Indonesia, dibandingkan dengan negara-negara lain, memiliki jumlah populasi penyandang disabilitas yang relatif tinggi. Hal ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor, termasuk pengetahuan kesehatan yang terbatas, langkah-langkah keselamatan lalu lintas dan kerja yang tidak memadai, dan risiko bencana yang tinggi. Data dari Survei Sosial Ekonomi Nasional tahun 2018 mengungkapkan bahwa Indonesia menjadi tempat tinggal bagi 30,38 juta penyandang disabilitas atau 14,2 persen dari total populasi.
Penyandang disabilitas di Indonesia sering kali dipandang memiliki kelemahan bawaan dan disebut sebagai penyandang cacat, kelainan, dan berkebutuhan khusus. Mereka juga sering mengalami penolakan sosial dan stigmatisasi, yang menghambat kemampuan mereka untuk berinteraksi sosial.
Salah satu penentu utama yang memengaruhi sikap masyarakat terhadap penyandang disabilitas adalah informasi yang dapat diakses oleh masyarakat umum, khususnya yang disebarkan melalui berita. Bahasa yang digunakan dalam media memiliki pengaruh signifikan terhadap persepsi masyarakat pada penyandang disabilitas karena media berita pada umumnya berfungsi sebagai sumber informasi utama, berperan sebagai platform untuk meningkatkan kesadaran publik tentang masalah sosial dan konstruksi identitas untuk kelompok minoritas, termasuk mereka yang memiliki disabilitas.
Dalam konteks Indonesia, representasi media terhadap penyandang disabilitas sering kali menimbulkan stigma dan stereotip negatif, yang pada gilirannya dapat memperkuat sikap diskriminatif dalam masyarakat. Penyandang disabilitas seringkali digambarkan sebagai individu yang lemah, bergantung pada orang lain, dan tidak mampu berkontribusi secara produktif kepada masyarakat. Hal ini menciptakan siklus perpetuasi stigma dan diskriminasi yang sulit untuk dipecahkan.
Penelitian terbaru kami pada berita-berita daring di media-media besar Indonesia menemukan gambaran dominan penyandang disabilitas sebagai penerima manfaat dan objek, menunjukkan kecenderungan untuk memposisikan mereka sebagai penerima pasif daripada menonjolkan agensi dan partisipasi aktif mereka. Selain itu, individu dengan disabilitas juga secara konsisten dikaitkan dengan anak-anak, orang tua, dan wanita, yang menekankan kerentanan mereka. Representasi ini cenderung mengikuti model patologi sosial dari disabilitas.
Meskipun demikian, terdapat juga representasi penyandang disabilitas sebagai individu yang aktif dan dinilai positif dalam berita. Namun, representasi tersebut cenderung mengikuti model supercrip. Penggambaran positif sesekali tentang difabel dalam cerita berita inspiratif mungkin bisa dipandang sebagai langkah menuju inklusivitas, namun ketergantungan pada narasi supercrip tampaknya problematik karena hal ini dapat menciptakan harapan yang tidak realistis dan mengabaikan masalah sistemik yang perlu diatasi seperti aksesibilitas, diskriminasi, dan kurangnya dukungan sosial.
Dominasi model patologi sosial dalam teks berita Indonesia mungkin terkait dengan kebijakan yang mengatur individu disabilitas. Meskipun ada kesediaan di kalangan pembuat kebijakan Indonesia untuk menerapkan undang-undang yang sejalan dengan prinsip Konvensi tentang Hak Penyandang Disabilitas, terdapat kesenjangan yang signifikan dalam pemahaman praktis mereka terhadap prinsip-prinsip ini. Selain itu, faktor newsworthiness yang dapat memengaruhi penjualan media berita atau pendapatan iklan juga dapat mempengaruhi prevalensi model tradisional disabilitas dan kurangnya representasi progresif.
Namun demikian, perlu dicermati implikasi dari representasi ‘tradisional’ tersebut karena representasi ini berpotensi menghambat kemampuan difabel untuk memahami diri mereka secara akurat dan positif, mengarah pada penolakan identitas disabilitas mereka. Oleh karena itu, diperlukan keseimbangan dalam representasi penyandang disabilitas di media daring Indonesia. Untuk mencapai hal ini, media berita harus mempertimbangkan untuk mempublikasikan lebih banyak artikel berita yang menekankan agensi dan kemampuan orang-orang dengan disabilitas, serta memperluas rentang perspektif dari difabel, termasuk anak-anak dengan disabilitas, untuk mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang tantangan dan pandangan mereka.
Selain itu, peningkatan publikasi artikel berita yang menggunakan model progresif juga dapat memfasilitasi upaya advokasi yang bertujuan untuk meningkatkan kebijakan disabilitas dan mendorong inklusi sosial yang lebih luas. Dengan memperbanyak artikel berita yang mengikuti model progresif, media berita Indonesia dapat membentuk persepsi sosial yang lebih positif terhadap difabel, sehingga mempengaruhi pembuat kebijakan Indonesia untuk menerapkan kebijakan yang lebih efektif dan inklusif yang memenuhi kebutuhan penyandang disabilitas di Indonesia.
Dengan demikian, penting bagi media online Indonesia untuk memainkan peran yang lebih proaktif dalam memperbaiki representasi penyandang disabilitas, memastikan bahwa mereka diakui dalam segala keberagaman dan kelebihannya, serta mendorong masyarakat untuk memperlakukan mereka dengan hormat dan inklusif.
Penulis: Muchamad Sholakhuddin Al Fajri
Informasi detail dari artikel ini dapat dibaca lebih lengkap pada tautan publikasi ilmiah berikut:





