lain, mereka juga membuat palang banner yang berisi informasi terkait sampah organik, guna mendukung edukasi warga setempat.  

Melalui upaya tersebut, Rheizal berharap agar program yang telah diciptakan dapat terus berkembang dan berlanjut. Sehingga dapat menyadarkan masyarakat akan pentingnya peduli lingkungan. Pasalnya, desa tersebut memiliki impian besar untuk menjadi desa devisa.

淎pabila program ini dilanjutkan pihak desa, maka Desa Kebontunggul dapat menjadi inspirasi bagi desa lainnya, terutama terkait pengelolaan sampah yang baik dan benar dengan sistem TPS3R. Dengan demikian, Desa Kebontunggul tidak hanya akan meningkatkan kualitas lingkungan serta kesejahteraan warganya, tetapi juga mendorong desa-desa lain untuk mengikuti jejak yang sama, dengan menciptakan jaringan desa yang peduli lingkungan, tutupnya. 

Penulis: Annisa Nabila

Editor: Yulia Rohmawati

AKSES CEPAT