Masa remaja merupakan masa kritis dan formatif dimana individu memulai transisinya dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Memastikan bahwa remaja mendapat dukungan penuh dalam semua aspek kehidupan, termasuk kesehatan mental dan kesejahteraan mereka, sangat penting untuk mendorong transisi ini dan meletakkan dasar bagi masa dewasa yang sehat dan produktif. Remaja merupakan individu dengan batasan usia biologis pada usia 13-19 tahun (Deighton-Smith & Bell, 2017). Kondisi kesehatan mental merupakan beban penyakit yang besar bagi remaja secara global. Pada tahun 2019, diperkirakan satu dari tujuh remaja mengalami gangguan jiwa. Jumlah ini diperkirakan berjumlah 166 juta remaja (89 juta laki-laki dan 77 juta perempuan) laki-laki dan perempuan di seluruh dunia (Unicef, 2021). Stres merupaan salah satu masalah kesehatan mental yang paling umum dan banyak terjadi bukan hanya pada kelompok dewasa tetapi juga pada remaja.
Stres dapat diartikan sebagai keadaan kekhawatiran atau ketegangan mental yang disebabkan oleh situasi sulit. Stres adalah respons alami manusia yang mendorong kita untuk mengatasi tantangan dan ancaman dalam hidup kita (WHO, 2023). Stres adalah reaksi normal terhadap tekanan sehari-hari, namun bisa menjadi tidak sehat jika mengganggu aktivitas sehari-hari. Stres melibatkan perubahan yang mempengaruhi hampir setiap sistem tubuh, mempengaruhi perasaan dan perilaku seseorang. Kondisi tersebut menyebabkan perubahan pikiran-tubuh, stres berkontribusi langsung terhadap gangguan dan penyakit psikologis dan fisiologis serta mempengaruhi kesehatan mental dan fisik, sehingga menurunkan kualitas hidup (American Psychological, 2021).
Net generation atau generasi internet merupakan generasi yang sangat adaptif dengan teknologi. Net generation juga terbiasa menggunakan internet dan berkelana dari satu situs ke situs lain untuk mencari berbagai informasi melalui Google, serta berkomunikasi melalui surat elektronik dan media sosial. Generasi yang akrab dengan teknologi komunikasi dan informasi atau generasi net sering disebut sebagai generasi Z (digital natives) (Abrar, 2020). Karakteristik remaja generasi daya tahan kurang, remaja terbiasa dengan kemudahan, sehingga membuat mereka kurang dapat bertahan pada situasi yang kurang nyaman, kondisi ini menyebabkan munculnya masalah kesehatan mental dan stres. (Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2021). Berdasarkan karakteristik remaja generasi net atau generasi z saat ini yang memiliki risiko untuk mengalami stres (Sandars & Morrison, 2007). Remaja menunjukkan perilaku menyimpang dengan minum alkohol pada usia kurang dari 14 tahun sebanyak 24,4% dan pada usia 15-19 tahun sebanyak 29,2%, prevalensi gangguan mental emosional pada usia lebih dari 15 tahun sebesar 8,7% (Riskesdas, 2018).
Semua remaja di perkotaan mengalami masalah kesehatan mental terutama stres, namun level stres yang dialami berbeda-beda mulai pada level yang dinilai sedang hingga level berat. Pengalaman stres yang pernah dialami oleh remaja beragam stres berat yang dirasakan pernah dialami saat masih SD, SMP atau SMA. Sebagaian besar informan menyatakan bahwa pengalaman stres yang dialami berupa perceraian orangtua, ujian sekolah atau menjadi korban pelecehan seksual.
Determinan penyebab stres pada remaja di perkotaan meliputi 5 faktor yaitu faktor keluarga seperti perceraian orangtua, masalah ekonomi keluarga, dibandingkan dengan orang lain, hutang, dan tidak ada komunikasi dengan orangtua. faktor akademik meliputi tugas sekolah yang banyak dan akan ujian. Faktor individu yaitu sifat introvert dan overthingking, perilaku pacaran, dan faktor lingkungan.
Coping mechanism yang dilakukan oleh remaja mengarah pada 2 hal yaitu negatif dan positif. Perilaku negatif dilakukan dengan mengurung diri, self harm, emosi berlebihan seperti menangis, berteriak, ada keinginan dan upaya untuk bunuh diri. Sedangkan perilaku positif mengarah pada ibadah, menyenangkan diri sendiri me time yang dilakukan sendiri atau bersama teman-teman, cerita, merencanakan cita-cita dan menentukan tujuan hidup
Akses media yang digunakan untuk literasi yang dibutuhkan oleh remaja dominan pada website dengan beberapa alasan bahwa murah, mudah dan bisa kapanpun dibaca, selain itu sumber informasi diperoleh dari sekolah dan puskesmas. Sehingga diperlukan juga akses terhadap informasi yang lengkap dan terpercaya. Dengan adanya media Literasi untuk masalah kesehatan mental ini dapat mencegah munculnya masalah kesehatan mental pada remaja dan mengurangi resiko keparahan.
Meskipun stres sebenarnya adalah masalah kesehatan mental yang umum terjadi namun bagi remaja masalah ini menjadi hal yang dapat memicu masalah kesehatan mental yang lebih parah hal ini terbukti dari coping stress mechanism yang tidak dapat dilakukan atau dalam bentuk negatif berupa keinginan bunuh diri atau perilaku percobaan bunuh diri. Hal ini perlu diwaspadai agar jangan sampai terjadi keparahan pada kondisi kesehatan mental remaja yang berujung pada bunuh diri.
Penulis: Riris Diana Rachmayanti
Judul artikel penelitian: Qualitative Phenomenological Study: Understanding the Experience of Adolescents Mental Health Problems in Urban Areas





