Pandemi COVID-19 membawa perubahan besar dalam kehidupan anak-anak di seluruh dunia. Sekolah ditutup, ruang bermain dikunci, dan aktivitas fisik menurun drastis. Di tengah perubahan ini, muncul kekhawatiran baru”terutama bagi anak-anak dengan penyakit kronis seperti Diabetes Melitus Tipe 1 (DMT1). Namun, apakah perubahan aktivitas selama pandemi berdampak nyata terhadap pengendalian kadar gula darah mereka?
Studi kami dari Divisi Endokrin, Departemen Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran 51¶¯Âþ dan RSUD Dr. Soetomo bertujuan menjawab pertanyaan tersebut. Studi ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara aktivitas fisik dan kadar HbA1c (penanda rata-rata gula darah selama 2“3 bulan terakhir) pada anak-anak dengan DMT1 sebelum dan sesudah pandemi.
DMT1 adalah penyakit autoimun yang menyebabkan kerusakan sel beta pankreas sehingga tubuh tidak bisa memproduksi insulin. Anak-anak dengan kondisi ini harus bergantung pada insulin sepanjang hidup mereka. Salah satu parameter utama yang digunakan untuk mengukur pengendalian diabetes adalah kadar HbA1c”penanda rata-rata kadar glukosa dalam darah selama 2-3 bulan terakhir.
Aktivitas fisik dipercaya dapat membantu mengontrol kadar gula darah dengan meningkatkan sensitivitas insulin. Namun, dalam konteks pandemi dan keterbatasan sumber daya seperti di Indonesia, pengaruh aktivitas fisik terhadap HbA1c masih belum jelas.
Desain dan Pelaksanaan Penelitian
Studi ini melibatkan 120 anak dengan DMT1 yang berobat di Poli Endokrin Anak RSUD Dr. Soetomo. Data dikumpulkan dalam dua periode yaitu saat pandemi COVID-19 (2020“2022) dan dua tahun setelah pandemi (2022“2024). Kami menggunakan kuesioner Physical Activity Questionnaire (PAQ) versi Indonesia yang sudah teruji validitas dan reliabilitasnya, serta mencatat kadar HbA1c masing-masing peserta.
Temuan Utama
Temuan ini menunjukkan: (1) Rata-rata kadar HbA1c menurun setelah pandemi (10,1% menjadi 9,77%), namuntidak signifikan secara statistik. Aktivitas fisik anak-anak tidak mengalami perubahan bermakna sebelum dan sesudah pandemi (p = 0,135). Tidak ditemukan hubungan langsungantara aktivitas fisik dan HbA1c, baik selama maupun setelah pandemi. Meski begitu, lebih dari 40% subjek tetap menunjukkan tingkat aktivitas ringan yang relatif konsisten, seperti bermain sepeda atau berenang.
Pesan untuk Masyarakat dan Akademisi
Hasil ini menyoroti kompleksitas pengelolaan DMT 1 pada anak, khususnya di negara berkembang seperti Indonesia. Aktivitas fisik tetap penting, namun bukan satu-satunya faktor yang mempengaruhi kendali glukosa. Dukungan keluarga, pengetahuan orang tua, serta akses terhadap insulin dan layanan kesehatan masih menjadi tantangan utama.
Bagi masyarakat akademik FK UNAIR, temuan ini memperkuat pentingnyaintervensi multidisiplinerdalam pengelolaan T1DM. Tidak cukup hanya menyarankan olahraga, tapi perlu edukasi komprehensif dan komunikasi yang intensif antara tenaga kesehatan, orang tua, dan sekolah.
Penelitian ini membuktikan bahwa meskipun tantangan besar di masa pandemi, riset di lingkungan lokal tetap dapat memberikan kontribusi signifikan bagi pengembangan ilmu kedokteran anak. Kami berharap hasil ini bisa menjadi pijakan untuk penelitian lanjutan mengenai intervensi gaya hidup, dukungan psikososial, dan efektivitas edukasi diabetes di Indonesia.
Mari terus kita kembangkan budaya riset dan pengabdian berbasis kebutuhan masyarakat, sesuai dengan semangat tridarma perguruan tinggi.
Penulis: Aditya Primadana
Untuk membca artikel lengkap, dapat melalui tautan berikut:





