UNAIR NEWS – Mahasiswa S1 Teknik Biomedis 51动漫 dalam kreasi dan inovasinya berhasil menciptakan sepatu yang dapat digunakan dalam analisis siklus berjalan bagi seseorang, atau yang dikenal dengan istilah siklus gait. Sepatu yang diberi nama SWAN (Shoes for Walking) ini dapat digunakan untuk memperoleh data berupa grafik tekanan telapak kaki ketika berjalan. Sensor tekanan yang digunakan ini ditanam di dalam sepatu, sehingga memudahkan bagi penggunaannya.
Keberhasilan ini kemudian ditulis dalam karya ilmiah berjudul SWAN Inovasi Penggunaan Sepatu untuk Analisis Siklus Gait. Setelah diseleksi secara ketat, akhirnya proposal ini lolos hibah dana pengembangan dari Kemenristekdikti dalam Program Kreativitass Mahasiswa (PKM) tahun 2018 bidang Karsa Cipta (PKM-KC).
Dijelaskan oleh Claudia Litania, ketua kelompok tim PKM-KC ini bahwa, timnya menciptakan SWAN karena selama ini alat yang digunakan dalam melakukan pengujian siklus gait memiliki dimensi besar, dan mengharuskan pemeriksaan dilakukan di tempat alat tersebut dipasang. Dalam tim PKMM ini selain Claudia juga bersama dua temannya; Ahda Nur Laila dan Yoga Fingki Andrian.
Penggunaan sepatu dalam analisis siklus gait dapat memudahkan pengujian karena dapat dilakukan dimana saja, dan pasien tidak akan merasa kesulitan dalam melakukan pemeriksaan karena pengujian hanya dilakukan dengan berjalan menggunakan sepatu yang telah dibuat.
漇elama ini pengujian ini (siklus berjalan) memang kurang populer di kalangan masyarakat umum, tambah Claudia.

Di Indonesia sendiri, pengujian siklus gait diakuinya belum banyak dilakukan oleh masyarakat. Salah satu penyebabnya adalah ketersediaan alat di rumah sakit yang masih minim. Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO), tahun 2012 kurang lebih 500.000 orang di Indonesia mengalami cacat tubuh akibat penyakit muskoskeletal. Hal ini menyebabkan penyakit muskoskeletal menempati peringkat 9 yang menyebabkan orang hidup dalam kecacatan sepanjang sisa hidupnya.
Kemudian 12 dari 100 orang Indonesia mengalami kesulitan berjalan jauh, diikuti dengan kesulitan untuk berdiri selama 30 menit. Hal ini membuktikan bahwa abnormalitas pada Siklus Gait merupakan salah satu penyakit dengan urgensi tinggi di Indonesia, dengan tingkat penanganan yang rendah.
滽ami berharap melalui inovasi ini dapat mempermudah dan membantu masyarakat dalam melakukan uji terhadap siklus gait. Sehingga ketika terdapat kelainan pada cara berjalan dapat dilakukan penanganan secara cepat dan tepat, kata Claudia Litania. (*)
Editor : Bambang Bes





