UNAIR NEWS Guru Besar Fakultas Keperawatan () 51动漫 (UNAIR), Prof Ferry Efendi SKep Ns MSc PhD kembali menorehkan prestasi internasional dengan masuk dalam daftar Most Cited Researcher Wiley tahun 2026. Pengakuan tersebut menjadi bukti konsistensi kontribusi ilmiah yang berdampak luas. Khususnya pada bidang kesehatan global dan migrasi tenaga kesehatan.
Menanggapi capaian tersebut, Prof Ferry menyampaikan rasa syukur sekaligus menegaskan bahwa penghargaan ini bukan sekadar pencapaian individu. Menurutnya, keberhasilan tersebut merupakan hasil dari ekosistem kolaboratif yang melibatkan tim peneliti, mahasiswa, pusat riset, serta jejaring internasional. 淚ni bukan kemenangan personal. Tetapi hasil kerja bersama yang menunjukkan bahwa kolaborasi dapat melahirkan penelitian berkualitas dan relevan, ujarnya.
Strategi Membangun Riset Bereputasi Global
Prof Ferry menjelaskan bahwa salah satu kunci utama menghasilkan riset berdampak adalah menentukan research positioning yang tepat. Artinya, peneliti perlu memilih isu yang berada pada irisan antara urgensi global dan kebutuhan lokal atau nasional. Dalam perjalanannya, ia banyak menaruh perhatian pada isu migrasi tenaga kesehatan serta penuaan populasi.
Selain itu, konsistensi dalam membangun research pipeline juga menjadi faktor penting. Menurutnya, tema penelitian yang ditekuni harus berkelanjutan sehingga mampu membentuk rekam jejak ilmiah yang kuat. Ia juga menekankan pentingnya menjaga kualitas metodologi, baik kuantitatif maupun kualitatif, sesuai standar internasional.
淐ara paling mudah adalah belajar dari jurnal-jurnal bereputasi tinggi di bidang masing-masing. Jadikan itu sebagai acuan standar kualitas riset kita, jelasnya. Prof Ferry menambahkan bahwa publikasi di jurnal dengan visibilitas tinggi juga menjadi langkah strategis agar hasil penelitian dapat menjangkau audiens global.
Fokus Migrasi Perawat dan Dampak Kebijakan Global
Saat ini, Prof Ferry banyak meneliti migrasi perawat Indonesia ke berbagai negara seperti Singapura, Jepang, Jerman, dan Australia. Kajian tersebut mencakup fase persiapan keberangkatan, tantangan adaptasi di negara tujuan, hingga kontribusi setelah kembali ke Indonesia.
Ia juga tengah mengembangkan konsep kontribusi diaspora kesehatan Indonesia di luar negeri agar mampu memperkuat sistem kesehatan nasional. Menurutnya, tenaga kesehatan Indonesia yang bekerja di luar negeri memiliki pengalaman dan jejaring yang dapat dimanfaatkan bagi pembangunan kesehatan di tanah air.
淗arapan saya, riset tidak berhenti di publikasi, tetapi menjadi dasar kebijakan berbasis bukti yang memberi manfaat nyata bagi Indonesia maupun dunia, pungkas Prof Ferry. Ia menyebut, puluhan studinya telah dikutip lembaga global seperti World Health Organization, World Bank, dan International Organization for Migration.
Penulis: Dheva Yudistira Maulana
Editor: Yulia Rohmawati





