UNAIR NEWS – Seperti magnet, Indonesia dengan keberagaman budaya serta kekayaan alam yang melimpah mampu memikat hati masyarakat dunia. Selain sebagai sasaran destinasi wisata, Indonesia juga kerap menjadi negara tujuan riset para peneliti dunia.
Alasan serupa medorong Lisa Alofs dan Rutger Iysselstein, dua mahasiswa pendidikan Master dari Department of virology, Universitas Erasmus, Belanda untuk melakukan penelitian di Indonesia.
Ditemui dalam kesempatan khusus, Lisa menuturkan bahwa kegiatan kolaborasi penelitian tersebut sudah terjalin cukup lama. Setiap tahun, mahasiswa Universitas Erasmus datang ke Indonesia melakukan penelitian bersama.
Di tempatnya belajar melakukan riset merupakan salah satu syarat kelulusan. Di tahun ke empat mahasiswa program pendidikan master diwajibkan melakukan penelitian selama 21 minggu di mana saja.
淯mumnya mahasiswa lain melakukan riset di Belanda. Sementara kami memilih datang ke Indonesia, ungkap Rutger atau yang akrab disapa Yusuf tersebut.
Kenapa tertarik di Indonesia? Because I Love Indonesia, ungkap Yusuf. Sementara jawaban Lisa lebih konkret. 淪aya ingin menempuh studi di luar negeri khususnya di Asia. Sementara alasan memilih Indonesia karena masyarakat di sini baik, ramah. Dan itu memang benar adanya, ungkapnya.
Selama enam bulan, kegiatan penelitian mereka didampingi oleh sejumlah peneliti dari Divisi Tropik-Infeksi. Departemen-SMF Ilmu Penyakit Dalam FK UNAIR- RSUD Dr. Soetomo, antara lain Musofa Rusli, dr., Sp.PD dan Prof. Usman Hadi, dr,. Sp.PD., K-PTI., Ph.D. Mereka tidak hanya bekerjasama di bidang riset, kedua institusi tersebut juga saling mendukung dalam hal publikasi internasional.
Kegiatan penelitian mereka banyak dilakukan di Laboratorium RSUD Dr. Soetomo-FK UNAIR, Rumah Sakit 51动漫 serta Institute of Tropical Diseases (ITD) UNAIR.
Lisa dan Yusuf mengobservasi berbagai penyakit tropis disini. Mulai dari mengambil sampel darah dari pasien dan dilanjutkan dengan mengumpulkan symptom dari pasien tersebut, apakah disertai dengan gejala sakit kepala, demam, atau lainnya. Setelah itu, mereka menganalisis berbagai gejala yang ada, selanjutnya menyimpulkan jenis virusnya. Dari hasil yang mereka peroleh, selanjutnya dilakukan identifikasi secara klinis.
淜asus penyakit tropis di Indonesia dengan Belanda sangat jauh perbandingannya. Prevalensi penderita penyakit tropis di Belanda seperti demam berdarah sangatlah sedikit. Rata-rata mereka terjangkit setelah melakukan perjalanan ke luar negeri, dan kembali pulang ke Belanda dengan membawa penyakit, ungkap Lisa.
Perempuan kelahiran 24 Februari 1993 ini tak mengira, jika ternyata prevalensi penyakit tropis di Indonesia cukup tinggi. 淟ebih dari yang saya kira dan sayangnya banyak orang meninggal karena penyakit tropis ini, ungkapnya.
Lisa berencana akan membawa pulang beberapa hasil observasinya ke Belanda untuk dianalisis. 淛adi sekarang saya masih mengumpulkan beberapa sample darah dari pasien. Setelah itu blood sample ini akan saya analisis di Belanda, ungkapnya.
Tak dipungkiri, siapapun dapat beresiko terjangkit berbagai jenis penyakit tropis, terlebih lagi masyarakat yang tinggal di negara tropis seperti Indonesia.
Sebelum terjangkit, Lisa dan Yusuf menyarankan pentingnya kesadaran untuk mencegah. Ada baiknya masyarakat mengenali gejala-gejala terjangkitnya penyakit tropis, semisal demam berdarah.
淒i sini banyak nyamuknya, jadi harus pakai lotion anti nyamuk sebelum tidur. Ini bentuk pencegahan supaya tidak tergigit nyamuk. Dan pencegahan itu sangat penting,漸ngkap Lisa.
Sementara itu, Yusuf menilai kesadaran untuk segera tanggap ketika merasakan keluhan adalah penting untuk dilakukan. 淪emua berawal dari kesadaran. Ketika sudah merasakan tidak enak badan, demam, dan gejala lain yang sekiranya mencurigakan, maka harusnya segera ke dokter. Jangan menunggu lama sampai penyakit semakin parah, ungkap pria kelahiran Juni 1995 ini.
Kegiatan penelitian kolaborasi tersebut akan berakhir hingga Desember 2017 mendatang. Yusuf dan Lisa berharap kerjasama penelitian kolaborasi yang sudah terbangun selama bertahun- tahun antara Universitas Erasmus dan FK UNAIR dapat terjalin dengan baik.
淔K UNAIR dan Universitas Erasmus sudah banyak melakukan penelitian dan pengembangan ilmu bersama-sama. Kami berharap kerjasama ini dapat terus terjalin dan membawa manfaat yang lebih banyak lagi, ungkap Yusuf.
Kedatangan Lisa ke Indonesia adalah untuk pertama kalinya. Sementara Yusuf sebelumnya sudah lebih dulu keliling Indonesia, karena punya teman di Papua. Meskipun keseharian mereka diisi dengan kegiatan meneliti, namun kedua mahasiswa ini masih meluangkan waktu untuk menikmati Surabaya, termasuk kulinernya.
淪aya ada SIM, Helm dan Sepeda motor. Jadi sewaktu-waktu kami bisa bersepeda kemanapun, ungkap pria pecinta ayam bakar ini. Sementara Lisa mengaku tidak memiliki masalah dengan makanan Indonesia. Saya suka nasi pecel, dan itu tidak masalah karena saya pecinta makanan pedas, ungkapnya.
Dua kata untuk Indonesia? 淕ood Life! kata Lisa, disusul Yusuf yang spontan mengatakan 淚t檚 amazing, kelakarnya.
Penulis : Sefya Hayu
Editor : Nuri Hermawan





