UNAIR NEWS – Sosok Gancar Candra Premananto sudah tidak asing di lingkungan Magister Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) 51动漫. Dosen yang juga merangkap sebagai kepala program studi ini tidak disangka memiliki suara merdu. Bermula dari hobi yang terus dikembangkan, kegemaran Gancar menyanyi terus berlanjut hingga ia menjadi dosen dan menempuh studi S-3.
Bagi Gancar, hobi bukanlah pilihan. Melainkan hadiah dari Tuhan yang harus dikembangkan sesuai ajaran Sang Pemberi.
淪ejak kecil, saya menyukai seni. Hampir semua seni pernah saya geluti, mulai dari paduan suara, lawak, pantomim, kartun, hingga melukis. Terlebih saat menjadi dosen, saya menekuni bidang menyanyi dan peran, tutur Gancar.
Gancar memadukan nyanyi dengan mengajar untuk memberi kesan ketika mengajar di kelas. Ia berfikir, menggabungkan materi kuliah dan seni dapat menjadi sebuah edutainment. Selain itu, menyanyi menjadi selingan bagi mahasiswa dalam belajar agar tidak membosankan.
Seiring berjalannya waktu, beberapa materi lagu digunakan Gancar untuk mengajar. Seperti lagu dengan judul Pemasaran Dua misalnya. Ia gunakan untuk mengajar mata kuliah Pemasaran 2.
Meski Gancar disibukkan dengan aktivitas mengajar dan meneliti, ia masih dapat meluangkan waktu untuk hobinya. Bahkan, ia pernah meraih beberapa juara kompetisi. Hal ini tidak terlepas dari dukungan istri dan keluarga. Dalam bermusik pun, Gancar melibatkan peran keluarga. Seperti ketika pembuatan rekaman lagu, video clip, dan album untuk pembelajaran baru.
Alhamdulillah, beberapa lomba karaoke pernah menjadi juara pertama. Dan sejak itu saya mencoba menjadikan lagu tidak sekadar untuk menyanyi galau, namun bernyanyi yang membawa makna, jelas pria kelahiran Surabaya, 22 Juli 1974 itu.
Rencana Album
Pada awal tahun 2017, Gancar mulai menciptakan lagu. Lalu lahirlah Azzarine. Kemudian muncul lagu kedua Kita Berdua, dan seterusnya. Hingga pada pengujung tahun 2017, berbekal empat lagu ciptaan sendiri serta satu lagu versi cover, ia merasa cukup untuk membuat mini album.

Rencananya, akan lahir mini album 楽isi Lain yang artinya ada sisi lain dari diri manusia yang harus digali sebagai bentuk syukur atas nikmat Tuhan.
淒alam menciptakan lagu saya berpatokan pada dua hal, Cinta dan Tuhan. Bahwa mencintai harus dengan mengingatNya. Sehingga bukan lagu cinta melow yang hanya membuat hati pendengarnya galau, namun lagu cinta yang menjadikan kita mengingat Tuhan, papar Gancar.
淪aya juga terinspirasi dari kehidupan sehari-hari tentang bagaimana kita berinteraksi dengan Tuhan, Nabi Muhammad SAW, pasangan, keluarga, dan hubungan sosial lainnya, terang pria yang menempuh pendidikan S-3 di Universitas Gadjah Mada ini.
Gancar menuturkan, proses pembuatan lagu membutuhkan waktu relatif lama karena terkendala ketidakmampuan memainkan alat musik. Maka, ia harus mengirimkan rekaman suara ke arranger musik. Secara keseluruhan, mulai dari membuat musik hingga video clip, Gancar membutuhkan waktu berminggu-minggu.
Salah satu karya Gancar yaitu Kala Cinta Tak Berbalas sedikit membuat orang salah sangka dan menganggap ia jatuh cinta lagi. Padahal, lagu ini berkisah bahwa ketika bersosialisasi dengan orang lain bisa jadi sering kecewa dengan balasannya.
淭erkadang kita merasa berbuat baik, tetapi dibalas negatif oleh orang lain. Layaknya cinta Tuhan dan Nabi Muhammad SAW kepada umatnya yang seringkali tidak berbalas. Maka, mungkin memang tugas kita adalah mencintai dan memberi, tidak penting masalah apa balasan mereka, papar Gancar.
Ke depan, Gancar berharap apapun yang ia hasilkan dapat bermanfaat bagi orang lain. Oleh karena itu, hasil penjualan buku dan mini album yang rilis awal 2018 ini akan dimanfaatkan lebih lanjut untuk dukungan sosial kemanusiaan kepada organisasi kemanusiaan Bulan Sabit Merah Indonesia.
淒ari aktivitas seni, saya ingin menyampaikan kepada mahasiswa, khususnya mahasiswa Magister Manajemen, bahwa manajer haruslah memiliki hobi. Harus mengasah otak kanan karena kreativitas dan inovasi dibangun bukan dengan mengandalkan otak kiri yang bertugas menganalisis, harapnya. (*)
Penulis : Siti Nur Umami
Editor : Binti Q. Masruroh





