Dalam beberapa tahun terakhir, istilah model bisnis semakin sering digunakan dalam diskusi kewirausahaan dan pengembangan UMKM. Namun, bagi banyak pelaku usaha, model bisnis masih dipahami secara sederhana sebagai cara menjual produk. Padahal, model bisnis sejatinya jauh lebih kompleks: ia mencerminkan bagaimana sebuah usaha menciptakan nilai, menyampaikannya kepada pelanggan, dan pada akhirnya menangkap nilai tersebut dalam bentuk kinerja keuangan. Melalui penelitian yang kami lakukan terhadap 158 usaha entrepreneurial di Indonesia, kami menemukan bahwa cara usaha merancang model bisnisnya memiliki dampak nyata terhadap kinerjanya.
Dalam riset ini, kami membedakan dua pendekatan utama dalam desain model bisnis. Pertama adalah orientasi efisiensi, yaitu model bisnis yang menekankan penghematan biaya, penyederhanaan proses, dan pemanfaatan sumber daya secara optimal. Di lingkungan bisnis Indonesia yang sering kali diwarnai keterbatasan modal, infrastruktur, dan kepastian regulasi, pendekatan ini terbukti efektif meningkatkan kinerja keuangan usaha.
Pendekatan kedua adalah orientasi kebaruan (novelty). Model bisnis berorientasi kebaruan menekankan inovasi”baik dalam bentuk produk, layanan, cara berinteraksi dengan pelanggan, maupun konfigurasi mitra bisnis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inovasi semacam ini juga berdampak positif terhadap kinerja usaha, terutama karena mampu membedakan usaha dari pesaing dan merespons perubahan selera pasar yang cepat.
Namun, temuan penting dari penelitian ini adalah bahwa menggabungkan efisiensi dan kebaruan secara bersamaan tidak selalu menghasilkan kinerja yang lebih baik. Justru, ketika usaha mencoba mengejar efisiensi dan inovasi sekaligus, kinerja keuangan cenderung menurun. Hal ini menunjukkan adanya dilema strategis: mengelola dua orientasi yang saling menuntut perhatian, sumber daya, dan kompetensi yang berbeda dapat menciptakan kompleksitas berlebih, khususnya bagi usaha kecil.
Meski demikian, tidak semua usaha mengalami dampak negatif yang sama. Faktor kunci yang membedakan adalah pengalaman manajerial. Usaha yang dipimpin oleh manajer atau pemilik dengan pengalaman panjang di industri yang sama ternyata lebih mampu mengelola model bisnis ganda. Pengalaman membantu mereka menyeimbangkan tuntutan inovasi dan efisiensi secara lebih matang. Sebaliknya, bagi pelaku usaha yang relatif baru, fokus pada satu orientasi, baik efisiensi atau kebaruan, lebih realistis dan menguntungkan.
Menariknya, faktor lain seperti usia usaha, tingkat dinamika industri, atau kelimpahan sumber daya lingkungan tidak terbukti secara signifikan mempengaruhi hubungan antara model bisnis dan kinerja. Temuan ini menegaskan bahwa di negara berkembang seperti Indonesia, peran aktor manusia, terutama manajer atau pemilik usaha, menjadi penentu utama keberhasilan strategi bisnis. Bagi pelaku usaha dan pembuat kebijakan, pesan utamanya jelas: tidak ada satu model bisnis yang paling benar untuk semua usaha. Yang lebih penting adalah kesesuaian antara desain model bisnis, kapasitas manajerial, dan konteks lokal. Inovasi memang penting, efisiensi juga krusial, tetapi mengejar keduanya sekaligus memerlukan kesiapan yang tidak sederhana.
Penulis: : La Ode Sabaruddin, Nining Islamiyah, dan Mazni Abdullah
Sumber: Sabaruddin, L. O., Islamiyah, N. and Abdullah, M. (2025). Business model design and the performance of entrepreneurial firms in emerging markets. Journal of Small Business and Enterprise Development, 32(6), 1422“1441, doi:





