51动漫

51动漫 Official Website

Memahami Regulasi Diri untuk Menjaga Kesehatan Mental

Berlangsungnya sesi pemaparan materi dalam Airlangga Safe Space (Foto: Tangkapan Layar Zoom Meeting)
Berlangsungnya sesi pemaparan materi dalam Airlangga Safe Space (Foto: Tangkapan Layar Zoom Meeting)

UNAIR NEWS – Kerja sama dengan Departemen Branding BEM KM (FPsi) 51动漫 (UNAIR) kembali melaksanakan webinar tentang pentingnya menjaga kesehatan mental. Webinar yang terlaksana pada hari Sabtu (23/8/2025) mengangkat tema Your Mind: Your Responsibility bersama Yanuarti Paresma Wahyuningsih SPsi MPsi Psikolog selaku pembicara.

Acara ini sebagai bentuk kepedulian akan kesehatan mental yang perlu dijaga. Selain itu, memberikan pemahaman tentang apa itu regulasi diri, komponen, dan contohnya. Regulasi diri yang sehat berarti mampu memiliki respons yang tidak merugikan diri sendiri dan orang lain.

Yanuarti menyampaikan bahwa regulasi diri berarti kemampuan mengamati, mengevaluasi serta mengarahkan perilaku diri sendiri agar sesuai dengan tujuan. 淛adi regulasi diri ini menjadi arah menuju standar pribadi. Kemudian bersifat proaktif, prosesnya berkesinambungan dan tentunya membutuhkan standar, ucapnya.

Selanjutnya dalam regulasi diri ini juga ada beberapa komponen dan mekanisme. Ia juga menyampaikan bahwa bentuk regulasi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. 淣ah, contoh penerapan dalam kehidupan sehari-hari terbagi menjadi dua yaitu dalam akademik dan dalam emosi. Pertama, dalam akademik mahasiswa yang regulasi dirinya baik akan sadar bahwa ia sering terdistraksi medsos (media sosial, red). Sedangkan dalam emosi ia sadar bahwa lebih mudah marah saat dikritik, ungkapnya.

Lebih lanjut, Yuniarti menjelaskan bahwa hambatan regulasi diri terbagi menjadi tiga yaitu hambatan internal, eksternal serta biologis dan neuropsikologis. Ketiganya mempunyai dampak yang perlu diwaspadai dan dicegah agar tidak menghambat proses individu. 

淗ambatan tersebut memang perlu dikenali dan sebisa mungkin kita cegah. Contoh hambatan internal yaitu emosi yang intens, kelelahan kognitif dan impulsif. Sedangkan hambatan eksternal yakni tekanan sosial, lingkungan penuh distraksi dan kondisi penuh tekanan. Terakhir hambatan biologis seperti gangguan mental dan perkembangan otak, jelasnya.

Acara ini menegaskan bahwa dalam hidup wajar bila kita berharap dipahami dan didukung. Akan tetapi, kondisi mental pribadi tetap menjadi tanggung jawab diri sendiri bukan orang lain. 

Penulis: Ersa Awwalul Hidayah 

Editor: Yulia Rohmawati 

AKSES CEPAT