
Emisi metana (CHâ‚„) dari Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sampah merupakan salah satu komponen penting dalam kajian pemanasan global. Gas ini terbentuk dari pembusukan sampah organik dan memiliki potensi pemanasan yang lebih besar dibandingkan karbon dioksida. Dalam upaya mengejar target nol emisi, kemampuan untuk menghitung emisi metana secara akurat menjadi langkah awal yang sangat krusial. Namun, Indonesia masih menghadapi tantangan besar karena belum tersedianya sistem pemantauan dan penghitungan emisi metana TPA yang terintegrasi secara nasional.
Sebuah studi terbaru melakukan analisis komparatif di dua lokasi, yaitu TPA Griyomulyo dan TPA Sekoto, untuk menguji keandalan empat model perhitungan yang umum digunakan secara internasional: IPCC, LandGEM, Afvalzorg, dan Thailand Model. Hasil kajian menunjukkan bahwa model LandGEM dan Thailand relatif lebih fleksibel karena memungkinkan penggunaan data spesifik lokasi. Sementara itu, model IPCC memiliki keterbatasan dalam penyesuaian terhadap kondisi lokal. Meski demikian, keempat model tersebut masih menghadapi tantangan dalam mencerminkan kondisi riil emisi metana di Indonesia secara presisi.
Perbedaan hasil perhitungan terlihat jelas pada proyeksi emisi tahun 2025 di TPA Griyomulyo. Model memperkirakan emisi metana berada pada kisaran 6.414 hingga 9.952 ton per tahun. Sebagai perbandingan, pengukuran langsung di lapangan menunjukkan nilai sekitar 47,65 ton per tahun. Hasil pengukuran lapangan ini perlu disikapi secara hati-hati karena masih terbatas dari sisi jumlah pengamatan dan cakupan area. Temuan ini menunjukkan bahwa baik pendekatan berbasis model maupun pengukuran fisik sama-sama memiliki keterbatasan dan memerlukan penyempurnaan.
Sebagai salah satu kontribusi utama, penelitian ini menyusun basis data laju peluruhan sampah yang disesuaikan dengan kondisi iklim Indonesia. Dengan mengolah data curah hujan dari 164 stasiun cuaca di berbagai wilayah, Indonesia diklasifikasikan ke dalam tiga zona iklim (K1“K3). Basis data ini menyediakan parameter yang lebih kontekstual dibandingkan penggunaan nilai baku internasional.
Secara keseluruhan, studi ini menjadi pijakan awal bagi pembangunan sistem inventarisasi emisi metana nasional yang lebih andal. Melalui riset lanjutan dan penyempurnaan metode, Indonesia berpeluang membangun pelaporan emisi yang semakin presisi serta mendukung strategi mitigasi perubahan iklim yang realistis dan berbasis data.
Penulis: Dr. Eng. Nita Citrasari, S.Si., M.T.





