51动漫

51动漫 Official Website

Mengapa Pasien Diabetes Sering Lupa Minum Obat? Mengungkap Hambatan Kepatuhan di Indonesia

Ilustrasi Diabetes Melitus. (sumber: Siloam Hospitals)
Ilustrasi Diabetes Melitus. (Foto: Siloam Hospitals)

Diabetes melitus tipe 2 kini menjadi salah satu penyakit kronis yang paling banyak dialami masyarakat Indonesia. Menurut International Diabetes Federation (IDF), jumlah penderita diabetes di Indonesia diperkirakan akan melonjak dari 18,6 juta orang pada tahun 2020 menjadi lebih dari 40 juta orang pada tahun 2045. Lonjakan ini menempatkan Indonesia dalam jajaran negara dengan jumlah pasien diabetes tertinggi di dunia. Salah satu tantangan terbesar dalam mengelola penyakit ini bukan hanya ketersediaan obat, melainkan kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat sesuai anjuran. Tanpa disiplin minum obat, kadar gula darah sulit dikendalikan, risiko komplikasi meningkat, dan kualitas hidup penderita pun menurun.

Penelitian terbaru yang dilakukan oleh tim dari Fakultas Farmasi 51动漫 dan STIKES ISFI Banjarmasin (Alfian dkk., 2025) berusaha memahami lebih dalam hambatan kepatuhan pasien diabetes tipe 2 terhadap pengobatan mereka. Penelitian ini melibatkan 455 pasien di 27 Puskesmas di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, dengan menggunakan Diabetes Medication Adherence Barriers Questionnaire (DMAB-Q). Hasil penelitian menunjukkan bahwa hambatan kepatuhan datang dari tiga sisi utama: obat, pasien, dan apoteker.

Dari sisi obat, banyak pasien berhenti mengonsumsi obat karena merasa gejalanya tidak langsung membaik. Ada juga yang terganggu oleh efek samping obat, serta kesulitan mengikuti aturan minum obat yang dianggap terlalu rumit. Tidak sedikit pasien yang lupa membawa obat saat bepergian sehingga melewatkan jadwal minum obat. Namun, penelitian ini menemukan bahwa hambatan terbesar justru datang dari sisi pasien. Banyak pasien tidak memahami tujuan pengobatan diabetes, sehingga ketika gejala dirasa hilang atau tubuh terasa lebih baik, mereka menghentikan obat secara sepihak. Sebagian pasien bahkan memiliki pandangan negatif terhadap obat, misalnya khawatir obat akan merusak ginjal, atau hanya minum obat bila disuruh apoteker. Lupa minum obat, rasa bosan karena harus minum obat setiap hari, serta perasaan terpaksa juga muncul sebagai penyebab kurangnya kepatuhan.

Sementara itu, dari sisi apoteker, hambatan yang menonjol adalah kesulitan pasien untuk berkonsultasi ketika menghadapi masalah terkait obat. Pasien hanya bisa bertanya saat berkunjung ke fasilitas kesehatan, dan hal ini membuat sebagian besar dari mereka tidak mendapat informasi atau pendampingan yang cukup. Padahal, peran apoteker sangat penting dalam memastikan pasien memahami cara penggunaan obat, manfaat, serta risiko jika obat tidak diminum secara teratur.

Temuan ini menunjukkan bahwa kepatuhan pasien diabetes tidak hanya dipengaruhi oleh aspek medis, melainkan juga faktor psikologis, sosial, dan edukasi. Edukasi yang berkelanjutan tentang pentingnya obat diabetes harus diperkuat agar pasien memahami bahwa obat tidak hanya diminum ketika merasa sakit, melainkan setiap hari untuk mencegah komplikasi jangka panjang. Di sisi lain, peran apoteker perlu dioptimalkan, misalnya dengan memanfaatkan layanan telepharmacy agar pasien lebih mudah berkonsultasi. Dukungan psikologis juga penting, sebab rasa bosan dan lelah minum obat jangka panjang dapat diatasi bila pasien mendapat motivasi dan dukungan dari tenaga kesehatan maupun keluarga.

Dengan demikian, jelas bahwa mengendalikan diabetes bukan hanya soal obat, tetapi juga soal kesadaran, pemahaman, dan kebiasaan pasien. Penelitian ini menegaskan bahwa faktor pasien adalah hambatan paling dominan dalam kepatuhan minum obat. Oleh karena itu, tenaga kesehatan perlu lebih fokus pada komunikasi yang efektif dan pendekatan edukatif, sementara pasien perlu menyadari bahwa disiplin minum obat merupakan investasi penting untuk hidup lebih sehat dan terhindar dari komplikasi.

Penulis: Umi Athiyah

Artikel bisa diakses di :  

AKSES CEPAT