Penyakit Kusta masih menjadi penyakit endemik di beberapa daerah. Hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan akan penyebaran kusta serta resiko utamanya. orang yang memiliki penyakit kusta akan lebih sering menginfeksi daripada orang yang hanya memiliki gejala. Faktor lain yang harus mendapat perhatian lebih adalah lingkungan mikro, seperti jumlah orang per rumah tangga dan per kamar rumah, miskin kondisi sanitasi, kerentanan genetik, rendah tingkat pendidikan, sosial dan budaya setempat dinamika dan sebagainya. Rumah sebagai tempat tinggal harus memenuhi syarat rumah sehat peraturan berikut. Kusta memiliki a hubungannya dengan kebersihan diri, faktor sosial ekonomi, area ventilasi dan kepadatan hunian36. Berdasarkan Ratnawati (2016), ada sebuah hubungan yang signifikan antara perumahan sanitasi dan karakteristik masyarakat dengan kejadian kusta. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis faktor risiko kelembaban, higiene perorangan, dan kepadatan hunian yang berpengaruh terhadap kejadian kusta.
Sumber data dari penelitian ini menggunakan Google Scholar, Research Gate, dan Plos ONE. Kata kunci yang digunakan dalam penelitian ini adalah 淜elembaban, 淜ebersihan Diri, dan 淜epadatan Hunian. Artikel penelitian yang ditemukan dalam penelitian ini sebanyak 71 artikel jurnal. Variabel Kelembaban, personal hygiene, dan kepadatan hunian merupakan variabel terpilih yang mempengaruhi kejadian kusta di Indonesia. Kejadian kusta merupakan variabel terikat, sedangkan kelembaban, higiene perorangan, dan kepadatan hunian merupakan variabel bebas penelitian ini.
Artikel yang didapatkan sebanyak 15 artikel, kemudian di meta analisis. Analisis dilakukan untuk mendapatkan nilai estimasi rasio odds gabungan menggunakan metode Mentel-Haenszel untuk analisis model efek tetap dan Metode DerSimonian-Laird untuk acak analisis model efek. Jika variasinya antar variabel bersifat homogen atau p-nilai heterogen dan lebih besar dari 0,05, model analisis yang digunakan adalah fixed effect model. Analisis dilakukan dengan mencocokkan prevalensi berikut: 1) Jika nilai estimasi PR > 1 dan rentang selang kepercayaan variabel merupakan faktor risiko antara kelembaban, kepadatan hunian, personal hygiene dan kejadian kusta di masyarakat. 2) Jika nilai estimasi PR < 1 dan rentang interval kepercayaan tidak melebihi 1, berarti variabel tersebut merupakan faktor protektif antara masing-masing variabel yang mempengaruhi kejadian kusta di masyarakat. 3) Jika nilai estimasi PR = 1 dan rentang interval kepercayaan tidak melebihi 1, berarti variabel independen tidak ada hubungannya dengan kejadian.
Hasil menunjukkan bahwa nilai pooled PR pada kelembaban terhadap kejadian kusta adalah e2.13= 8.415, sehingga disimpulkan bahwa kelembaban mempunyai resiko 8,415 kali lebih besar menyebabkan terjadinya kusta di masyarakat. Sedangkan untuk higiene individu, menunjukkan nilai pooled PR = e1,84= 6.926, dapat disimpulkan bahwa variabel higienis individu memiliki resiko 6,926 kali lebih besar untuk menyebabkan terjadinya kusta di masyarakat. Sejalan dengan dua variabel lainnya, kepadatan hunian petak memiliki nilai pooled PR = e1,75= 5.754, dapat disimpulkan bahwa variabel kepadatan tempat tinggal 5,754 kali lebih besar kemungkinan mengalami kusta. Pada uji p-value Egger’s Test menunjukkan bahwa variabel kelembaban dan kepadatan penduduk tidak terjadi bias publikasi sedangkan variabel higienitas individu terjadi bias publikasi.
Faktor risiko kelembaban, higiene perorangan, dan kepadatan hunian berpengaruh terhadap kejadian kusta. Kelembaban memiliki 8,415 kali lebih besar berisiko menyebabkan penyakit kusta terjadi di masyarakat. Personal hygiene memiliki resiko 6,926 kali lebih besar menyebabkan terjadinya kusta di masyarakat. Kepadatan pemukiman berisiko 5.754 kali lebih besar untuk mengalami kusta pada masyarakat Indonesia. Disarankan penelitian selanjutnya menggunakan data kualitatif untuk melihat lebih dalam faktor perantara penyebab penyakit kusta.
Penulis: R. Azizah
Analysis of Environmental Risk Factors for Leprosy in Indonesian Society: Meta-Analysis





