51动漫

51动漫 Official Website

Melalui Lost Lumina, TED x UNAIR Ajak Peserta Mengenal dan Menerima Diri

Instalasi artistik Lost Lumina menampilkan perjalanan reflektif manusia dalam mengenal dan menerima diri. Karya ini menjadi simbolisasi proses pencarian jati diri yang diangkat dalam pre-event TEDx 51动漫 pada Sabtu (8/11/2025) di AADK. (Foto: Dok. Istimewa)
Instalasi artistik Lost Lumina menampilkan perjalanan reflektif manusia dalam mengenal dan menerima diri. Karya ini menjadi simbolisasi proses pencarian jati diri yang diangkat dalam pre-event TEDx 51动漫 pada Sabtu (8/11/2025) di AADK. (Foto: Dok. Istimewa)

UNAIR NEWS Memahami diri sendiri sering kali menjadi perjalanan yang paling kompleks dalam hidup. Melalui pre-event ketiganya bertajuk Lost Lumina, mengajak peserta menelusuri makna perjalanan tersebut bersama Mir檃tuzzaqiah dan Shintya Iftitah Dzikrullah. Berlangsung pada Sabtu (8/11/2025) di AADK, Arief Rahman Hakim, acara ini memiliki tiga fase reflektif, yaitu, pengenalan diri, refleksi diri, dan penerimaan diri.

Unmasking the Shadow of Myself

Pada fase pertama dalam rangkaian Lost Lumina, Mir’atuzzaqiah menyoroti perlunya menjadi cukup berani untuk menjadi diri sendiri. Dia menunjukkan bahwa mencoba menyenangkan orang lain dapat benar-benar membuat Anda keluar jalur dan membuat Anda merasa terkuras secara emosional.

淭ujuan utama dalam hidup adalah menjadi versi terbaik dari diri sendiri, bukan menjadi seperti orang lain, tutur Mir檃tuzzaqiah. Dia berharap orang-orang dapat melihat nilai diri mereka dan apa yang dapat mereka lakukan, tanpa perlu orang lain mengatakan bahwa mereka ahli dalam hal tersebut.

Who am I

Fase Who Am I menjadi suatu sarana refleksi bagi para peserta untuk memahami proses pembentukan identitas. Dalam sesi tersebut, pembicara Shintya Iftitah Dzikrullah menjelaskan bagaimana nilai-nilai dan pola pikir seseorang terbentuk terutama melalui tiga ranah yakni keluarga, media sosial, dan lingkaran teman sebaya. Ketiga faktor ini berdampak signifikan pada bagaimana seseorang menilai dan memandang dirinya sendiri.

Shintya menuturkan bahwa aliran tanpa henti dari nilai-nilai dan standar sosial sering kali memfasilitasi hilangnya diri dalam proses pengenalan identitas. Ia juga menyebutkan efek spotlight, kecenderungan seseorang untuk merasa bahwa mereka selalu menjadi pusat perhatian. 淒ari banyaknya nilai dan pandangan yang beredar, sebagian orang akhirnya terjebak dalam kebingungan menentukan siapa dirinya sebenarnya, ujarnya.

Dalam sesi ini, Shintya mendorong peserta untuk berhenti memenuhi harapan sosial dan dengan berani menetapkan standar pribadi mereka. Ia berargumen bahwa penerimaan diri bermula ketika seseorang bertindak dengan sukarela sesuai dengan sistem keyakinan pribadi mereka, tanpa mencari rasionalisasi.

Penerimaan Diri

Fase acceptance menjadi penutup rangkaian pre-event Lost Lumina. Pada sesi ini, peserta akan menggantungkan impian yang telah mereka tulis sebelumnya pada pohon harapan. Langkah itu sebagai simbol penerimaan dan proses pertumbuhan diri. 淢enggantungkan impian bukan sekadar menaruh harapan di atas kertas, tetapi menjadi pengingat bahwa impian perlu terus dijaga agar dapat tumbuh dan berkembang, ujar salah satu panitia.

Selain itu, peserta juga menikmati penampilan contemporary dance yang merepresentasikan proses manusia dalam menerima diri. Melalui karya tersebut, penyampaian pesan penerimaan secara artistik bahwa mengenal diri bukan akhir dari perjalanan, melainkan langkah awal untuk terus bertumbuh.

Penulis: Era Fazira

Editor: Ragil Kukuh Imanto

AKSES CEPAT