Diabetes mellitus kini menjadi salah satu penyakit kronis terbesar di dunia. Pada tahun 2019, sekitar 463 juta orang usia 20“79 tahun hidup dengan diabetes, dan angka ini terus meningkat setiap tahun. Selain mengganggu metabolisme tubuh, diabetes memberikan dampak besar pada rongga mulut. Salah satu masalah yang paling sering dikeluhkan adalah mulut kering atau xerostomia, yang disebabkan oleh menurunnya produksi air liur atau hiposaliva. Kondisi ini tidak bisa dianggap sepele karena air liur memiliki fungsi penting dalam melumasi rongga mulut, melindungi jaringan, menetralkan asam, dan menghambat pertumbuhan bakteri. Ketika produksi air liur menurun, seseorang lebih rentan mengalami bau mulut, sariawan, infeksi jamur, perubahan rasa, penumpukan plak, hingga karies dan penyakit periodontal.
Pada penderita diabetes, kerusakan kelenjar air liur terjadi akibat kombinasi berbagai mekanisme biologis. Kadar gula darah yang terus meningkat memicu stres oksidatif dan pembentukan advanced glycation end-products (AGEs) yang merusak struktur sel-sel kelenjar air liur. Selain itu, jumlah protein aquaporin (AQP5) yang berperan mengatur aliran air menurun drastis sehingga kelenjar tidak mampu menghasilkan dan mengeluarkan air liur secara normal. Dehidrasi berulang akibat sering buang air kecil turut memperburuk kondisi ini. Diabetes juga menyebabkan gangguan pembuluh darah kecil dan kerusakan saraf, sehingga aliran darah ke kelenjar menurun dan sinyal saraf untuk merangsang produksi air liur menjadi lemah. Lingkungan tubuh penderita diabetes cenderung mengalami peradangan kronis, terutama melalui aktivasi jalur NF-κB dan TGF-β, yang menyebabkan jaringan kelenjar membengkak, rusak, bahkan mengalami fibrosis. Semua proses ini bekerja secara bersamaan dan akhirnya menurunkan produksi air liur secara signifikan.
Sayangnya, terapi yang tersedia saat ini seperti air liur buatan atau obat perangsang saliva hanya mampu memberikan kenyamanan sementara. Terapi-terapi ini tidak memperbaiki kerusakan jaringan kelenjar itu sendiri. Di sinilah terapi regeneratif mulai menarik perhatian, terutama dengan penggunaan sel punca mesenkimal (mesenchymal stem cells, MSCs). Di antara berbagai sumber sel punca, membran amnion menjadi pilihan yang unggul karena dapat diperoleh tanpa prosedur invasif, memiliki tingkat imunogenisitas rendah, dan menghasilkan sel punca dengan kemampuan proliferasi tinggi. Lebih dari itu, sel punca dari amnion melepaskan berbagai molekul bioaktif seperti VEGF, IGF-1, EGF, TGF-β, dan IL-8 yang berperan dalam mengurangi peradangan, memperbaiki kerusakan jaringan, dan merangsang regenerasi.
Ketika sel punca amnion dikultur di laboratorium, mereka menghaislkan campuran molekul penyembuh yang disebut Amniotic Mesenchymal Stem Cell Metabolite Products (AMSC-MPs). Senyawa inilah yang membawa kemampuan anti-inflamasi dan pro-regenerasi tanpa harus mentransplantasikan sel hidup ke dalam tubuh. Penelitian kami berfokus pada penggunaan AMSC-MPs melalui injeksi langsung ke jaringan kelenjar air liur untuk melihat apakah terapi ini dapat mengurangi peradangan dan memperbaiki kerusakan yang diakibatkan diabetes.
Hasil penelitian menunjukkan respons yang sangat menjanjikan. Pada tikus diabetes yang menerima injeksi AMSC-MPs, terjadi penurunan bertahap sitokin pro-inflamasi TNF-α dan IL-6 mulai hari ke-5 hingga hari ke-10. Dua molekul ini biasanya meningkat tinggi pada kondisi peradangan kronis dan berperan besar dalam merusak sel kelenjar air liur. Penurunan ini menunjukkan bahwa AMSC-MPs mampu menekan proses inflamasi yang menjadi akar permasalahan. Menariknya, respon tidak langsung muncul pada hari ke-3, sehingga dapat diasumsikan bahwa AMSC-MPs membutuhkan waktu untuk berintegrasi dengan jaringan dan memicu perbaikan.
Sebaliknya, sitokin anti-inflamasi IL-10 meningkat lebih cepat, sudah terlihat sejak hari ke-3 dan terus meningkat hingga hari ke-10. IL-10 dikenal sebagai mediator penting yang menghentikan peradangan dan membantu menyeimbangkan kembali lingkungan jaringan. Hal yang sama terlihat pada TGF-β, sebuah faktor yang berperan dalam penyembuhan dan regenerasi jaringan. Peningkatan TGF-β sejak hari ke-3 menunjukkan bahwa AMSC-MPs tidak hanya meredakan peradangan, tetapi juga secara aktif memulai proses perbaikan kelenjar air liur, termasuk perkembangan kembali sel acinar dan perbaikan saluran duktus yang bertanggung jawab terhadap produksi air liur.
Secara keseluruhan, penelitian ini mengungkap bahwa AMSC-MPs memiliki potensi besar sebagai terapi regeneratif untuk disfungsi atau kerusakan pada kelenjar saliva pada penderita diabetes. Terapi ini bekerja dengan menekan peradangan kronis yang merusak kelenjar sekaligus merangsang proses penyembuhan yang dapat memulihkan struktur dan fungsi kelenjar. Pendekatan ini jauh lebih menjanjikan dibanding terapi konvensional yang hanya mengatasi gejala tanpa memperbaiki jaringan yang rusak.
Meski penelitian ini masih berada pada tahap eksperimental, terutama menggunakan model tikus, hasilnya menunjukkan arah baru dalam menangani mulut kering akibat diabetes. Jika kelak dikembangkan lebih lanjut, AMSC-MPs berpotensi menjadi terapi yang aman, efektif, dan tersedia secara luas untuk membantu jutaan penderita diabetes yang mengalami gangguan produksi air liur.
Penulis
Prof. Diah Savitri Ernawati
Tulisan lebih lengkap dapat dibaca di
D.S. Ernawati, K. Puspasari, G.K Dewi, D. Radithia, N.F Ayuningtyas, R.K Bakti, S. Wicaksono, M.D.C Surboyo, M. Shrestha, A.P Nugraha, I.S. Ihsan, W. Riawan, A. Maharani, S.D Putri, A. Viany. Amnion mesenchymal stem cell metabolites reduce inflammation in diabetic salivary gland defect rat models. Journal of Oral Biology and Craniofacial Research. 2025.





