Bangkit dari kejatuhan ekonomi pasca pandemi covid-19 tentu bukanlah sesuatu yang mudah. Salah satunya dirasakan oleh para pelaku usaha yang mengandalkan sektor pariwisata sebagai sumber penghasilan utama. Sepinya para pengunjung karena aturan ketat mengenai pembatasan sosial yang diterapkan oleh pemerintah berpengaruh terhadap menurunnya jumlah wisatawan. Namun, dengan adanya program vaksinasi semakin memperkecil peluang penyebaran virus corona di Indonesia. Maka dari itu, pemerintah mulai melonggarkan peraturan pembatasan sosial yang bertujuan untuk memulihkan perekonomian. Utamanya bagi para pelaku industri pariwisata yang sempat mengalami kontraksi di masa pandemi. Menteri Ekonomi dan Kreatif, Sandiaga Uno menyebut bahwa dalam beberapa tahun terakhir indeks kepariwisataan Indonesia naik 12 peringkat. Gairah ini tentunya tidak lepas dari promosi destinasi wisata yang dilakukan melalui media sosial.
Tren pengguna media sosial semakin bertambah terutama di era pandemi covid-19 karena hampir sebagian besar masyarakat berinteraksi melalui layanan daring. Mulai dari akses pekerjaan, pendidikan, bahkan hiburan menjadi satu paket yang dikemas dalam sebuah ponsel pintar. Alternatif tersebut juga ditopang oleh beragam fitur serta konten yang tersaji di dalamnya. Umumnya para pengguna betah berlama-lama menatap layar ponsel untuk mengeksplorasi informasi atau menambah wawasan baru. Menurut laporan APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) menyebutkan bahwa jumlah penduduk yang menggunakan internet di Indonesia menembus angka 200 juta lebih dengan durasi rata-rata 8 jam 36 menit dalam sehari. Oleh karena itu, potensi tersebut tentunya tidak akan dilewatkan begitu saja oleh para pelaku industri pariwisata untuk menjangkau audiens melalui konten kreatif di media sosial. Pangsa pasarnya menyasar pada audiens yang ingin mencari referensi destinasi wisata untuk melepas kejenuhan setelah sebelumnya terkungkung dalam rutinitas serba terbatas di masa pandemi.
Adapun dengan adanya perkembangan teknologi digital semakin mempermudah proses penyuntingan foto maupun sinematografi. Hal tersebut juga berpengaruh terhadap antusiasme netizen karena konten yang dihasilkan bisa menjadi lebih apik. Selain itu, para pelaku usaha juga bekerja sama dengan influencer atau komunitas tertentu guna mendorong masyarakat agar berkunjung ke tempat wisata. Misalnya pembuatan film pendek berjudul Jogja, Kamu, dan Rindu yang rilis pada tanggal 20 Oktober 2022 lalu diluncurkan oleh Badan Otorita Borobudur. Tujuannya adalah untuk memperkenalkan sekitar 150 macam objek wisata di Yogyakarta selain Candi Borobudur. Film ini digarap oleh Fakultas Seni Rekam Institut Seni Indonesia (ISI) hanya dalam waktu dua bulan. Cara tersebut merupakan salah satu upaya mendongkrak jumlah kunjungan wisata yang disebarluaskan ke berbagai platform sebagai sarana efektif promosi. Terlebih perkembangan teknologi digital juga diikuti oleh algoritma kecerdasan buatan yang merujuk pada frekuensi pencarian pengguna. Oleh karena itu, para pelaku usaha umumnya dapat terbantu karena target iklan menyesuaikan preferensi individu yang pada dasarnya tertarik untuk mencari destinasi wisata.
Sekitar 280 juta penduduk di Indonesia didominasi oleh generasi muda. Kelompok usia muda merupakan pengguna aktif di sosial media sehingga cenderung banyak mengikuti tren yang sedang berkembang. Istilah hidden gems baru-baru ini menjadi frasa populer di kalangan anak muda yang berarti suatu tempat menarik, tetapi tidak banyak diketahui oleh orang. Tren hidden gems menampilkan video durasi pendek yang menyuguhkan eksotisme pemandangan alam yang jarang terekspos oleh media. Secara naluriah unggahan video tersebut justru memantik jiwa petualang anak muda serta rasa penasaran untuk berkunjung sehingga tidak lagi menjadi sebuah hidden gems. Memang tujuan tren ini adalah untuk menawarkan spot baru bagi wisatawan utamanya anak muda terlepas dari destinasi populer lainnya. Salah satunya adalah fenomena Ranu Manduro yang terletak di Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto mendadak viral di media sosial. Selang beberapa hari diunggah, Ranu Manduro yang semula minim pengunjung tiba-tiba ramai sesak dipenuhi wisatawan. Hal ini menandakan bahwa media sosial menjadi gaya baru untuk mempromosikan destinasi wisata dengan target anak muda yang menyukai hal baru.
Kendati demikian, optimisme untuk meningkatkan sektor pariwisata dalam negeri tampak mengalami tantangan di masa mendatang. Ancaman resesi ekonomi belakangan ini menjadi sorotan yang ramai diperbincangkan oleh publik. Berdasarkan peringatan Presiden Bank Dunia, David Malpass, menjelaskan bahwa meningkatnya resiko resesi global serta inflasi menjadi masalah yang berkelanjutan setelah perang Rusia-Ukraina. Adapun Menteri Keuangan, Sri Mulyani meramalkan pertumbuhan global melambat disertai harga kebutuhan pokok yang semakin meningkat. Secara tidak langsung resesi ekonomi bisa berdampak terhadap laju pertumbuhan industri pariwisata karena pola masyarakat yang cenderung mengurangi aktivitas konsumtif seperti berlibur. Oleh sebab itu, para pelaku industri perlu menerapkan strategi pemasaran tertentu untuk menghadapi ancaman resesi di tahun 2023 mendatang.
Pada akhirnya, media sosial dapat menjadi medium dalam rangka memasarkan destinasi wisata. Kemudahan akses serta optimalisasi menjangkau audiens merupakan salah satu keuntungan yang didapat oleh para pelaku industri pariwisata. Di sisi lain, menjamurnya ponsel pintar yang menawarkan berbagai macam konten di dalamnya berpotensi mendorong masyarakat setidaknya mengetahui untuk mengunjungi tempat wisata. Dengan demikian, media sosial berperan penting sebagai stimulus meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan baik dalam negeri maupun mancanegara agar tetap bertahan di tengah ketidakpastian ekonomi di masa depan.
Penulis: Agizca Aurel Syerinatasya (Mahasiswa S2 PSDM UNAIR)





