51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Mengapa Angka Ketahanan Hidup Pasien Osteosarkoma di Indonesia Masih Rendah?

Potensi Hidroksiapatit-Gelatina sebagai Scaffold untuk Rekayasa Jaringan Tulang
ilustrasi tulang (foto: DokterSehat)

Osteosarkoma adalah kanker tulang ganas yang paling sering ditemukan pada anak dan remaja. Meski termasuk kanker langka, penyakit ini memiliki dampak besar karena menyerang tulang panjang yang sedang aktif tumbuh, seperti paha dan tulang kering. Secara global, kemajuan pengobatan membuat angka harapan hidup lima tahun dapat mencapai 60“70 persen. Namun, bagaimana kondisi di Indonesia?

Sebuah penelitian di RSUD Dr. Soetomo Surabaya memberikan gambaran terbaru tentang perjalanan penyakit osteosarkoma di Indonesia selama enam tahun terakhir, dari 2018 hingga 2023. Penelitian ini melibatkan 175 pasien, menjadikannya salah satu studi terbesar di tingkat nasional.

Temuan Utama: Median Kelangsungan Hidup Hanya 4 Bulan

Hasil penelitian ini cukup mengejutkan. Median overall survival (OS) dan event-free survival (EFS) untuk seluruh pasien tercatat hanya 4 bulan. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan laporan internasional maupun beberapa pusat kanker nasional lainnya. Peneliti menjelaskan bahwa rendahnya angka ini dapat dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya tingginya tingkat pasien yang hilang kontak (lost to follow-up), mencapai hampir 83%.

Limb Salvage vs Amputasi: Hasilnya Tidak Berbeda Signifikan

Dua pilihan operasi utama untuk osteosarkoma adalah:

  • Limb Salvage Surgery (LSS): mengangkat tumor sambil mempertahankan tungkai.
  • Amputasi: mengangkat seluruh segmen tulang yang terkena.

Dalam penelitian ini, pasien yang menjalani LSS memiliki median EFS 7 bulan, sedikit lebih lama dibanding amputasi (4 bulan). Namun, perbedaan ini tidak signifikan secara statistik, terutama karena data pasien yang tidak lengkap.

Hal menarik lainnya, tingkat kekambuhan justru lebih tinggi pada pasien LSS. Namun, ini dapat disebabkan oleh faktor lain seperti stadium penyakit yang lebih berat atau terapi yang tidak tuntas.

Kemoterapi Membantu, Tapi Belum Optimal

Secara teori dan berdasarkan penelitian global, kemoterapi”baik sebelum operasi (neoadjuvan) maupun sesudahnya (adjuvan)”sangat menentukan keberhasilan terapi osteosarkoma. Pada studi ini, pasien yang mendapat neoadjuvan memiliki median EFS lebih baik (6 bulan) dibandingkan yang tidak (4 bulan), walaupun perbedaan ini juga tidak signifikan.

Masalah utama kembali pada ketidaklengkapan terapi: banyak pasien yang tidak menyelesaikan seluruh rangkaian kemoterapi, sebagian karena kendala finansial, jarak, atau efek samping.

Tantangan Terbesar: Deteksi Dini dan Ketepatan Terapi

Penelitian ini menegaskan bahwa tantangan terbesar pengelolaan osteosarkoma di Indonesia bukan hanya pada teknik operasi atau ketersediaan obat, melainkan:

  • keterlambatan diagnosis,
  • keterbatasan akses ke pusat layanan kanker,
  • ketidaklengkapan terapi,
  • tingginya angka putus kontak,
  • minimnya data jangka panjang.

Harapan ke Depan

Meski angka ketahanan hidup dalam studi ini masih rendah, hasil ini memberikan pijakan penting untuk memperbaiki sistem pelayanan kanker tulang di Indonesia. Upaya seperti memperluas akses kemoterapi, memperkuat sistem pemantauan pasien, serta edukasi deteksi dini akan sangat berpengaruh terhadap peningkatan angka harapan hidup.

Dengan perbaikan berkelanjutan, diharapkan masa depan penanganan osteosarkoma di Indonesia akan semakin baik, terutama bagi pasien muda yang sangat membutuhkan kesempatan hidup optimal.

Penulis : Randy Susanto, Ferdiansyah Mahyudin, Mohammad Hardian Basuki
Judul Artikel : Survival rate and clinical outcome of the osteosarcoma patient from 2018 to 2023 in Indonesia
Jurnal : Journal of Medicinal and Pharmaceutical Chemistry Research
Tautan :

AKSES CEPAT