UNAIR NEWS Penanganan nyeri yang tidak akurat di rumah sakit akan menyebabkan dampak yang sangat merugikan. Bukan hanya bagi pasien, namun juga bagi rumah sakit. Oleh karena itu, Mahasiswa Profesi Fakultas Keperawatan UNAIR sampaikan edukasi manajemen nyeri pasca operasi di Rumah Sakit 51动漫, Jumat (30/9/2022).
淣yeri itu sudah tidak asing lagi ya apalagi pasca pembedahan, rasa sakit dari nyeri itu juga dapat menyebabkan konsekuensi fisiologis dan psikologis bagi pasien jadi penting untuk mengetahui gimana sih nantinya untuk mengurangi rasa nyeri pasca pembedahan itu sendiri, jelas Titis Mustikowati Danasari, Mahasiswa Profesi RSUA
Titis menjelaskan bahwa nyeri sendiri dipicu adanya inflamasi (peradangan, red) yang berisiko untuk menimbulkan infeksi. 淏iasanya pasien dengan skala nyeri akut juga rawan mengalami komplikasi baik gangguan saluran cerna, pernapasan, maupun efek psikologis seperti halnya depresi, trauma maupun disorientasi, ujarnya
Tatalaksana Nyeri
Upaya untuk mengurangi rasa nyeri dapat dilakukan dengan beberapa tahapan penatalaksanaan baik secara farmakologis (obat-obatan) dan non farmakologis. 淏iasanya kalau nyerinya skala berat bisa kita berikan bantuan analgesik ya seperti obat-obatan derivat opium (morfin dan kodein) atau obat AINS seperti aspirin dan ibuprofen, imbuh Titis
Melanjutkan penjelasan tentang penatalaksanaan farmakologis, Titis mengatakan bahwa tidak selamanya obat analgesik dapat diberikan kepada pasien mempertimbangkan dari advis yang diberikan oleh dokter sehingga terapi non farmakologis bisa menjadi salah satu pilihan yang tepat dalam membantu manajemen nyeri.
淜alau menggunakan obat ya pasti ada efek sampingnya, tidak sembarangan juga dengan dosis dan waktu pemberiannya. Sedangkan kondisi nyeri pasien itu bermacam-macam ada yang diberikan obat terus reda ada juga yang kambuh lagi. Jadi kita bisa menggunakan teknik lain seperti relaksasi, tegasnya
Menurut Titis, teknik relaksasi ini data mengurangi sensasi nyeri dan mengontrol intensitas reaksi terhadap nyeri. Proses latihan relaksasi dapat dilakukan dengan cara menciptakan lingkungan yang tenang dengan mengatur posisi yang nyaman dan berkonsentrasi pada suatu obyek atau bayangan visual. Setelah itu pasien dapat mengatur pola napas sembari melepaskan ketegangan.
Penulis: Rosita
Editor: Nuri Hermawan





