Depresi merupakan kasus yang terus berkembang dengan berkembangnya zaman Depresi merupakan penyumbang sepertiga kasus disabilitas dunia dimana pasien depresi ini dapat menyebabkan seorang pasien lebih rentan terserang penyakit tertentu dan dapat menjadi berat pada kasus tertentu. Pada kasus infeksi selaput dan jaringan otak dengan gejala awal gangguan psikiatri yaitu depresi. Bila kasus ini menyerang pada pasien depresi akhirnya membuat pasien menjadi sulit di diagnosis. Sehingga penting sekali mengetahui perubahan pada pasien psikiatri dengan depresi agar dapat terdeteksi dini penyakit infeksi selaput otak.
Angka kejadian infeksi virus yang menyerang selaput otak bekisar 3,5-7,4/100,000 orang. Kasus ini diakibatkan infeksi menembus sawar darah otak dan menyerang selaput otak, bila dibiarkan maka infeksi ini akan menyebar ke jaringan otak sekitar. Virus yang sering menjadi penyebab penyakit ini adalah virus herpes simpleks, virus herpes zoster, enterovirus, dan arbovirus.
Penegakan diagnosis secara sederhana dapat dilakukan melalui riwayat perjalanan penyakit, pemeriksaan fisik pasien, dan pemeriksaan penunjang. Riwayat perjalanan penyakit yang sering kita dapatkan adalah perubahan perilaku, dan gangguan sistem saraf pusat seperti kejang, kelemahan separuh tubuh, gangguan otot penggerak bola mata. Perubahan perilaku yang terjadi bisa pasien semakin menjadi depresi, tiba-tiba ada perilaku yang aneh, halusinasi penglihatan atau pendengaran , dan atau bisa menjadi agresif.
Pemeriksaan fisik yang khas biasanya kita dapatkan dengan panas, kaku kuduk positif, dan meningeal sign. Pemeriksaan penunjang pemeriksaan darah lengkap tidak terlalu bermakna. Pemeriksaan rutin yang dilakukan adalah pungsi lumbal yang menunjukan pleositosis ( peningkatan sel diatas 5 per 碌L yang dapat kita lihat >95% kasus. Penunjang radiologi dapat dilakukan Magnetic Resonance Imaging (MRI) atau CT scan kepala dengan kontras hanya menunjukan adanya penyengatan kontras, namun tidak dapat membedakan apakah penyebabnya virus atau bukan. Deteksi lebih spesifik dapat dilakukan dengan melakukan PCR.
Pengobatan yang diberikan pada kasus ini banyak membutuhkan perawatan intensif dan suportif. Pasien diberikan obat antivirus seperti asiklovir dengan dosis 10-15 mg/ kg secara intravena per 8 jam yang diberikan selama 14-21 hari.
Penanganan yang lama atau terlambat dapat menyebabkan disabilitas beruba gangguan sistem saraf, dimana yang paling tersering adalah gangguan psikiatri yang menetap. Maka dari itu perubahan dari pasien dengan gangguan kejiwaan depresi harus segera diketahui oleh keluarga dan diberikan pengobatan segera.
Informasi detail dari studi artikel ini dapat dilihat pada Jurnal Pharmacognosy Journal, 2022, Vol. 14, hal 455-458. Artikel dapat diakses melalui link berikut:
Rizki MF, Sugianto P, Maramis MM, Soetjipto. Viral Meningoencephalitis Patient with Comorbid Major Depression with Psychotic Symptoms: A Case Report. Phcogj.com Pharmacogn J. 2022;14(4): 455-458.





