Arteriovenous Malformation (AVM) serebral merupakan suatu kelainan pembuluh darah otak dimana terjadi untaian pembuluh darah yang displastik, terdiri atas nidus yang divaskularisasi oleh satu atau lebih arteri, terkoneksi dengan satu atau lebih drainase vena, tanpa perantara pembuluh darah kapiler. Hal ini menyebabkan terjadinya shunting darah dari pembuluh arteri ke vena dengan aliran yang cepat dan resistensi vaskular yang rendah.
Jarangnya kasus AVM serebral membuat terbatasnya data epidemiologi AVM di Indonesia. Hingga saat ini, prevalensi dan insidensi terjadinya AVM masih belum diketahui dengan pasti. Studi di luar negeri melaporkan bahwa AVM serebral seringkali dijumpai pada usia muda dan laki-laki. Gambaran klinis dari AVM serebral juga tidak khas, dimana AVM serebral dapat memiliki gejala klinis berupa perdarahan otak, kejang, nyeri kepala kronik, hingga munculnya gejala neurologis fokal.
Kami mempublikasikan sebuah studi terkait AVM serebral di World Neurosurgery:X (). Pada studi ini, kami mengevaluasi data pasien dengan AVM serebral di RSUD Dr. Soetomo selama 8 tahun dan mendapatkan total 92 pasien. Seluruh pasien yang memenuhi kriteria inklusi akan dilakukan pengumpulan data demografi, presentasi klinis awal, dan gambaran AVM serebral dari hasil pemeriksaan Digital Subtraction Angiography (DSA) serebral 3 dimensi. Untuk penelitian ini, kami berfokus pada perbedaan temuan klinis dan gambaran AVM serebral antar jenis kelamin.
Studi ini menemukan bahwa AVM serebral dijumpai lebih banyak pada laki-laki (57.6%) dibandingkan perempuan; serta terdiagnosis paling banyak sebelum dekade ke-4. Berdasarkan jenis kelaminnya, kami mendapatkan tidak ada perbedaan rerata usia saat diagnosis AVM serebral antara laki-laki dan perempuan. Studi ini menemukan bahwa laki-laki lebih banyak mengalami kejang (52.8% vs 30.8%), sedangkan perempuan lebih banyak mengalami nyeri kepala (69.2% vs 41.5%).
Pemeriksaan DSA serebral 3 dimensi dilakukan untuk memberikan gambaran yang akurat terhadap fitur angioarsitektur dari AVM. Metode pemeriksaan ini merupakan baku emas yang jauh lebih akurat bila dibandingkan dengan pemeriksaan Computed Tomography Angiography (CTA) ataupun Magnetic Resonance Angiography (MRA).
Studi ini menemukan bahwa pasien pria cenderung memiliki ukuran AVM yang lebih besar, dan lebih sering berada di area otak yang 渆loquent yaitu bagian otak yang bertanggung jawab atas fungsi penting seperti bicara atau gerakan. Hal ini menyebabkan skor Spetzler-Martin pada pria lebih tinggi, yang menunjukkan AVM yang lebih kompleks dan berisiko. Tidak ada perbedaan signifikan antar jenis kelamin pada temuan fitur angioarsitektur AVM lainnya seperti lokasi dari nidus AVM, tipe AVM, feeding artery AVM, dan drainase vena AVM.
Temuan ini menunjukkan bahwa AVM pada pria mungkin lebih kompleks dan berpotensi lebih berbahaya, yang dapat memengaruhi strategi pengobatan dan penilaian risiko. Menariknya, meskipun terdapat perbedaan tersebut, penelitian ini tidak menemukan bahwa pria lebih sering mengalami perdarahan dibanding wanita. Temuan ini berbeda dengan beberapa penelitian sebelumnya yang menyebutkan bahwa perdarahan AVM lebih sering dijumpai pada pria dibandingkan perempuan.
Studi ini merupakan penelitian epidemiologi AVM serebral pertama di Indonesia yang menggunakan pemeriksaan DSA serebral 3 dimensi untuk mengevaluasi fitur angioarsitektur dari AVM serebral. Walaupun demikian, terdapat beberapa keterbatasan dari studi ini, antara lain, kemungkinan bias seleksi karena rumah sakit tersier dengan kecenderungan menangani kasus rujukan kompleks, dan sebagian besar pasien datang dengan gejala. Perbedaan akses layanan kesehatan dan pola rujukan di berbagai wilayah juga dapat memengaruhi hasil.
Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan adanya kemungkinan hubungan antara jenis kelamin dan karakteristik AVM. Namun, studi lanjutan dengan jumlah pasien yang lebih banyak dan melibatkan banyak senter pelayanan kesehatan di Indonesia diperlukan untuk memperjelas hubungan tersebut. Hal ini dapat membantu dokter memprediksi derajat AVM yang dialami pasien dan menyesuaikan perawatan berdasarkan jenis kelamin dan gejala awal pasien.
Penulis: Jovian Philip Swatan, Achmad Firdaus Sani
Informasi detil dari studi ini dapat diakses di:
Swatan JP, Islamiyah WR, Sani AF, Kurniawan D, Husain S. Initial Clinical Presentations and Morphological Characteristics of Cerebral AVM in a Tertiary Health Center揇oes Gender Matter?. World Neurosurgery: X. 2025 Apr 30:100475.





