Pada 29 Oktober 2020, World Health Organizations (WHO) melaporkan terdapat 44.351.506 kasus COVID-19 dengan jumlah kematian mencapai 1.171.255. Lebih dari tiga perempat individu yang dirawat di rumah sakit dengan COVID-19 mengalami komplikasi pada organ ginjal seperti cedera ginjal akut, proteinuria, hematuria, dan ketidakseimbangan elektrolit. Sebuah meta-analisis mengungkapkan bahwa konsentrasi natrium, kalium, dan kalsium yang rendah berkaitan dengan keparahan penyakit.
Penelitian mengungkap bahwa kadar natrium yang abnormal merupakan faktor risiko prognosis buruk pada pasien COVID-19. Kondisi hipernatremia memberikan risiko kematian 3,5 kali lebih besar dibandingkan dengan normonatremia. Pada banyak penyakit yang disebabkan oleh virus, ketidakseimbangan elektrolit terutama hipokalemia memiliki implikasi klinis yang signifikan dalam manajemen pasien dan berkontribusi pada mekanisme patogenesis COVID-19.
Diabetes Melitus (DM) tipe 2 merupakan salah satu penyakit penyerta yang paling banyak ditemukan pada pasien COVID-19. Sebuah studi meta-analisis mengungkapkan DM, usia, dan hipertensi adalah faktor risiko keparahan dan kematian COVID-19 selain obesitas. DM tipe 2 menyebabkan gangguan keseimbangan elektrolit seperti hiponatremia, hiperkalemia, dan hypomagnesemia. Hiponatremia, hipomagnesemia, dan hipokalsemia juga berkaitan dengan COVID-19 yang lebih parah dan memerlukan perawatan ICU.
Pasien dengan DM tipe 2 cenderung mengalami hiperkalemia lebih sering karena redistribusi ke dalam cairan intravaskular, sedangkan COVID-19 menyebabkan hipokalemia akibat peningkatan ekskresi K+ melalui urin. Ketidakseimbangan elektrolit yang terjadi pada pasien COVID-19 dengan komorbiditas DM Tipe 2 berpotensi meningkatkan risiko kematian atau penyakit COVID-19 yang lebih parah.
Berdasarkan dari gambaran di atas, peneliti dari Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran, RSUD Dr. Soetomo, 51¶¯Âþ berhasil mempublikasikan hasil penelitiannya di salah satu jurnal Internasional, yaitu Gaceta Medica de Caracas. Penelitian dilakukan untuk mengetahui gambaran kadar elektrolit serum dan kecenderungannya terhadap tingkat keparahan pasien COVID-19 dengan komorbiditas DM tipe 2 di RSUD Dr Soetomo Surabaya.
Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian deskriptif retrospektif dengan menggunakan data sekunder berupa rekam medis pasien COVID-19 dengan komorbiditas DM Tipe 2 yang dirawat di RS Dr. Soetomo Surabaya periode April sampai September 2020. Peneliti melihat distribusi keparahan berdasarkan dua aspek yaitu nilai laboratorium dan kadar elektrolit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien dengan tingkat keparahan kritis banyak ditemukan pada mereka yang mempunyai kadar gula darah acak ≥200 mg/dL, SGOT/AST >35µ/L, SGPT/ALT >45 µ/L, albumin <3,5 g/Dl, BUN >20 mg/dl, kreatinin serum >1,2 mg/dL dan eGFR 30-59 mL/menit serta beberapa mempunyai eGFR 90 mL/menit.
Hasil dari penelitian ini juga mengungkapkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan dalam tingkat keparahan antara pasien hiponatremia dan natrium normal (normonatremia). Kondisi hiponatremia didominasi oleh pasien kritis sedangkan, normonatremia didominasi oleh pasien ringan. Kondisi hipernatremia tidak menunjukkan pengaruh terhadap keparahan penyakit.
Serum klorida normal didominasi oleh tingkat keparahan pasien yang ringan. Sama halnya dengan kadar natrium, penurunan kadar kalium menyebabkan jumlah pasien kritis meningkat sedangkan dengan kadar kalium normal dan tinggi lebih banyak pasien pada derajat ringan, Membandingkan jumlah pasien dengan hipokloremia dan klorida normal, peneliti menemukan bahwa klorida, pasien kritis lebih tinggi dalam kondisi hipokloremia. Kesimpulan dari penelitian adalah tingkat keparahan COVID-19 pada pasien dengan komorbiditas DM Tipe 2 dipengaruhi oleh nilai laboratorium dan perubahan elektrolit. Peningkatan nilai laboratorium dan penurunan kadar elektrolit diikuti dengan peningkatan keparahan COVID-19 menuju tingkat kritis.
Penulis: Soebagjo Adi Soelistijo, dr, Sp.PD-KEMD.FINASIM.
Link Jurnal:





