Penyakit virus korona 2019 (COVID-19) adalah pandemi di seluruh dunia yang disebabkan oleh penyebaran virus korona sindrom pernapasan akut berat 2 (SARS-CoV-2), yang telah menyerang populasi global. Sejak 4 tahun lalu hingga sekarang lima tahun telah berlalu, COVID-19 memang masih tetap menjadi perhatian. Mempertimbangkan gejala batuk, flu, dan gejala pernafasan lainnya sebagai COVID-19 masih tetap berlaku dalam beberapa praktek klinis, sehingga pengobatan penyakit ini masih tetap terus diperbaharui.
COVID-19 memang menunjukkan perjalanan klinis penyakit yang bervariasi dan menjadi area utama dalam penelitian karena ada risiko COVID-19 berkembang menjadi sindrom gangguan pernapasan akut (ARDS) dan kematian.
Hingga saat ini, pedoman pengobatan masih terus mengalami perkembangan, terutama karena banyak varian dan sub-varian COVID-19 terbukti memiliki kerentanan yang berbeda ketika diobati dengan obat yang sama. Dalam pedoman cepat COVID-19 yang diterbitkan tahun 2023 oleh National Institute for Health and care excellence (NICE), obat-obatan yang disetujui untuk penggunaan terapeutik pada COVID-19 meliputi antivirus nirmatrelvir yang dikombinasikan dengan ritonavir (dipasarkan sebagai Paxlovid), remdesivir, dan molnupiravir dalam kasus risiko tinggi perkembangan menuju COVID-19 yang parah. Kortikosteroid, terutama deksametason atau hidrokortison/prednisolon jika yang pertama tidak tersedia, juga direkomendasikan dalam pengobatan COVID-19 terutama pada pasien yang membutuhkan oksigen tambahan atau mengalami hipoksia tetapi tidak toleran terhadap oksigen tambahan selama perjalanan penyakit mereka untuk mendukung peningkatan kadar saturasi.
Keterlibatan sistem imun dalam mekanisme penyakit infeksi menjadi salah satu referensi dalam menentukan pilihan pengobatan COVID-19. Berbagai antibodi monoklonal seperti sotrovimab dan gabungan casirivimab-imdevimab juga merupakan pilihan terapi yang potensial. Sotrovimab, yang saat ini dipasarkan sebagai Xevudy, disetujui untuk digunakan pada pasien dengan risiko COVID-19 berat yang meningkat, sambil menghindari kombinasi adjuvan ritonavir-nirmatrelvir. Sedangkan untuk kombinasi casirivimab-imdevimab, meskipun penelitian menunjukkan manfaatnya, belum terbukti efektif terhadap varian Omicron.
Karena efektivitas biaya yang rendah dan kemanjuran yang tidak dapat diandalkan, agen gabungan tersebut tidak lagi direkomendasikan. Pilihan terapi lain yang ditetapkan untuk COVID-19 termasuk tocilizumab (dipasarkan sebagai RoActemra) dan baricitinib (dengan rekomendasi bersyarat), yang merupakan obat yang digunakan untuk mengobati artritis reumatoid. Penggunaannya direkomendasikan pada pasien yang membutuhkan oksigen tambahan atau mereka yang telah diberikan kortikosteroid. Pedoman resmi dari NICE juga menguraikan tentang agen yang dianggap memiliki beberapa manfaat untuk mengobati COVID-19 di masyarakat tanpa bukti ilmiah sebelumnya, termasuk membatasi penggunaan heparin berat molekul rendah untuk profilaksis tromboemboli vena, antibiotik untuk dugaan infeksi bakteri, dan tidak menyetujui penggunaan azitromisin, kolkisin, dan doksisiklin, serta mengizinkan penggunaan budesonida, ivermectin, dan vitamin D hanya untuk penelitian.
Sebagaimana ditetapkan dalam pedoman cepat COVID-19 (NICE) pada tahun 2023, baik sotrovimab maupun baricitinib disetujui sebagai pilihan terapi dalam penanganan COVID-19. Hasil riset menunjukkan manfaat signifikan dari pemberian obat-obatan untuk meningkatkan hasil klinis COVID-19 beserta kualitas hidup pasien. Sotrovimab terbukti berkhasiat sebagai agen tunggal pada pasien dengan risiko tinggi perkembangan ke arah COVID-19 berat, mengurangi angka kematian, penggunaan ventilasi mekanis, dan hasil klinis secara keseluruhan. Di sisi lain, baricitinib terbukti efektif sebagai agen tunggal, bersama sebagai agen gabungan dengan kortikosteroid pada pasien yang sudah memerlukan ventilasi. Kedua obat memberikan manfaat signifikan dalam kasus berat, menjadikannya pilihan pertama terapi yang penting untuk COVID-19. Kedua pilihan obat ini masih tetap dapat dipertimbangkan menjadi pilihan dalam terapi COVID-19 meskipun kasus dan kondisi COVID-19 saat ini tidak seperti beberapa tahun sebelumya.
Penulis: Cennikon Pakpahan, dr.
Link:
Baca juga: Efektivitas Vaksin Booster terhadap Infeksi, Derajat Berat, dan Kematian Terkait COVID-19





