Dalam masyarakat saat ini, wacana tentang keluarga telah berubah seiring dengan perubahan struktur masyarakat, sehingga nilai-nilai keluarga menjadi lebih cair. Definisi keluarga telah bergeser seiring berkembangnya keluarga baru dan meninggalkan sistem keluarga konvensional. Studi yang mengungkap wacana tentang keluarga ideal di kalangan remaja relatif jarang. Studi ini bertujuan untuk mengungkap wacana tentang keluarga ideal di kalangan Generasi Z dalam keluarga yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Studi ini penting karena pengalaman keluarga di masa kecil memengaruhi wacana tentang keluarga dan memengaruhi tindakan sosial di kemudian hari di masa dewasa.
Kekerasan dalam rumah tangga adalah praktik sosial. Pengalaman individu sebelumnya membentuk tindakan mereka. Pengalaman di masa kecil berdampak pada kehidupan mereka di masa dewasa. Dampak yang dialami tidak hanya memengaruhi individu secara emosional, tetapi juga psikologis dan sosial. Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan kekerasan akan menginternalisasi pola hubungan yang tidak sehat (Evans, Johnson, dan Garcia, 2020). Anak-anak ini akan tumbuh dalam situasi yang sulit mengendalikan stres, cenderung mengulangi pola hubungan yang beracun, dan memiliki kepercayaan diri yang rendah (Holt, 2022).
Kekerasan dalam rumah tangga berdampak negatif bagi korban dan anggota keluarga. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk memutus mata rantai kekerasan tersebut. Salah satu upaya untuk memutus mata rantai kekerasan tersebut adalah dengan tidak mereproduksi kekerasan pada generasi muda. Oleh karena itu, mengkaji wacana yang berkembang di kalangan anak muda dari keluarga yang pernah mengalami kekerasan dalam rumah tangga (keluarga di mana orang tua mereka mengalami kekerasan dalam rumah tangga) menjadi sangat penting. Dengan demikian, hasil penelitian ini dapat menambah literatur terkait wacana keluarga ideal di kalangan generasi Z yang berasal dari keluarga yang pernah mengalami kekerasan. Dengan memahami wacana mereka, dapat menghasilkan wawasan baru dalam membangun generasi muda yang bebas dari kekerasan. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan literatur di bidang studi keluarga dan gender.
Temuan penelitian mengungkapkan bahwa Generasi Z memiliki wacana spesifik tentang keluarga dan pasangan ideal, yang didefinisikan sebagai keluarga yang saling menghormati hak dan kewajiban, menciptakan kebahagiaan, menerima pasangan apa adanya, dan memiliki sikap penuh kasih sayang. Generasi Z percaya bahwa orang tua mereka bukanlah hubungan dan keluarga yang sempurna seperti yang mereka klaim. Bagi mereka, orang tua mereka jauh dari kategori dan standar keluarga ideal karena keluarga mereka senantiasa dipenuhi kekerasan dalam rumah tangga yang tiada henti.
Generasi Z dalam keluarga yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga memiliki wacana tersendiri mengenai keluarga dan pasangan ideal mereka. Persepsi Generasi Z terhadap keluarga dan pasangan ideal dipengaruhi oleh pengalaman mereka menghadapi kekerasan dalam keluarga yang kerap melakukan KDRT. Mereka memiliki wacana bahwa keluarga dan pasangan ideal terwujud ketika kedua pasangan memiliki saling pengertian dan toleransi yang memungkinkan mereka untuk menerima kekurangan satu sama lain, tidak menyakiti, dan menghindari konflik.
Generasi Z dalam keluarga yang mengalami KDRT yang menyaksikan ayah mereka melakukan kekerasan terhadap ibu mereka mendambakan dan mengharapkan model keluarga ideal yang harmonis dan tanpa kekerasan. Harapan mereka muncul karena mereka trauma dengan kekerasan yang dialami ibu mereka. Mereka tidak ingin KDRT terulang kembali dalam keluarga mereka. Mereka menganggap kekerasan sebagai pengalaman buruk dan merugikan korban dan keluarga mereka.
Studi ini menyimpulkan bahwa wacana tentang keluarga ideal yang berkembang di kalangan Generasi Z dipengaruhi oleh media sosial yang merupakan bagian dari keseharian mereka. Gulungan media, foto, dan video yang mereka tonton memengaruhi wacana mereka tentang keluarga ideal. Mereka berharap keluarga masa depan mereka adalah keluarga ideal yang harmonis tanpa kekerasan. Studi ini juga menemukan bahwa wacana tentang keluarga ideal di kalangan perempuan Generasi Z lebih bervariasi dibandingkan laki-laki Generasi Z.
Wacana tentang keluarga dan pasangan ideal pada perempuan Generasi Z berfokus pada aspek ekonomi, psikologi, kesetaraan gender, kenyamanan, dukungan pasangan, dan kemandirian. Sementara itu, laki-laki Generasi Z menekankan kenyamanan, dukungan karier, dan pengembangan diri tanpa mengurangi kedekatan emosional. Mereka juga belum sepenuhnya terbuka terhadap kesetaraan gender, karena masih ada pengaruh orang tua atau keluarga besar. Hal ini menunjukkan bahwa esensi patriarki masih ada di masyarakat. Hasil studi ini berkontribusi pada literatur studi keluarga dan gender. Studi ini menghasilkan wawasan baru untuk membangun generasi tanpa kekerasan. Studi ini merupakan upaya untuk memerangi ranah kekerasan dalam rumah tangga guna mewujudkan kesetaraan gender, keadilan, dan inklusi sosial dalam keluarga.
Penulis: Prof. Dr. Siti Mas’udah, S.Sos., M.Si.
Informasi detail artikel: https://scholar.unair.ac.id/en/publications/discourse-on-ideal-family-among-generation-z-in-families-experien





