Indonesia merupakan negara dengan potensi terumbu karang yang baik. Hal ini dikarenakan Indonesia memiliki panjang pantai lebih dari 81.000 km, lebih dari 17.508 pulau, dan luas terumbu karang sekitar 51.000 km2. Terumbu karang Indonesia juga dikenal salah satu yang paling beragam di dunia (16% dari total luas terumbu karang global ditemukan di Indonesia.
Terumbu karang memiliki peran penting dalam mempertahankan stok perikanan dan keanekargaman hayati di masa depan karena menjadi tempat bagi makhluk hidup di laut tinggal. Sayangnya, keberadaan terumbu karang di Indonesia dihadapkan pada berbagai macam ancaman. Salah satunya adalah penyakit Black Band Disease (BBD) atau dikenal dengan penyakit pita hitam pada karang.
BBD merupakan penyakit pada terumbu karang yang ditandai dengan terbentuknya warna hitam pita yang disebabkan oleh lapisan mikroba. Mikroba penyebab BBD adalah konsorsium cyanobacteria berfilamen yang berinteraksi dalam lesi karang. Terumbu karang yang terkena BBD akan mengalami polip nekrosis pada jaringannya dan menyebabkan kematian pada terumbu karang.
Metode dan Hasil
Artikel ini dihasilkan melalui konsep review paper. Artikel ini bertujuan untuk mengidentifikasi penyakit BBD yang pernah terjadi di Indonesia dan kemungkinan penanggulangan yang dapat dilakukan. Terdapat 29 kasus penyakit BBD yang terdokumentasi di Indonesia hingga saat ini.
Kasus BBD tersebut tersebar di Sumatera, Jawa, Sulawesi, NTT, dan Papua, dengan terumbu karang jenis Acropora dan Montipora menjadi yang paling sering terkena dampaknya. BBD ini terjadi pada terumbu karang karena infeksi dari patogen dan parasit yang awalnya disebabkan oleh kondisi karang yang stres/terluka akibat serangan bakteri.
Selain itu, kondisi alam seperti suhu, musim, kekeruhan, sedimentasi, dan total bahan organik, dan nutrisi di perairan ikut meningkatkan kemungkinan serangan BBD pada terumbu karang. Di Indonesia, puncak kelimpahan BBD pada karang dilaporkan pada masa peralihan antara musim kemarau dan musim hujan (Oktober-November) karena puncak suhu dan intensitas cahaya.
Beberapa peneliti juga mengemukakan kemungkinan faktor lain seperti aktivitas manusia yang membuang limbah ke dalam air, penggunaan perahu, budidaya ikan, dan penangkapan tidak ramah lingkungan akan menyebabkan penurunan kualitas air sehingga terumbu karang menjadi stres serta mudah terserang penyakit BBD.
Mengingat bahayanya bagi kelestarian lingkungan, maka sangat penting untuk memberikan perhatian yang lebih besar terhadap penyakit BBD di Indonesia. Rekayasa mikrobioma dapat dijadikan referensi untuk mengatasi penyakit BBD di Indonesua. Melalui review paper ini, penulis berharap masyakrat lebih meningkatkan kesadaran akan penyakit BBD dan menjaga keanekaragaman hayati laut di Indonesia.
Penulis: Putri Desi Wulan Sari, S.Pi., M.Si.
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:





