51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Manifestasi Klinis COVID-19 pada Pasien Asma, Hipertensi dan Diabetes Mellitus

Foto by iStock

Pada  Desember  2019,  kasus  pneumonia  yang  tidak  diketahui  dilaporkan terjadi  di  Wuhan,  China.  National Health Commission (NHC) mengumumkan bahwa penyebabnya adalah SARS-CoV-2. World Health Organization (WHO) melabeli SARS-CoV-2 sebagai  penyakit COVID-19 yang berpotensi  menjadi  penyakit  parah dan menetapkan wabah SARS-CoV-2 adalah masuk dalam kategori pandemi. Gejala COVID-19 antara lain infeksi  saluran  pernapasan  atas  ringan,  pneumonia berat,  dan  kematian  akibat  gagal  napas  akut.  Faktor internal individu seperti: usia  lanjut,  merokok,  dan  penyakit  penyerta, merupakan faktor pemicu munculnya keparahan infeksi COVID-19. SARS-CoV-2 dapat menginfeksi segala usia, tetapi mereka yang berusia  di  atas  60  tahun  memiliki  risiko  infeksi  yang  lebih  tinggi,  seperti  halnya  mereka  yang  menderita  penyakit  pernapasan  kronis,  Diabete Melitus (DM),  atau  penyakit  pembuluh darah.

Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti 51¶¯Âþ bekerjasama dengan Universitas Hang Tuah melakukan identifikasi terhadap manisfestasi klinis akibat infeksi COVID-19 pada pasien “ pasien dengan penyakit penyerta yaitu hipertensi, DM, dan asma. Penelitian tersebut berhasil diterbitkan di jurnal internasional terindeks SCOPUS Q2 yaitu Journal of Medicine and Life. Penelitian dilaksanakan di Rumah Sakit Dr. Ramelan Surabaya dengan mengamati beberapa parameter klinis pada pasien positif COVD-19 selama 7-10 hari.

Total terdapat 540 pasien dengan 40 diantaranya menderita asma, 250 hipertensi, dan 250 lainnya menderita DM. Usia rata-rata pasien adalah 56 tahun dan secara statistik tidak ada perbedaan usia antara kelompok DM, hiperetensi, maupun asma. Berdasarkan lama rawat inap, pasien dengan hipertensi mempunyai lama rawat inap paling lama yaitu 13 ± 8,5 hari. Sedangkan, untuk pasien asma dan diabetes masing “ masing 10 ± 7,7 hari dan 10 ± 6,6 hari, tidak jauh berbeda. Hasil ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menyebutkan bahwa pasien COVID-19 yang dengan riwayat hipertensi  cenderung  memilki keparahan  penyakit  yang  lebih  besar  dan perkembangan  yang  merugikan  daripada  pasien  non-hipertensi sehingga, membutuhkan  pengobatan  tambahan  dan memungkinkan untuk dirawat dalam waktu yang lebih lama.

Meskipun memakan waktu lama rawat inap yang lebih lama, pasien dengan hipertensi memiliki tingkat kesembuhan yang paling tinggi. Terbukti dengan jumlah pasien hipertensi yang berstatus sehat dan membaik diakhir perawatan adalah sebanyak 39 dan 137 orang, sedangkan pasien DM dan asma yang sehat masing “ masing 21 dan 9 orang dan yang membaik 117 dan 19 orang. Untuk tingkat kematian paling tinggi dialami oleh pasien dengan DM yaitu 109 orang. Hal ini berkaitan dengan kadar gula darah yang tinggi yang dialami oleh pasien DM. Studi sebelumnya mengungkap bahwa kadar gula darah yang tinggi merupakan faktor utama kematian pasien COVID-19.

Pemeriksaan tanda-tanda vital (tekanan darah, suhu, saturasi oksigen, dan laju pernafasan) menunjukkan  bahwa  pasien  COVID-19 dengan  DM memiliki  rata-rata  saturasi  oksigen  dan  laju  pernapasan paling  rendah.  Sedangkan, pasien asma  memiliki  laju pernapasan  ratarata tertinggi dibandingkan pasien DM dan hipertensi. Hasil pemeriksaan laboratorium  mengungkapkan  dua  perbedaan yang  signifikan  pada kadar  limfosit  dan  hematokrit.  Di dalam tubuh manusia, limfosit merupakan  sel  imun  terpenting  yang  mengatur  sistem kekebalan tubuh. Penurunan jumlah total limfosit menunjukkan  bahwa  virus  corona  telah  memakan banyak  sel  kekebalan  dan  umum  terjadi  pada  pasien  yang  kritis. Hasil penelitian ini  menemukan  bahwa  kadar  limfosit  dan  hematokrit  yang lebih rendah dibandingkan  dengan  kisaran  normal ditemukan pada  semua  komorbiditas. Selain limfosit, penurunan kadar atau jumlah juga terjadi pada sel  darah  merah,  hemoglobin,  hematokrit. Kondisi ini ditemukan  pada  kelompok  pasien  COVID-19  dengan tingkat keparahan kategori  parah (severe).

Meskipun  penelitian  ini  tidak  menemukan  perbedaan  yang  signifikan pada  kadar  leukosit  dan  d-dimer,  namun  secara kuantitatif nilainya  meningkat.  Hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi  badai  peradangan  yang  lebih  parah  dan  cedera  multiorgan yang  parah  pada  pasien  COVID-19  Selain  itu,  penelitian  sebelumnya melaporkan  bahwa  peningkatan  d-dimer  dan  leukosit  dikaitkan  dengan  tingkat keparahan yang tinggi  pada  pasien  COVID-19. Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa pada pasien  dengan  COVID-19  dan  komorbiditas  asma,  hipertensi,  dan diabetes  terdapat perbedaan  yang  signifikan  pada  kondisi  akhir,  lama rawat  inap,  saturasi  oksigen  dan  laju  pernapasan,  serta  kadar  hematologi,  terutama  jumlah  limfosit  dan  hematokrit. Pengobatan, usia, dan  kondisi  infeksi  dapat  menjadi  faktor  penentu munculnya  luaran  yang  berbeda  pada  setiap  jenis  komorbiditas.

Penulis: Retno Budiarti,  Ediono  Ediono,  Mohammad  Kalaznykov,  Yoshio  Yamaoka,  Muhammad  Miftahussurur

Artikel  lengkap dapat diakses pada:

AKSES CEPAT