Kanker endometrium merupakan penyebab kematian nomor 3 akibat kanker pada perempuan di Indonesia. Angka kejadian dan kematian akibat penyakit ini diperkirakan akan meningkat masing-masing sebesar 20,3% dan 17.4% pada tahun 2025. Tingginya presentase kematian akibat kanker menandakan bahwa penelitian terkait kasus ini harus terus dikembangkan. Paradigma terapeutik telah bergeser seiring dengan kemajuan penelitian tentang kanker endometrium dan terapi presisi.
National Comprehensive Cancer Network (NCCN) telah merekomendasikan penggunaan agen imunoterapi, seperti penghambat programmed death (PD-1) untuk terapi kanker. Namun, kemajuan PD-1 dapat dipengaruhi oleh ekspresi ligannya, seperti PD-L1. Hubungan ekspresi PD-L1 dan reseptor estrogen dengan kanker endometrium menjadi penting untuk diteliti.
Penelitian yang dilakukan oleh divisi onkologi ginekologi departemen obstetri dan ginekologi RSUD Dr.Soetomo, menunjukkan bahwa, ekspresi reseptor estrogen pada kanker endometrium tpe 1 cenderung lebih banyak terjadi pada pasien yang berusia <55 tahun, sedangkan PD-L1 cenderung pada pasien berusia >55 tahun. Ekspresi reseptor estrogen lebih banya ditemui pada pasien kanker endometrium tipe 1 stadium awal, sementara PD-L1 lebih banyak pada pasien dengan stadium lanjut.
1. Reseptor estrogen diketahui berkorelasi positif dengan indeks massa tubuh (IMT) >25 m/kg2, status pramenopause, penyakit tahap awal, invasi myometrium <1/2, metstasis kelenjar getah bering negatif, dan kurangnya terapi adjuvan. Sementara itu, PD-L1 berkorelasi signifikan positif dengan IMT<25 m/kg2, status menopause, penyakit stadium lanjut, high grade cells, invasi angiolimfatik, dan terapi adjuvan.
Jadi dapat disimpulkan bahwa, reseptor estrogen dan programmed death ligand-1 (PD-L1), berhubungan dengan karakteristik klinikopatologi kanker endometrium tipe 1. Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk menemukan strategi kombinasi terapi dan biomarker yang spesifik untuk memprediksi respon imunoterapi secara akurat. Hormon dan faktor imunitas, berpotensi besar menjadi penanda alami atau agen terapeutik pada kanker endometrium.
Penulis: Brahmana Askandar Tjokroprawiro
Artikel lengkapnya dapat dibaca melalui link berikut





