UNAIR NEWS – Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat () Program Studi Kesehatan Masyarakat 51动漫 (UNAIR) yang tergabung dalam Kelompok 6 PKL, sukses melaksanakan program Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Desa Maron, Kabupaten Ponorogo. Tahyudin Uzi Safaat, selaku Ketua Kelompok PKL, menjelaskan bahwa tema kegiatan ini mengacu pada konsep Integrasi Layanan Primer (ILP) yang berfokus pada siklus hidup, dengan sasaran utama remaja dan dewasa muda.
Mahasiswa yang memiliki nama sapaan Didin itu menjelaskan bahwa program ini terpilih berdasarkan kondisi kesehatan masyarakat Desa Maron. Ia menjelaskan bahwa tingkat kepedulian remaja terhadap kesehatan masih tergolong rendah. “Penyakit diabetes melitus juga cukup tinggi di sini, sementara remaja belum menjadi sasaran ILP. Karena itu, kami menyasar remaja agar lebih berdaya dalam menjaga kesehatan,” ujarnya.
Pelatihan dan Simulasi ILP
Tahyudin Uzi menyebut, program PKL ini terlaksana secara berkelanjutan dalam dua kegiatan. Kegiatan pertama berupa pelatihan kader dan Karang Taruna pada Rabu (22/01/2025), yang membekali peserta dengan materi terkait ILP, diabetes melitus, dan promosi kesehatan. Nantinya beberapa remaja yang lolos seleksi kemudian tim libatkan sebagai panitia dalam tahap kedua. Tahap kedua adalah simulasi SIAP Desa Maron (Simulasi Integrasi Layanan Primer untuk Remaja dan Dewasa di Desa Maron) yang terselenggara pada Minggu (26/01/2025).

Kegiatan SIAP Desa Maron berbentuk expo kesehatan yang menargetkan masyarakat usia 1530 tahun. Tahyudin Uzi menjelaskan, expo yang terlaksana meliputi simulasi dari lima langkah ILP dengan menyertakan cek kesehatan, seperti gula darah, tinggi badan, berat badan, serta tekanan darah. Expo ini tidak hanya berfokus pada remaja, tetapi juga masyarakat dewasa awal sebagai bagian dari edukasi kesehatan terpadu. Kami juga menyertakan agenda senam pagi bersama agar remaja setempat dapat lebih antusias dan semangat dalam menjalani kegiatan, ucapnya.
Dampak dan Harapan ke Depan
Meski demikian, Tahyudin Uzi mengakui adanya tantangan dalam mengajak remaja untuk berpartisipasi. Ia mengungkapkan bahwa banyak pemuda masih malu dan kurang percaya diri, sehingga butuh usaha lebih untuk menarik minat mereka. 淣amun, tantangan tersebut terbayar dengan antusias para peserta saat mengikuti kegiatan. Besar harapan nantinya ketika pemuda sadar pentingnya menjaga kesehatan. Mereka dapat menjadi contoh bagi masyarakat dan meneruskan program ini kedepannya, jelasnya.
Beberapa pihak yang mendukung kelancaran kegiatan ini antara lain perangkat desa, bidan desa, perawat desa, Karang Taruna, serta kader kesehatan Desa Maron. Didin berharap upaya promotif dan preventif terus dikembangkan, khususnya untuk meningkatkan kepedulian remaja terhadap kesehatan. “Semoga program ini berkelanjutan dan mampu membentuk komunitas remaja peduli kesehatan, bersama pemuda Maron berdaya,” pungkasnya.
Penulis: Hana Mufidatuz Zuhrah
Editor: Edwin Fatahuddin





