SAR-CoV-2 adalah virus RNA yang menyebar diberbagai Dunia dan menyebabkan adanya pandemi COVID-19. Sejak penemuannya pada tahun 2019, SARS-CoV-2 masih menjadi berita utama. Hingga September 2023, lebih dari 770 juta kasus COVID-19 dan 6,9 juta kematian dilaporkan kepada Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). WHO menetapkan SARS-CoV-2 Omicron (B.1.1.529) sebagai varian yang memberikan bahaya yang serius pada November 2021. Varian ini pertama kali dilaporkan di Afrika Selatan, tetapi dengan cepat menyebar dan menjadii varian SARS-CoV-2 yang mendominasi secara global. Virus Omicron terus berevolusi secara genetik. Adanya variasi genetik Omicron berkaitkan dengan perubahan dalam transmisi virus, virulensi, dan kemampuan imun tubuh untuk menghindari infeksi alami atau vaksinasi.
Virus SARS-CoV-2 dapat berevolusi yang merupakan bentuk pertahanan diri virus terhadap obat atau zat kimia yang bertujuan untuk melemahkan atau membunuhnya. Amicron dan sub variannya merupakan varian bertangung jawab terhadap infeksi yang telah terjadi. Analisis filogenetik menunjukkan keberadaan varian lainnya antara varian Omicron dan Delta, yang mungkin belum terdokumentasi. Analisis PCR polimerase debngan reverse-transcriptase quantitative polymerase chain reaction (RT-qPCR) dapat digunakan untuk mengidentifikasi varian baru secara akurat.
Secara ummu virus RNA mudah sekali bermutasi. Adanya mutasi yang terjadi pada Omicron dan sub-variannya. Tingkat mutasiyang tinggi mempengaruhi tingkat keganasan virus.
Beberapa artikel juga membahas respon imun terhadap infeksi SARS-CoV-2, yang mengungkapkan beberapa imun sistem yang dipengaruhi oleh infeksi ini yang selajutnya dapat mempengaruhi keparahan penyakit dan dapat digunakan sebgai penanda serologis
Diantara virus Omicron, beberapa varian dan subvarian diklasifikasikan sebagai “varian yang dipantau” sesuai dengan panduan terbaru yang dikembangkan oleh WHO. Untuk sementara ini, BA.2.86 dan XBB.1.1, bentuk rekombinan dari turunan BA.2, yang mendominasi penyebaran. Sedangkan, EG.5 (Eris) menyumbang 25% dari kasus baru. Varian EG.5 berasal dari subvarian XBB.1.9.2. Namun, varian tersebut mengandung mutasi FLip tambahan, Phe456Leu, dan subvariannya, EG.5.1, memiliki mutasi protein spike lainnya (Q52H). Oleh karena itu, pseudovirus dapat menjadi instrumen penting dalam mengeksplorasi signifikansi mutasi-mutasi tersebut.
Sehingga dapat disimpulkan bahawa SARS-CoV-2 akan terus berevolusi, dan menjadi ancaman wabah virus akan selalu ada. Virus ini telah menunjukkan kemampuan luar biasa untuk bermutasi dan menghasilkan varian baru, dan telah terbukti sebagai virus patogen yang sangat adaptif dan evolusioner, yang dapat mengancam kesehatan masyarakat. Sifat SARS-CoV-2 yang terus berubah menekankan pentingnya pengawasan yang berkelanjutan, strategi vaksinasi, dan respons kesehatan masyarakat yang dapat beradaptasi untuk mengatasi ancaman dinamis ini.
Penulis: Tutik Sri Wahyuni, SSI. MSi. PhD
Dept. Ilmu kefarmasian, Fakultas Farmasi, 51动漫
Scopus ID/link : (https://www.scopus.com/authid/detail.uri?authorId=29167652500)
Link Jurnal:





