Operasi bedah rongga dada atau toraks adalah prosedur yang sering menyebabkan nyeri pasca operasi yang parah. Tingkat keparahan dan nyeri pasca operasi ini rata-rata dinilai dengan skala nyeri lebih dari 7 (nyeri berat) dengan angka kejadian 63%. Oleh karena itu, diperlukan manajemen nyeri yang baik setelah operasi bedah rongga dada yang mencakup pengurangan komplikasi dan mendorong pemulihan dini. Pembiusan yang efektif terbukti menurunkan risiko komplikasi dengan membuat pasien dapat bernapas lebih baik, melakukan batuk efektif, dan pemulihan lebih cepat. Standar emas untuk mengatasi nyeri pasca operasi bedah rongga dada adalah bius epidural toraks/thoracic epidural analgesia (TEA). Pemberian bius ini tidak hanya menghambat transmisi nyeri ke otak, namun juga memiliki manfaat tambahan yaitu mengurangi stres pasca operasi dengan menghambat aktivitas simpatis otak. Namun, penggunaan teknik ini memiliki banyak kelemahan. Efek samping yang mungkin ditimbulkan oleh bius ini meliputi tekanan darah rendah, mual – muntah pasca operasi (PONV), detak jantung lemah, dan depresi pernafasan. Pemasangan kateter epidural juga memiliki tingkat kesalahan yang tinggi hingga mencapai 30%. Sebuah studi yang mengamati sebanyak 3.126 pasien selama 10 tahun juga melaporkan beberapa insiden komplikasi TEA seperti tekanan darah rendah (4,8%), gatal di kulit (4,4%), kelemahan anggota gerak (2,0%), mual “ muntah (1,8%), dan sakit kepala (0,5%). Selain itu, meskipun jarang, komplikasi besar seperti infeksi epidural yang menyebabkan gejala sisa permanen (0,03%) juga bisa terjadi.
Blok serratus anterior/serratus anterior plane block (SAPB) merupakan alternatif bius pada operasi bedah rongga dada yang pertama kali diperkenalkan oleh Blanco dkk. pada tahun 2013. Studi mereka melaporkan pemblokiran efektif pada semua pasien tanpa efek samping. Selain itu, mereka menunjukkan bahwa teknik SAPB secara umum bersifat sederhana dan mudah dilakukan. Beberapa penelitian telah menyebutkan bahwa SAPB memiliki manfaat yang cukup baik pada pengelolaan nyeri setelah operasi rongga dada dan melaporkan kejadian efek samping yang lebih sedikit dibandingkan dengan kelompok kontrol. Akan tetapi, belum ada penelitian yang langsung membandingkan antara SAPB dan TEA sebagai metode pembiusan yang direkomendasikan untuk pasca operasi rongga dada. Oleh karena itu, kami melakukan penelitian dengan pendekatan tinjauan sistematis dan meta analisis untuk mengetahui efektivitas dan perbandingan secara langsung antara SAPB dan TEA pada operasi rongga dada.
Kami menerapkan pencarian sistematis di beberapa database jurnal untuk semua uji klinis acak terkontrol yang membandingkan SAPB dan TEA dalam pembedahan rongga dada. Hasil yang dievaluasi meliputi skala nyeri/visual analog score (VAS), penurunan tekanan darah, dan mual – muntah pasca operasi. Kami juga melakukan meta analisis dengan software Review Manager untuk analisis statistik. Melalui metode tersebut, kami mendapatkan enam studi dengan total 384 subyek yang menjalani operasi rongga dada. Tidak terdapat perbedaan skor nyeri dan kejadian mual “ muntah yang bermakna antara SAPB dan TEA. Penurunan tekanan darah lebih jarang terjadi pada SAPB dibandingkan dengan TEA. Hal ini menunjukkan bahwa SAPB menghasilkan skor nyeri dan risiko mual “ muntah yang sebanding dengan TEA dalam manajemen nyeri pada operasi daerah toraks. Akan tetapi, SAPB memiliki keunggulan berupa risiko kejadian tekanan darah rendah yang lebih jarang dibandingkan pada TEA.
Secara mekanisme, SAPB dapat menghambat cabang persarafan lateral dan anterior kutaneus yang berasal dari saraf intercostal kedua hingga keenam dari rongga dada. SAPB selama ini diperuntukkan bagi operasi pembelahan dada, operasi payudara, dan sindroma nyeri pasca operasi pengambilan payudara. Berbagai operasi tersebut dapat menyebabkan gejala nosiseptif dan neuropati yang disebabkan oleh lesi pada saraf perifer dan dapat menyebabkan nyeri kronis. Proses tersebut dapat dicegah oleh SAPB melalui blok pada sistem saraf terkait. SAPB juga memiliki keunggulan dibandingkan TEA dalam hal penurunan tekanan darah yang lebih jarang. Turunnya tekanan darah sebagai komplikasi pembiusan merupakan hal yang berbahaya karena dapat menyebabkan syok pada pasien. Pembiusan epidural tinggi, termasuk TEA, dapat menghambat saraf aferen jantung dan eferen simpatis, sehingga mengganggu irama jantung dan menurunkan tekanan darah. SAPB lebih jarang menyebabkan hal tersebut, sehingga relatif aman dibandingkan TEA. Dengan mempertimbangkan berbagai kelebihan SAPB tersebut, SAPB dapat menjadi alternatif pengganti TEA dalam pembiusan operasi bedah rongga dada.
Penulis: Citrawati Dyah Kencono Wungu
Dosen Fakultas Kedokteran Unair
Artikel Ilmiah Populer ini diambil dari artikel dengan judul: Efficacy and safety of the serratus anterior block compared to thoracic epidural analgesia in surgery: Systematic review and meta‘analysis yang dimuat pada jurnal ilmiah Tzu Chi Medical Journal vol 35 no 4 tahun 2023.
Link artikel asli dapat dilihat pada: https://journals.lww.com/tcmj/fulltext/2023/35040/efficacy_and_safety_of_the_serratus_anterior_block.8.aspx





