51动漫

51动漫 Official Website

Mengeksplorasi Peran IL-17 pada Infeksi Staphylococcus aureus

Ekospesies Purba dari Helicobacter Pylori
Sumber: Merdeka.com

Staphylococcus aureus (S. aureus) merupakan bakteri gram positif yang dapat ditemukan pada kulit dan membran mukosa, dan merupakan mikroflora normal manusia. Pada individu imuno-kompeten, bakteri ini tidak menimbulkan penyakit. Akan tetapi, pada individu dengan gangguan sistem imunitas, S. aureus diasosiasikan dengan beberapa kondisi patologis, antara lain infeksi kulit, pneumonia, endokarditis, dan toxic shock syndrome.

Belakangan ini, salah satu isu penting di bidang kesehatan adalah munculnya strain bakteri yang resisten terhadap antibiotik; salah satunya adalah methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA). Infeksi MRSA memerlukan perhatian penting, karena pilihan terapi menggunakan antibiotik yang dapat diberikan untuk menangani infeksi menjadi semakin sempit. Pengembangan strategi terapeutik baru untuk penanganan infeksi MRSA sangat diperlukan.

Imunoterapi, suatu strategi pengobatan penyakit dengan modulasi sistem imun, merupakan salah satu strategi yang dapat dikembangkan untuk mengatasi infeksi MRSA. Sitokin, suatu protein kecil yang berperan penting dalam pensinyalan sel imun, dapat menjadi salah satu kandidat imunoterapi. Interleukin 17 (IL-17) merupakan sitokin pro-inflamasi yang berperan dalam berbagai infeksi, inflamasi, dan penyembuhan luka, termasuk pada infeksi S. aureus. Eksplorasi yang dilakukan oleh Yosephi dkk dengan metode scoping review, menggaris-bawahi beberapa faktor virulensi S. aureus, meliputi staphylokinase; staphylococcal complement inhibitor, enterotoksin A, inhibitor peroksidase, dan superantigen-like 13; S. aureus chemotaxis inhibitory protein; Panton-Valentine dan AB leukocidin; 纬-haemolysin CB; staphopain A; FPRL1 inhibitory protein, iron-regulated surface determinant system; dan koagulase.

Dari berbagai macam sitokin yang dihasilkan oleh sel imun manusia, IL-17 diketahui memiliki respon inflamasi yang poten terhadap berbagai faktor virulensi S. aureus. Respon IL-17 tersebut meliputi induksi faktor granulopoiesis, kemokin neutrophil-specific, mediator respons fase akut, dan matrix metalloproteinases. Interleukin-17 juga berperan dalam meningkatkan rekrutmen neutrofil, sitokin pro-inflamasi, dan host defense peptides saat terjadi infeksi S. aureus. Bersama dengan IL-22, IL-17 mengorkestrasi pertahanan pada keratinosit. Imunoterapi dengan target IL-17 berpotensi untuk dikembangkan untuk manajemen infeksi S. aureus pada manusia, utamanya ketika terjadi infeksi MRSA.

Penulis: NLA Megasari

Artikel penuh dapat dilihat pada laman:

Yosephi et al. The Role of Interleukin-17 in Staphylococcus aureus Skin Infection: A Scoping Review. Malaysian Journal of Medicine and Health Sciences. 2025;21(2): 240-247.

AKSES CEPAT