Status kepemilikan dan tingkat akreditasi rumah sakit dapat meningkatkan kesiapsiagaan rumah sakit untuk memberikan perawatan dengan kapasitas lebih tinggi dan kondisi tidak menentu selama pandemi COVID-19. Namun, status kepemilikan dan tingkat akreditasi tidak berpengaruh terhadap insiden keselamatan pasien. Penelitian yang dilakukan di negara maju dan berkembang menunjukkan bahwa pandemi COVID-19 berpengaruh terhadap penurunan kualitas perawatan kesehatan. Hambatan yang dialami negara berkembang antara lain kebutuhan akan SDM, tingginya turnover, dan peningkatan kompleksitas ICU disebabkan perubahan yang tidak menentu.
Pemimpin dapat meningkatkan keselamatan pasien ketika pandemi maupun tidak, dengan membangun budaya keselamatan, merespon kekhawatiran pasien dan staf, mendukung kegiatan keselamatan pasien, dan memantau progres kegiatan keselamatan. Pemimpin harus mengembangkan solusi inovatif dalam memecahkan masalah untuk memastikan keselamatan pasien. Selama pandemi COVID-19, dukungan pemimpin sangat krusial untuk menerapkan pendekatan dalam mengelola krisis. Selain itu, pemimpin dapat meningkatkan ketahanan organisasi melalui pembelajaran terkait upaya antisipatif, koping, dan pemulihan staf. Kapasitas pemimpin juga membantu dalam upaya mitigasi COVID-19. Sehingga, kepemimpinan yang baik sangat diperlukan untuk keberhasilan program keselamatan pasien.
Institute of Healthcare Improvement (IHI) memiliki pengalaman dan sukses dalam memandu organisasi terkait cara meningkatkan keselamatan pasien. IHI merekomendasikan 8 tahap dalam mengembangkan keselamatan pasien berdasarkan tingkat kepentingannya. Tahapan tersebut antara lain:
- Mengatasi prioritas strategi, budaya, dan infrastruktur
- Menerapkan keselamatan pasien sebagai prioritas strategi
- Mengevaluasi budaya organisasi
- Membuat budaya untuk mempromosikan keselamatan pasien
- Mengatasi infrastruktur organisasi
- Mempelajari terkait keselamatan pasien dan cara untuk mencapai keselamatan pasien
- Melibatkan stakeholders utama
- Berkomunikasi dan membangun kesadaran
- Menetapkan, mengawasi, dan mengkomunikasikan tujuan
- Mengukur kinerja setiap waktu dan memperkuat analisis
- Memberikan dukungan terhadap staf dan pasien/keluarga pasien yang terdampak kesalahan medis
- Menyelaraskan aktivitas seluruh sistem dan insentif
- Mendesain ulang sistem dan meningkatkan reliabilitas atau keandalan
Pemimpin harus 渓ebih memposisikan keselamatan sebagai strategi utama. Keselamatan pasien tidak hanya dilibatkan dalam perencanaan strategi, tetapi ditonjolkan dalam agenda Dewan dan Eksekutif. Pemimpin juga harus sering mengunjungi karyawan dan menanyakan tentang keselamatan, kekhawatiran, memasukkan keselamatan pasien sebagai orientasi staf, mengembangkan dan meninjau data keamanan, memberikan semangat terhadap pelaksanaan projek keselamatan, dan mencoba menghubungkan remunerasi eksekutif untuk perbaikan dan peningkatan keselamatan pasien. Tujuan keselamatan pasien dan goals yang ingin dicapai juga harus didefinisikan dengan jelas, dengan rencana tindakan dan akuntabilitas.
Penilaian budaya organisasi juga sangat penting. Organisasi harus menyediakan lingkungan yang tepat untuk mengembangkan prosedur keselamatan. Budaya organisasi yang adil harus dapat dirasakan oleh seluruh staf agar mereka nyaman untuk speak up. Budaya organisasi yang adil dapat dibentuk dengan adanya pemimpin yang berdedikasi dan memiliki kesabaran. Terdapat beberapa survei yang bisa digunakan dalam menilai budaya keselamatan dan untuk mengembangkan budaya yang diharapkan. Organisasi dapat menggunakan survei tersebut dan menggunakan data hasil survei serta mengambil tindakan perbaikan yang relevan.
Penyesuaian organisasi juga diperlukan dalam penerapan kegiatan keselamatan untuk pengumpulan data, analisis, laporan, dan pengambilan keputusan. Selain Petugas Keselamatan Pasien, personel lain seperti epidemiologi, ahli statistik, pelatih keselamatan pasien dan lain sebagainya juga harus membantu peran Petugas Keselamatan Pasien. Selain itu, peninjauan dan alokasi anggaran yang tepat juga diperlukan dalam penerapan keselamatan pasien.
淏elajar tentang metode keselamatan pasien dan perbaikan merupakan langkah terakhir. Pemimpin harus mengetahui tentang keselamatan pasien dan proses perbaikan untuk mendorong perubahan. Beberapa sumber yang dapat diakses seperti pedoman dari IHI dan Agency for Healthcare Research and Quality (AHRQ). Pemimpin harus terampil dalam menerapkan perubahan dan meninjau berbagai kerangka perubahan manajemen yang mungkin bermanfaat.
Masih banyak negara yang tidak mempelajari terkait keselamatan pasien dan upaya perbaikannya. Sehingga, pemimpin harus mendorong dan mendukung pelaksanaan upaya keselamatan dan peningkatan mutu di rumah sakit. Pembelajaran tentang langkah-langkah keselamatan pasien merupakan investasi untuk organisasi. Ini merupakan bidang yang perlu menjadi prioritas dalam kegiatan penelitian dan praktik.
Penulis: Cyrus Y Engineer, Inge Dhamanti
Artikel lengkap dapat diakses di





