Diabetes mellitus terus menjadi salah satu tantangan kesehatan terbesar di Indonesia, dan salah satu kunci paling penting dalam pengelolaannya adalah pemantauan gula darah secara rutin. Pemeriksaan gula darah puasa bulanan dan tes HbA1c setiap enam bulan seharusnya menjadi standar perawatan bagi peserta Prolanis. Namun sebuah penelitian kualitatif yang dilakukan oleh tim dari Fakultas Farmasi UNAIR di Banjarmasin mengungkap kenyataan bahwa praktik di lapangan jauh lebih kompleks daripada sekadar menjalankan prosedur medis. Melibatkan dokter, apoteker, petugas BPJS, serta pasien diabetes, penelitian ini menyoroti berbagai hambatan dan faktor pendukung yang menentukan keberhasilan monitoring gula darah.
Salah satu temuan paling menonjol adalah ketidakhadiran pasien pada jadwal pemeriksaan. Banyak pasien yang mengutus anak atau anggota keluarga untuk mengambil obat, sehingga pemeriksaan tidak dapat dilakukan. Selain itu, akses transportasi yang sulit, terutama bagi pasien lansia atau yang memiliki disabilitas, membuat kunjungan rutin ke Puskesmas menjadi beban tersendiri. Sebagian pasien lain juga terhalang oleh jadwal kerja atau memilih membeli ulang obat lama di apotek tanpa konsultasi, karena dianggap lebih mudah. Kondisi ini menunjukkan bahwa akses fisik dan waktu menjadi hambatan besar dalam manajemen penyakit kronis.
Hambatan lain muncul dari proses pemeriksaan itu sendiri. Banyak pasien tidak dapat melakukan puasa sebelum pemeriksaan karena merasa lapar atau lemas saat menunggu di Puskesmas. Kurangnya pemahaman mengenai tata cara puasa dan risiko hipoglikemia membuat prosedur semakin sulit dijalankan. Selain itu, aspek emosional memainkan peran besar攎ulai dari ketakutan terhadap jarum, kecemasan melihat hasil tinggi, hingga kekhawatiran dimarahi tenaga kesehatan. Emosi negatif seperti ini sering diabaikan, padahal berkontribusi signifikan pada rendahnya kepatuhan pemeriksaan.
Di sisi lain, pemeriksaan mandiri (SMBG) yang seharusnya membantu, justru tidak selalu berhasil. Banyak pasien tidak memiliki glucometer atau strip tes karena alasan biaya, alat rusak, atau kurang motivasi. Bahkan ketika pasien rutin mengecek gula darah di rumah, sebagian tidak melaporkan hasilnya kepada dokter, sehingga data tersebut tidak dapat digunakan untuk pengambilan keputusan terapi. Minimnya pengetahuan mengenai pentingnya pemeriksaan, termasuk fakta bahwa BPJS menanggung tes HbA1c, juga membuat sebagian pasien merasa pemeriksaan tidak perlu dilakukan.
Meski begitu, penelitian ini juga menemukan sisi optimis bahwa sebagian besar pasien dan tenaga kesehatan memahami pentingnya pemeriksaan rutin. BPJS Kesehatan menyediakan akses pemeriksaan yang sebenarnya cukup mudah diakses, dan tenaga kesehatan aktif memberikan edukasi, menjadwalkan pemeriksaan, serta mendorong pasien agar memantau gula darah secara berkala. Sinergi antara dokter, apoteker, dan petugas BPJS terbukti menjadi faktor pendukung yang kuat dalam keberhasilan pemantauan gula darah.
Penelitian ini menunjukkan bahwa keberhasilan pengelolaan diabetes bukan hanya soal prosedur medis, tetapi juga soal perilaku pasien, akses layanan, komunikasi, dan dukungan emosional. Agar pemantauan gula darah dapat berjalan efektif, pendekatan yang lebih manusiawi, edukatif, dan terintegrasi diperlukan. Dengan memperhatikan hambatan ini dan memperkuat faktor pendukung, sistem kesehatan Indonesia berpotensi meningkatkan kualitas hidup pasien diabetes secara signifikan.
Penulis : Prof. Dr.apt. Umi Athiyah, MS
Link Artikel :





