Myostatin adalah protein yang dikenal mengatur pertumbuhan dan metabolisme otot rangka. Protein ini berfungsi sebagai penghambat kuat pertumbuhan otot rangka, di mana kekurangannya dapat meningkatkan massa otot. Penelitian menunjukkan bahwa myostatin memiliki peran penting dalam penyakit yang menyebabkan pengecilan otot, seperti sarkopenia. Survei nasional di Indonesia menunjukkan bahwa prevalensi sarkopenia bervariasi dalam berbagai penelitian, berkisar antara 17,6% hingga 50,25% di kalangan lansia. Memahami struktur dan mekanisme myostatin sangat penting untuk mengembangkan pendekatan terapeutik praktis dalam mengelola kondisi otot dan tulang guna meningkatkan kesehatan secara keseluruhan. Berbagai intervensi, seperti konsumsi kopi dan olahraga, diketahui dapat menurunkan kadar myostatin sehingga membantu menjaga kesehatan otot dan mencegah terjadinya sarkopenia.
Intervensi diet seperti konsumsi kopi menarik perhatian para peneliti karena banyak penggemar kebugaran menggunakannya sebelum latihan. Kopi Robusta menjadi sorotan karena kandungan kafein, asam klorogenat, dan antioksidannya yang lebih tinggi dibanding Arabika. Studi terbaru menunjukkan konsumsi kopi berhubungan dengan massa otot yang lebih baik dan fungsi fisik yang meningkat, berkat kemampuannya menghambat myostatin. Efek anti inflamasi dari kopi dapat juga meningkatkan masa otot dan terhindari dari atrofi.
Myostatin mengatur atrofi dan hipertrofi otot melalui berbagai mekanisme. Atrofi otot terjadi jika terdapat myostatin yang mengaktifkan jalur Smad2 dan Smad3 melalui sistem ubiquitin-proteasome yang mengaktifkan sinyal NF-魏B, sedangkan hipertrofi otot dipicu oleh jalur IGF-1 melalui aktivasi Akt-mTOR. Inhibisi dari myostatin dapat dijadikan dasar fokus sebagai terapi untuk sarkopenia. Meskipun kadar myostatin terkait dengan massa otot dan performa fisik, faktor lain seperti usia, jenis kelamin, aktivitas fisik, dan komorbiditas menyebabkan hasil yang beragam sehingga myostatin belum bisa dijadikan sebagai biomarker tunggal. Meskipun demikian, myostatin berpotensi menjadi penanda gangguan pengecilan otot.
Hasil penelitian tentang efek olahraga terhadap kadar myostatin menunjukkan hasil yang bervariasi. Pada pasien dengan penyakit kronis, kadar myostatin cenderung meningkat setelah berolahraga. Misalnya, latihan resistensi meningkatkan kadar myostatin serum pada pasien penyakit ginjal kronis. Sebaliknya, latihan ketahanan dan resistensi menurunkan kadar myostatin pada tikus tua dengan meningkatkan ekspresi IGF-1. Mekanisme penurunan myostatin ini melibatkan aktivasi sinyal NF-魏B, seperti yang terlihat pada model tikus penyakit Parkinson yang diberikan latihan ketahanan. Latihan seperti berenang juga terbukti menurunkan kadar myostatin pada model sindrom metabolik, begitu pula dengan olahraga aerobik pada tikus diabetes tipe 1, yang kemungkinan disebabkan oleh penurunan sitokin inflamasi.
Menariknya, kadar myostatin plasma awalnya berhubungan positif dengan massa otot dan performa fisik pada pasien ginjal kronis, tetapi hubungan ini melemah setelah 12 bulan berolahraga. Sebuah tinjauan sistematis terhadap 26 studi acak menemukan bahwa latihan resistensi pada orang dewasa efektif menurunkan kadar myostatin dan dapat meningkatkan massa otot. Secara umum, efek olahraga terhadap kadar myostatin bergantung pada jenis dan intensitas olahraga serta kondisi populasi yang diteliti. Namun, pada individu tanpa komplikasi kronis, olahraga dalam bentuk apa pun cenderung menurunkan kadar myostatin setelah dilakukan dalam durasi tertentu.
Gaya hidup konsumsi kopi sebagai pra-latihan cukup populer di kalangan penggemar atlet. Penelitian mengenai efek sinergis antara konsumsi kopi dan olahraga masih terbatas. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa konsumsi kopi Robusta dapat mengurangi efek oksidan tubuh akibat olahraga berlebihan sehingga melindungi jaringan otot. Penelitian lain menunjukkan olahraga aerobik yang dipadukan dengan suplementasi kopi Robusta dapat memperbaiki sensitivitas insulin, yang juga sejalan dengan penurunan myostatin. Namun, efek suplemen diet dan olahraga terhadap kadar myostatin tidak konsisten, dengan beberapa penelitian menunjukkan peningkatan, penurunan, atau efek netral. Suplementasi epicatechin, meskipun tidak ditemukan dalam jumlah signifikan di kopi, dapat ditemukan pada daun kopi kering yang dipadukan dengan latihan resistensi, yang secara signifikan menurunkan kadar myostatin, meningkatkan kekuatan dan fungsi otot pada orang dewasa yang lebih tua dengan sarcopenia. Olahraga, terutama latihan resistensi dan daya tahan, nutrisi yang tepat, dan asupan vitamin D sangat penting dalam mencegah osteoporosis dan sarcopenia. Meskipun temuan ini menunjukkan interaksi yang menjanjikan antara olahraga dan konsumsi kopi terhadap faktor-faktor terkait otot, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami sepenuhnya efek gabungannya terhadap kadar myostatin dan kesehatan otot.
Kombinasi konsumsi kopi Robusta dengan olahraga berpotensi menurunkan kadar myostatin yang akan mempengaruhi kesehatan otot. Penurunan kadar myostatin meningkatkan massa otot, yang dapat mencegah kondisi penurunan massa otot seperti sarkopenia. Hal ini juga menekankan perlunya penelitian lebih lanjut untuk mengeksplorasi efek jangka panjang dari intervensi ini serta kondisi optimalnya. Memahami kedua reaksi ini dapat mengarah pada pengembangan strategi baru untuk mencegah dan mengobati gangguan penurunan massa otot, yang pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas hidup individu yang berisiko terkena kondisi ini.
Penulis: Karim Habibi, Hayuris Kinandita Setiawan, Ema Qurnianingsih, Abdul Khairul Rizki Purba, Lilik Herawati
Informasi detail dari review artikel ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Habibi, Karim & Setiawan, Hayuris & Qurnianingsih, Ema & Purba, Abdul & Herawati, Lilik. (2024). Unlocking muscle health: The synergistic impact of robusta coffee and exercise on myostatin regulation. GSC Advanced Research and Reviews. 20. 088-094. 10.30574/gscarr.2024.20.3.0332.





