UNAIR NEWS – Pengabdian masyarakat (Pengmas) menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa dalam mengembangkan potensi lokal berbasis kebutuhan warga. Hal itulah yang juga dilakukan tim penerima beasiswa Bakti BCA 51动漫 (UNAIR) untuk turut ambil peran dalam Pengmas di Kampung Genteng Candirejo, Surabaya. Puncak dari serangkaian Pengmas ditutup dengan gelar tour wisata kampung herbal, Minggu (1/6/2025).
Ketua tim, Galih Pramana Putra, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik () UNAIR, menjelaskan bahwa kegiatan pengmas telah diisi dengan beberapa rangkaian. Dimulai dengan pelatihan kepemimpinan organisasi, desain produk, hingga cipta inovasi jamu modern yang menyasar generasi muda. Pelatihan kemudian dilanjutkan dengan pendampingan pembuatan produk berkelanjutan bagi warga setempat.
Inovasi Jamu Modern
Galih menerangkan, program tour wisata bertujuan untuk memperkenalkan potensi lokal dari Kampung Herbal Genteng Candirejo kepada masyarakat luas. “Awalnya kampung ini dikenal sebagai kampung mandiri karena pengelolaan sampahnya. Namun, kami melihat potensi besar pada produk herbal yang dikembangkan warga. Kami pun melakukan pelatihan inovasi produk jamu modern, lalu ditutup dengan eksplorasi tour wisata sekaligus pendokumentasian guna meningkatkan omzet komunitas herbal,” jelas Galih.
Selain fokus pada pelatihan, Galih dan tim juga melibatkan warga muda melalui pembentukan organisasi Karang Taruna sebagai motor penggerak kampung ke depannya. 淒i telinga Gen Z ataupun milenial, jamu itu konvensional dan kurang diminati. Nah dari pelatihan tersebut, kami mengundang pemateri yang memang membuat jamu dengan target pasarnya Gen Z. Jamu itu, oleh pemateri dikemas modern dengan campuran seperti susu dan herbal sehingga tetap diterima oleh generasi muda, tambah Galih.
Keberlanjutan Program
Galih menuturkan, antusiasme masyarakat sangat tinggi terhadap kegiatan tersebut. Warga merasa terbantu karena mendapatkan solusi untuk meningkatkan omzet dan daya saing produk mereka.
“Yang paling berkesan adalah bagaimana kami harus menyatukan perspektif antargenerasi agar kegiatan berjalan efektif. Saya banyak belajar soal komunikasi lintas usia dan pemetaan potensi sosial,” ucapnya.
Kedepan, Galih berharap akan lahir minimal dua produk inovatif baru hasil dari pelatihan yang timnya berikan. Ia juga menargetkan keberlanjutan kegiatan itu dengan pendampingan lanjutan bersama Karang Taruna, mengingat keterbatasan usia sebagian warga. Penghidupan karang taruna, lanjutnya, menjadi sebuah kabar bahagia karena diharapkan bisa membantu warga untuk terus mengembangkan produk.
淚ni pengalaman pertama saya turun langsung ke masyarakat. Banyak pelajaran yang saya dapat dan ingin saya terapkan di kegiatan lain. Harapannya, semoga manfaat dari kegiatan Pengmas ini benar-benar dirasakan masyarakat, pungkas Galih.
Penulis: Nur Khovivatul Mukorrobah
Editor: Khefti Al Mawalia





