Helicobacter pylori (H. pylori) merupakan bakteri gram negatif yang hidup di lapisan dinding lambung, dan menjadi salah satu penyebab umum terjadinya gastritis kronis. Infeksi bakteri ini juga dapat menimbulkan penyakit lain seperti ulkus peptikum, ulkus duodenum, kanker lambung, serta limfoma jaringan limfoid terkait mukosa lambung. Meskipun secara global terjadi penurunan prevalensi infeksi H. pylori dari 52,6% pada tahun 1990 menjadi 43,9% pada periode 2015 hingga 2022, namun perkembangan jumlah kasus baru kanker lambung masih cukup tinggi, yakni mencapai 1.000.000 kasus di tahun 2020. Eradikasi H.pylori dilakukan sebagai upaya pengobatan untuk menghilangkan bakteri tersebut dari lambung. Bismuth quadruple therapy (BQT) direkomendasikan sebagai terapi lini pertama untuk eradikasi H. pylori, karena terjadi resistensi klaritromisin dalam beberapa tahun terakhir dan menyebabkan angka kegagalan triple therapy naik menjadi lebih dari 20%. Tetapi, tingkat eradikasi BQT juga masih berada dibawah target minimal standar (>90%). Untuk mengatasi masalah tersebut, dikembangkan agen penekan asam baru yang dikenal sebagai potassium-competitive acid blocker (P-CAB).
Berdasarkan latarbelakang tersebut, peneliti dari Oita University, Jepang bekerjasama dengan peneliti dari Divisi Gastroentero-Hepatology, Departemen Ilmu Penyakit Dalam, 51动漫 melakukan tinjauan literatur menggunakan basis data PubMed, Cochrane Library, ProQuest, dan Scopus dalam menyajikan informasi terkait perbandingan penggunaan BQT berbasis P-CAB dan BQT berbasis PPI untuk eradikasi infeksi H. pylori. Tinjauan literatur tersebut berhasil dipublikasikan pada jurnal internasional terindeks Scopus Kuartil 3 (Q3) yaitu Gastro Hep Advances.
Berdasarkan hasil studi yang telah dianalisis menemukan beberapa perbandingan antara BQT berbasis P-CAB dan BQT berbasis PPI, yaitu: (a) pada BQT berbasis P-CAB, obat yang paling banyak digunakan adalah vonoprazan, diikuti dengan tegoprazan dan keverprazan. Sedangkan, BQT berbasis PPI, menggunakan lansoprazole, esomeprazole, dan ilaprazol. Sebagian besar menggunakan amoksisilin dan klaritromisin sebagai antibiotik utama, dengan variasi tambahan seperti tetrasiklin dan metronidazol pada regimen berbasis tegoprazan dan vonoprazan, atau furazolidon pada regimen berbasis vonoprazan dan ilaprazol. Secara umum, durasi terapi selama 14 hari memberikan hasil eradikasi yang lebih baik dibandingkan 10 hari. Namun, beberapa laporan menunjukkan bahwa regimen 10 hari tidak kalah efektif, meskipun data pendukung masih terbatas. (b) BQT berbasis P-CAB lebih unggul dibandingkan BQT berbasis PPI sebagai terapi lini pertama untuk infeksi H. pylori, dengan tingkat eradikasi lebih tinggi secara konsisten, meskipun antibiotik yang digunakan bervariasi. Dibuktikan dengan hasil studi yang melaporkan tingkat eradikasi tinggi (90,1%) dengan kombinasi vonoprazan, amoksisilin, minosiklin, dan koloidal bismut pektin. (c) Keunggulan BQT berbasis P-CAB dibandingkan BQT berbasis PPI disebabkan oleh kemampuan P-CAB dalam mempertahankan pH intragastrik optimal, yang penting bagi stabilitas antibiotik dan efektivitas eradikasi, dengan menghasilkan rasio waktu pH >4 (HTR) yang lebih tinggi dibandingkan PPI. Selain itu, variabilitas metabolisme PPI akibat polimorfisme genetik CYP2C19 juga memengaruhi efektivitasnya, sedangkan P-CAB tidak terpengaruh oleh faktor tersebut. (d) Dari aspek keamanan, baik BQT berbasis P-CAB maupun PPI memiliki efek samping ringan hingga sedang, seperti gangguan pencernaan, perubahan rasa,dan sakit kepala. Efek samping serius jarang terjadi, dan tingkat penghentian terapi rendah, menunjukkan tolerabilitas yang baik pada kedua regimen.
Tingkat kepatuhan pasien juga menjadi faktor penting, karena ketidakpatuhan dapat memicu resistensi antibiotik. Beberapa regimen dengan beban obat tinggi, durasi panjang, atau efek samping lebih sering terkait dengan kegagalan terapi. Efektivitas optimal BQT juga sangat dipengaruhi oleh pola resistensi antibiotik di wilayah setempat. Keterbatasan dari penelitian ini adalah heterogenitas desain studi, variasi kombinasi antibiotik, jenis obat penekan asam, serta jenis bismut yang digunakan. Selain itu, hampir semua studi dilakukan di Asia Timur dengan regimen klasik.
Berdasarkan hasil tinjauan literatur yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa terapi BQT berbasis P-CAB sedikit lebih efektif dibandingkan dengan BQT berbasis PPI dalam menghilangkan H. pylori, dengan tingkat heterogenitas yang minimal. Namun, analisis meta-jaringan memperlihatkan bahwa regimen berbasis vonoprazan tidak menunjukkan keunggulan yang signifikan secara statistik dibandingkan dengan regimen berbasis esomeprazol. Tetapi, baik vonoprazan- maupun esomeprazole-berbasis BQT dapat direkomendasikan sebagai terapi lini pertama eradikasi H. pylori karena efektivitasnya yang terbukti serta profil keamanannya yang baik, dengan catatan tetap mempertimbangkan pola resistensi antibiotik lokal untuk menentukan pilihan terapi yang paling tepat. Keterbatasan berupa heterogenitas desain penelitian serta kurangnya data jangka panjang masih menjadi kendala, sehingga diperlukan protokol yang lebih terstandar dan penelitian lanjutan di masa mendatang.
Penulis: Prof. M. Miftahussurur, dr., M. Kes., Sp.PD-KGEH., Ph.D
Artikel lengkap dapat diakses pada:





